Cerita Anak : Kado Istimewa Untuk Silvi

Hobby menjahit membuat hoki bagi saya. Sudah 4 cerpen berhasil dimuat di Bobo bertema jahitan. Dan cerpen kali ini, cerpen hasil kelas Kurcaci Pos dengan Mas Bambang Irwanto. Masih ingat bagaimana betenya saya masuk kelas itu, banyak salah melulu. Sempat ngambek sama sang guru hehe. Akhirnya saya sadar, kalau yang disampaikan guru itu benar, cuma sayanya aja yang belum bisa terima. Setelah naskah diendapkan, dan mengikuti saran, tuh kan… Akhirnya cerpennya jadi dan semakin cantik.😀

Ilustrasinya cantik ya.

Ilustrasinya cantik ya.

 

KADO ISTIMEWA UNTUK SILVI

Oleh : Novia Erwida

Silvi menatap iri pada Salma. Lagi-lagi, Salma memakai baju baru. Kali ini Salma memakai terusan ungu dengan hiasan payet di sekeliling leher. Juga ada bunga-bunga besar yang menjuntai di sisi bawah gaun. Cantik sekali.

Salma pamer baju baru terus di setiap acara ulang tahun, batin Silvi

“Waaah…! Putri kerajaan sudah datang.” Goda Merry yang sedang berulang tahun.

Salma menyunggingkan senyum, menyalami Merry dan menyerahkan kadonya. “Selamat ulang tahun…”

“Terima kasih, Tuan Putri.” Jawab Merry sambil membungkukkan badan.

Teman-teman tertawa. Hanya Silvi yang diam saja. Bagi Silvi, Salma adalah anak yang suka pamer. Salma tidak menghargai teman-teman yang tidak bisa membeli baju baru seperti Silvi. Silvi memandang baju hijaunya. Ada sedikit robek di lengannya, tapi ibu sudah menisiknya.

Silvi pernah minta dibelikan baju yang baru. Ibu bilang belum punya uang. Jadi, di setiap acara ulang tahun, Silvi selalu memakai gaun hijaunya.

Silvi menghidari berdekatan dengan Salma. Dia tak mau bajunya tenggelam oleh gemerlap gaun Salma.

“Ini buatmu.” Salma mengambilkan sepotong cake cokelat buat Silvi.

“Terima kasih.” Jawab Silvi jawab Silvi tanpa senyum. Salma hanya heran melihat Silvi yang tidak ramah.

***

Ada undangan ulang tahun dari Mia. Silvi membolak-balik undangan itu. Dia ragu untuk datang. Ibu masih belum membelikan gaun baru. Baju yang ada di lemari, cuma kaos dan celana jeans. Tidak pantas dipakai untuk acara ulang tahun.

“Bu, kalau Mia tanya, bilang Silvi sakit ya.” Kata Silvi pada Ibunya.

“Lho? Kok Silvi menyuruh Ibu bohong?” sela Ibu.

Silvi menggigit bibir. Dia tak sanggup melihat Salma memakai gaun baru lagi. Silvi akan semakin benci dengan gaun hijaunya.

“Silvi, kan, enggak punya baju.” Jawabnya pelan.

“Yang hijau, kan, bagus? Kasihan Mia kalau kamu tidak datang.” Bujuk Ibu.

Sepertinya Silvi tetap harus berangkat ke acara itu. Ibu tak mau berbohong.

Silvi masuk ke kamarnya, lalu membuka lemari. Ada gaun ungu kak Sarah, masih bagus tapi kebesaran buat Silvi. Silvi mencobanya dan mematut-matut diri di depan cermin.

Bahu gaun itu jatuh sampai ke lengan. Bagian badannya kedodoran. Bagian bawah gaun, panjang sampai menyapu lantai. Tampak sekali kalau Silvi memakai gaun pinjaman. Mungkin beberapa tahun lagi, barulah gaun itu pas dipakai Silvi.

Silvi meneteskan air mata. Tak ada pilihan lain. Sekarang dia harus berangkat. Disambarnya gaun hijau dan berdandan sekedarnya. Tak lupa memakai bando berwarna emas. Pemberian Ibu sebulan yang lalu.

Silvi belajar menerima keadaan. Ia tak mau mengeluh. Kalau Ibu punya uang, pasti ia dibelikan baju baru. Sejak Ayah meninggal, Ibu menerima pesanan kue. Hasil penjualan kue Ibu tidak seberapa. Sejah subuh, Ibu selalu menyusun kue-kue dalam baki plastik untuk diantar ke warung-warung. Kadang Silvi dan Kak Sarah ikut membantu mengantarkan kue.

Silvi memasuki rumah Mia, matanya mencari-cari sosok Salma. Benar tebakan Silvi. Kali ini Salma memakai gaun pink yang lembut. Roknya mekar seperti putri raja. Gaun yang cantik, tidak seperti… Ah, Silvi kembali menyesali gaun hijaunya.

Ulang tahun Mia meriah. Ada games meletuskan balon dengan perintah lucu bagi yang terkena hukuman. Silvi menikmati permainan, sampai lupa soal gaunnya.

Tiba-tiba Mia bersorak. “Minggu depan kita pesta di rumah Silvi!”

“Asiiiik…” teman-teman yang lain bertepuk tangan meriah. Silvi tersenyum kecut. Minggu depan memang ulang tahunnya, tapi Silvi tak mungkin mengadakan pesta. Ibu tak punya uang untuk itu.

Salma mendekati Silvi. Silvi menjauh. Salma heran.

“Kenapa, Sil?”

“Bajumu bagus sekali. Aku malu di dekatmu.” Kata Silvi berbisik.

Salma tersenyum. “Ibuku tukang jahit, Sil. Baju ini dibuat dari kain sisa yang masih bisa dipakai. Pelanggan Ibu biasanya memberikan kain sisa baju mereka.” Jawab Salma.

Kening Silvi berkerut.

“Coba lihat, bagian atas dan bawah kainnya berbeda kan?”

Silvi memperhatikan. Benar. Hanya warnanya saja yang senada. Pasti Ibu Salma bekerja keras menjahit gaun itu sampai cantik begitu.

“Ibumu hebat.” Kata Silvi jujur.

Salma tersenyum. “Ibumu juga hebat. Aku suka kue buatan ibumu.” Jawab Salma.

Silvi tercenung mendengarnya.

Seminggu kemudian, Salma datang ke rumah Silvi membawa kado. Silvi kaget sekaligus senang.

“Aku tidak mengadakan pesta.” Kata Silvi.

“Aku tahu. Tapi bukalah kado ini.” Jawab Salma.

Jemari Silvi bergerak cepat karena penasaran. Setelah kado terbuka, Silvi terbelalak. Ada gaun baru berwarna biru.

“Terima kasih…” Silvi memeluk Salma. Silvi tahu ini berasal dari kain sisa. Tapi tak ada yang tahu selain Silvi, Salma dan Ibu Salma.

Silvi langsung memakai gaun itu. Pas dan tidak longgar seperti gaun Kak Sarah. Silvi berputar-putar. Hatinya sangat senang. Salma juga senang, dia sudah memberi kado yang dibutuhkan Silvi.

Silvi menarik tangan Salma ke meja makan. “Ibumu pintar menjahit, Ibuku pintar bikin kue. Ayo coba.” Kata Silvi sambil menyerahkan sepiring black forest pada Salma. Hanya kue itu sebagai simbol perayaan ulang tahun Silvi.

Salma mencolek krim, dan mengoleskan ke hidung Silvi. Silvi membalas. Hidung Salma berlepotan krim. Mereka tertawa bersama.

***

Bobo no 19. Terbit tgl 18 Agustus 2016

Bobo no 19. Terbit tgl 18 Agustus 2016

Cerpen ini juga diposting di grup Rumah Jamur Kurcaci.

Menulis Itu Harusnya….

“Aku capek.” keluhku pada Shabrina WS. Mood menulis menukik tajam, tak ada tulisan lahir 3 bulan belakangan. Dan aku merasa lelah menjadi penulis.

“Lho, kan dirimu lagi panen, Uni.” balasnya.

Memang, beberapa karya berderet muncul di Bobo saat aku sedang tidak aktif menulis. Jadi aku dianggap seorang penulis yang rajin, yang produktif dan tak pernah bosan menulis. Padahal saat itulah semangatku di titik nol, bahkan minus.

Setelah ditelusuri, aku capek karena niat menulisku sudah mulai berbelok arah.

“Jangan terlalu keras sama diri sendiri, uni.” nasehat manisnya akan selalu kuingat.

Iya, aku dan teman-teman merah jambu balapan karya selama tahun 2016 ini. Kami menulis karena target, siapa yang terbanyak, itulah pemenang. Dan ternyata, kompetisi seperti itu tak cocok dilakukan oleh emak-emak yang banyak maunya seperti aku. Melihat karya teman bermunculan di kanan kiri membuat aku memandang remeh diri sendiri. Aku juga ingin, tapi tak sanggup. tak punya waktu untuk menulis

“Ada masa untuk segala.” ini pasti peringatan karena masa panen hampir berakhir :p

Aku merasa bersalah karena suka nonton daripada nulis atau baca. “Aku malah sekarang suka download lagu.” akunya.

“Nikmati semua. Menulis itu untuk bersenang-senang, bukan malah bikin stres.” lanjutnya lagi.

Ini yang aku lupa. Dulu aku menulis karena aku ingin menulis. Sekarang aku menulis karena target, berasa mesin dan tulisanku hambar. Lalu aku menyalahkan keadaan, anak yang tak mau diam, waktu tersita untuk mengajar, mood tak kunjung muncul. Hiks.

Aku juga sedikit tertekan dengan genre tulisan yang berbeda-beda. Aku enjoy menulis cernak, dan mendadak kaku menulis cerdew atau artikel. Tapi di beberapa kelas, menuntut aku harus bisa semuanya. Dan karena mentalku setipis kulit ari, aku duluan takut dan tulisanku tak jadi-jadi.😦

“Jangan membandingkan diri sendiri  dengan orang lain, Uni.” nasehat Shabrina lagi.

“Kita emak-emak, waktu sudah habis tersita untuk keluarga. Rugi kalau galau.” sambungnya.

Hiks… Kalau saja Shabrina ada di depanku, mungkin sudah kupeluk erat karena dia sudah menunjukkan sesuatu yang tak terlihat di mataku. Iya, aku harus menulis karena hati. Target akan selalu ada. Kita harus bergerak mengikuti arus, tapi aku tak boleh lagi merasa tertekan, karena aku menyukai menulis.

Shabrina, aku akan selalu ingat, menulis itu untuk bersenang-senang. Terima kasih banyak.🙂

 

Berbagi Bersama Kelas Inspirasi Bukittinggi

Aku mendapat info pembukaan kelas inspirasi dari mbak Naqiyyah Syam. Ingin sih ada, tapi terbentur waktu dan kerjasama mengasuh Nurul selama aku tak di rumah. Aku tak mau berpikir panjang, langsung saja mendaftar tanpa bilang-bilang. Setelah dapat email bahwa aku lolos sebagai inspirator, baru aku bingung. Setelah diskusi sama suami, dan koordinasi dengan kakek neneknya Nurul, Alhamdulillah, aku bisa ikut dan mereka akan menjaga si kecil.

Sebenarnya kelas inspirasi tidak terlalu memberatkan, karena hanya sekali pertemuan. Tapi harus meluangkan waktu buat briefing, dan refleksi setelah kelas berlangsung. Mana pernah aku ninggalin Nurul lama-lama. Tapi demi bisa berbagi tentang profesi seorang penulis, aku ikut. Nggak nyangka, aku bertemu orang-orang hebat yang semangat berbagi. Mereka mengorbankan waktu, tiket PP antar pulau, akomodasi dengan modal sendiri. Aku juga harus jadi ibu kuat, bersedia jauh dari anak untuk bisa menginspirasi anak-anak lain.

Halo semua...! Nama saya Novia Erwida. Saya adalah seorang penulis.

. Halo semua…! Nama saya Novia Erwida. Saya adalah seorang penulis. Foto : Cindy

Aku dan beberapa teman ditempatkan di SDN 08 Tarok Dipo Bukittinggi. Sekolahnya bagus, muridnya banyak. Dan mereka sangat antusias menyambut kedatangan kami. Oya, yang datang ke sana tak cuma inspirator. Tapi ada fasilitator yang sudah rapat beberapa kali demi acara ini, dan dokumentator yang sibuk mengabadikan kegiatan ini. Kami baru saling mengenal, tapi sudah menjadi tim yang kompak. Semangat berbagi yang menyatukan.

Sedang mengenalkan majalah anak pada murid-murid

Aku sedang mengenalkan majalah anak pada murid-murid. Foto : Cindy

Masing-masing inspirator mendapat jatah mengajar di tiga kelas. Aku mengajar di kelas 4B, 3B dan 6B. Kelas 4 dan 3 sangat antusias, karena aku menyertakan majalah Bobo yang memuat cerpenku. Sampai di kelas 6, mereka nggak tertarik sama sekali. Rupanya sebelum aku masuk, sudah ada penulis lain yang masuk kelas itu. Yaah… Jualanku nggak laku, dong. -_-

Setelah dijelaskan kalau penulis itu banyak, baru mereka mulai tertarik. Kakak Amin yang masuk sebelumnya adalah penulis buku, sedangkan aku -ngakunya- penulis cerita anak. Bawa Bobo, bawa impian bahwa mereka tetap bisa menjadi apapun yang mereka inginkan, sambil menjadi penulis. Dokter, bidan, pilot, siapapun bisa jadi penulis dan menyampaikan ilmu mereka sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Para inspirator dkk. Foto : Budi Kurniawan

Para inspirator dkk.
Foto : Budi Kurniawan

Habis acara, kita foto-foto. Yang lucu, mereka minta tanda tangan pada semua inspirator. “Duh, nak… Kami bukan artis. Tapi demi melihat kalian senang, ayok sini… Mana pulpennya?”

Rame, kan? Foto : Budi Kurniawan

Rame, kan?
Foto : Budi Kurniawan

Oya, kelas ini baru pertama kali diadakan di Bukittinggi. Sudah ada beberapa ulasan media online mengenai ini.

  1. Berita saat briefing di sini
  2. Saat kelas berlangsung di sini
  3. Ulasanku di rumah jamur kurcaci pos

Beberapa teman adalah KI (Kelas Inspirasi) hunter. Mereka menyerbu tempat terjauh demi pengalaman yang tak terulang lagi. Tapi bagiku dengan anak balita, rasanya itu sulit. Buktinya, baru berpisah seharian saja, aku sangat kangeeen sama Nurul.

Emak lebay. ^_^

Foto-foto Kiara

Gadis no 10, 8-21 Mei 2016

Gadis no 10, 8-21 Mei 2016

FOTO-FOTO KIARA

Oleh : Novia Erwida

Percikan kedua yang dimuat

Percikan kedua yang dimuat

Namanya Kiara. Gadis berumur sepuluh tahun itu dititipkan tante Rani selama seminggu di rumahku. Sebagai anak tunggal, aku sangat senang bisa punya adik walau cuma seminggu. Kehadirannya lumayan menghapus galauku karena baru diputus Galang.

Sore itu Kiara sudah wangi memakai baju santaidan membawa kameranya di leher.

“Kak Adya, kita jalan-jalan ke taman bunga, yuk?” ajaknya.

Aku mengangguk. “Oke.” Jawabku. Aku selalu siap menjadi kakak yang baik buatnya.

Sepanjang jalan, dia memegang tanganku. Sesekali mengayun-ayunkannya. Sedikit menyadarkanku dari lamunan tentang Galang. Matanya berkerling jenaka. “Kakak ngelamun ya?” godanya. Aku balas dengan memajukan bibir.

Saat kami melewati penjual balon, aku menawarkan satu balon buat Kiara.

“Ih… Kakak. Emang Kiara anak TK?” gerutunya.

Aku menepuk dahi. Aku masih berpikir kalau Kiara adalah Tiara, sepupu Galang yang berumur 5 tahun, yang sering kubelikan balon.

“Ups… Sori. Kirain kamu suka.” Jawabku ngeles.

Kami sampai di taman bunga. Hamparan bunga warna warni memanjakan mata. Langsung aku mewanti-wanti Kiara.

“Ambil gambarnya hati-hati, jangan sampai terinjak bunganya. Jangan selfie sambil tiduran. Kalau mau tiduran di rumah aja.” Jelasku panjang lebar.

Kiara melongo memandangku.

“Kak, mau dikasi gambar yang cakep gak?” tanyanya sambil mencolek lenganku.

Aku mengangguk cepat, lalu bergaya minta difoto.

“Foto cakep, kak. Bukan foto kakak.” Ralatnya.

Aduh, anak ini iseng banget.

Kiara berlari mengambil foto di pinggir hamparan bunga. “Yihaaa… Berasa di surgaaaa…” serunya.

Aku duduk di bangku kayu sambil memandang awan. Ada bayangan Galang di situ. Kenapa sih, dia ngikutin aku terus? Ternyata aku masih gagal move on.

Kubuka tasku. Ada komik yang belum selesai kubaca. Biarlah aku membunuh waktu dengan komikku. Kubuka halaman pertama komik. Ada tulisan Galang di sana. Komik ini pemberian Galang. Aku urung membacanya. Kuraih gadget, dan aku membuka sosial media.

Tanganku tak bisa kucegah membuka akun Galang. Semakin aku kepo, semakin aku sakit. Galang sedang online. Kutahan diri untuk tidak menyapanya duluan. Status terbarunya, berpacaran dengan…. Uh! Aku meledak. Aku harus segera move on. Akhirnya kumatikan gadget dan menyusul Kiara.

“Lihat fotonya dooong…” aku mendekati Kiara.

Wajah Kiara sumringah. Dia seperti habis menemukan harta karun.

“Cakep kaaak…” katanya sambil memperlihatkan hasil gambarnya.

Aku memencet tombol kamera dan melongo. Tak ada amarilis di sana. Tak ada mawar. Tak ada daisy. Tak satupun gambar bunga yang diambil.

“Mana bunganya?” tanyaku.

“Lho? Emang tadi aku bilang mau foto bunga? Kan aku suka motret serangga. Ada koleksi foto semut, kumbang, belalang, kupu-kupu, capung dan….”

Alisku terangkat. Ingin tahu kelanjutan kalimatnya.

“Kak Adya.” Serunya kencang.

“Aku? Serangga?” kukejar dia yang tertawa cekikikan.

Ah, Kiara…

***

 

Aku Dan Nurul, Tak Terpisahkan.

Entahlah, mungkin ini yang namanya feeling seorang ibu. Atau aslinya aku yang baperan. Selalu saja aku bisa mengendus hal tak menyenangkan saat aku meninggalkan Nurul dalam kondisi ragu. Iya, saat itu aku bisa tak percaya pada pengasuhan kakek neneknya selama aku keluar rumah. Dan tak lama, aku mendapat kabar buruk.
Dulu aku lagi bete tingkat dewa, ingin menenangkan diri ke perpustakaan. Aku menitipkan Nurul dengan separo hati, seolah ada larangan aku tak boleh meninggalkannya. Nurul menunjukkan tanda-tanda rewel, nggak mau ditinggal. Tapi aku tetap meninggalkannya. Baru beberapa menit aku di perpustakaan, ayahku mengabarkan Nurul jatuh dan keningnya benjol. Kaget, cemas, menyesal campur aduk di kepalaku. Saat itulah aku merasa gagal jadi ibu yang baik.
Tadi aku ada acara di sekolah. Aku ragu lagi meninggalkan Nurul karena semalam tidurnya gelisah. Tapi ibuku menyuruh tetap ke sekolah. Selama di sekolah, pikiranku ke Nurul terus. Dan tak lama ayahku mengabarkn kalau Nurul mengeluh sakit perut. Tak bisa dibujuk.
Buru-buru aku pulang. Ternyata dia panas, perutnya sakit karena belum pup selama beberapa hari. Langsung kubawa ke dokter, urusan sekolah kuwakilkan pada temanku.
Entahlah. Mungkin aku memang ditakdirkan tak boleh jauh dari anak. Walau kadang terselip iri melihat ibu muda yang masih punya waktu untuk “me time”. Biarlah, ini jalanku. Nurul memang harus mendapat perhatian ekstra dariku. Walau aku harus mengorbankan kepentinganku yang lain. Aku memang tak mungkin jadi wanita karir full time. Meninggalkan anak beberapa jam saja aku sudah gelisah.
Besok acara puncak di sekolahku. Lama kunantikan momen ini. Keseruan perayaan khatam Al Quran bersama murid-murid. Berhari-hari aku menyiapkan acara ini. Saat semua beres, aku tak bisa berbaur dengan teman-temanku. Apa daya, Nurul masih demam.
Aku masih berharap ada keajaiban. Semoga besok Nurul sembuh, dan aku bisa mengajaknya ikut acara. Nurul seneng banget melihat pawai khatam Al Quran. Semoga bisa.
Doakan Nurul cepat sembuh yaa….

Kopdar Di Jam Gadang (Part 2)

Pada hari Minggu ku turut ayah ke kota. *Eh, malah nyanyi. Minggu kemaren, tepatnya 24 April 2016, adalah perayaan ulang tahun pernikahan sahabatku, Naqiyyah Syam. Dia dan suaminya merayakan ultah pernikahan dengan jalan-jalan ke Bukittinggi. Pas banget kan, kita jadi bisa ketemuan. Kami janjian kopdar di Jam Gadang. Kenapa berani bilang sahabat, ketemu aja belum? Hehe… soalnya udah curhat-curhatan di grup WA atau japri. Orangnya asyik di WA, dan di dunia nyata ternyata sama.

IMG-20160424-WA0027
Mbak Naqi adalah ibu hebat. Dengan mengasuh 3 anak tanpa ART, dia bisa menjadi penulis buku dan seorang blogger. Gimana ngatur waktunya? Jangan disamakan denganku yang manja ini. Aku mana bisa nulis tengah malam saat anak tidur. Yang ada aku malah ikut tidur. Tapi Mbak Naqi seperti punya tangan gurita. Semua bisa dia selesaikan. Walau kadang mengeluh vertigonya kambuh, tapi dia tetap bisa menyelesaikan tugasnya. Dia sempurna saat menjadi istri, Ibu atau penulis yang hebat. Aku salut dan sering malu melihat diri sendiri yang enggan bekerja keras. Malah aku sering mengeluh dan baper.

Main dulu sambil nunggu Ummi Naqi datang

Main dulu sambil nunggu Ummi Naqi datang

Nurul Qisthi udah nggak sabar main di taman Jam Gadang. Tapi Mbak Naqi malah terjebak macet. Untuk mengisi waktu, aku ngajak anak-anak main dulu. Syukurlah mereka anteng. Mereka bebas bermain sampai voucher habis.
Kelar bermain, Mbak Naqi masih belum nyampe. Akhirnya ajak anak-anak muter dulu, walau mereka mulai garuk-garuk kepala dan menguap. Sudah jadwal tidur siang, sih. Tak lama, Mbak Naqi bilang dia sudah sampai. Aku langsung menuju taman.
Dari jauh aku lihat jilbab pinknya, ada anak kecil juga, pasti Aisyah. Langsung aja kusamperin. Subhanallah… Kaya ketemu teman lama. Salaman, cipika cipiki dan kita sibuk foto-foto. Cerkrek… Anak-anak mulai bosan. Cekrek lagi. Anak-anak berlarian. Cekrek terus. Pokoknya sampai mereka protes, baru deh kita sadar kalau sudah ada buntut. Nggak kaya jaman kuliah lagi hehehe.
Sayang sekali kami ngobrolnya nggak bisa lama. Nurul Qisthi nguap terus, Faris (anak pertama Mbak Naqi) nggak sabar pengen jalan ke lobang jepang. Cuma sebentar bisa bersama, akhirnya kita berpisah. Berat banget, masih pengen curhat. Padahal Bukittinggi Padang nggak jauh, cuma nggak ada waktu aja untuk saling mengunjungi.

Persahabatan dijalin lewat medsos :-)

Persahabatan dijalin lewat medsos🙂

Sebentar lagi Mbak Naqi akan kembali ke Lampung. Suaminya sudah selesai kuliah di Padang. Ada keinginan untuk bisa berjumpa lagi dan ngobrol santai, nggak buru-buru kaya kemarin. Untuk saat ini, tekhnologi bisa melipat jarak. Walau jauh, aku tetap merasa dekat dan bisa chatting setiap saat. Semoga ada kesempatan aku bisa ke Padang atau bahkan ke Lampung. Aamiin…

Butuh Piknik

Apa jadinya jika kepala seorang Ibu mulai berasap dengan pekerjaan yang bejibun? Berputar-putar itu-itu saja? Pasti lelah lahir batin, stress, ngomel, marah, dan semua yang berbau negatif gampang keluar tanpa bisa dicegah. Itulah aku saat ini. Aku berada dalam titik terendah dalam segala hal. Aku menjadi Ibu yang buruk, penulis yang tidak produktif…. Ah.. Sudahlah.

Aku hanya lelah. Tapi entah pada siapa aku bisa menyampaikan rasa ini agar mudah dipahami. Penulis bukanlah pekerjaan yang familiar di keluargaku. Aku dianggap menulis sekedar nyambi, nggak perlu fokus, yang utama adalah anak. Oh… Andai mereka tahu, kadang aku nggak fokus dengan celotehan anak karena sibuk meramu ide di kepalaku. Tapi semua tersimpan manis dalam kepala, aku tak bisa mengeksekusi ide karena keterbatasan waktu.

Iya aku butuh dukungan. Aku butuh dijauhkan dari anak beberapa saat saja. Agar aku bisa tenang dan menyampaikan ideku yang meledak-ledak dalam tulisan. Tapi semua hanya mimpi. Tak ada yang mendukungku. Aku tak punya ART, semua dikerjakan sendiri. Aku punya suami yang lebih sering LDR dari pada di rumah. Aku kehabisan waktu dan tenaga, otomatis menulis bukan lagi priorotas.

Aku mencoba keluar sejenak dari kebutuhan menulis. Akku lupakan angan-angan menulis setiap hari dan dimuat setiap minggu. Aku lupakan target media yang kutuju. Aku bunuh mimpi menjadi seorang penulis. Aku cari kesenangan lain, menjahit dan membuat kue. Tapi aku masih tetap rindu menulis.

Saat itulah aku sadar. Aku menulis karena butuh. Aku butuh menyampaikan pemikiran sebagai terapi agar tak terasa menjadi orang yang paling menderita sedunia. Biarlah tak ada dukungan, toh dari dulu dukungan itu juga tidak maksimal. Aku kurang piknik. Iya, aku butuh piknik. Cuma saat ini tidak mungkin. Aku terkurung di rumah bersama tangisan anak berantem dan rumah yang berantakan. Bahkan untuk berbelanja ke pasar saja aku tak pernah. Kebayang kan, betenya aku? Dan aku marah!

Baiklah. Cukup sekian curhat geje kali ini. Mungkin ini tulisan yang paling memuakkan. Aku menyalahkan hal-hal di luar kendaliku. Dan semua itu tak bisa kuperbaiki.