Foto-foto Kiara

Gadis no 10, 8-21 Mei 2016

Gadis no 10, 8-21 Mei 2016

FOTO-FOTO KIARA

Oleh : Novia Erwida

Percikan kedua yang dimuat

Percikan kedua yang dimuat

Namanya Kiara. Gadis berumur sepuluh tahun itu dititipkan tante Rani selama seminggu di rumahku. Sebagai anak tunggal, aku sangat senang bisa punya adik walau cuma seminggu. Kehadirannya lumayan menghapus galauku karena baru diputus Galang.

Sore itu Kiara sudah wangi memakai baju santaidan membawa kameranya di leher.

“Kak Adya, kita jalan-jalan ke taman bunga, yuk?” ajaknya.

Aku mengangguk. “Oke.” Jawabku. Aku selalu siap menjadi kakak yang baik buatnya.

Sepanjang jalan, dia memegang tanganku. Sesekali mengayun-ayunkannya. Sedikit menyadarkanku dari lamunan tentang Galang. Matanya berkerling jenaka. “Kakak ngelamun ya?” godanya. Aku balas dengan memajukan bibir.

Saat kami melewati penjual balon, aku menawarkan satu balon buat Kiara.

“Ih… Kakak. Emang Kiara anak TK?” gerutunya.

Aku menepuk dahi. Aku masih berpikir kalau Kiara adalah Tiara, sepupu Galang yang berumur 5 tahun, yang sering kubelikan balon.

“Ups… Sori. Kirain kamu suka.” Jawabku ngeles.

Kami sampai di taman bunga. Hamparan bunga warna warni memanjakan mata. Langsung aku mewanti-wanti Kiara.

“Ambil gambarnya hati-hati, jangan sampai terinjak bunganya. Jangan selfie sambil tiduran. Kalau mau tiduran di rumah aja.” Jelasku panjang lebar.

Kiara melongo memandangku.

“Kak, mau dikasi gambar yang cakep gak?” tanyanya sambil mencolek lenganku.

Aku mengangguk cepat, lalu bergaya minta difoto.

“Foto cakep, kak. Bukan foto kakak.” Ralatnya.

Aduh, anak ini iseng banget.

Kiara berlari mengambil foto di pinggir hamparan bunga. “Yihaaa… Berasa di surgaaaa…” serunya.

Aku duduk di bangku kayu sambil memandang awan. Ada bayangan Galang di situ. Kenapa sih, dia ngikutin aku terus? Ternyata aku masih gagal move on.

Kubuka tasku. Ada komik yang belum selesai kubaca. Biarlah aku membunuh waktu dengan komikku. Kubuka halaman pertama komik. Ada tulisan Galang di sana. Komik ini pemberian Galang. Aku urung membacanya. Kuraih gadget, dan aku membuka sosial media.

Tanganku tak bisa kucegah membuka akun Galang. Semakin aku kepo, semakin aku sakit. Galang sedang online. Kutahan diri untuk tidak menyapanya duluan. Status terbarunya, berpacaran dengan…. Uh! Aku meledak. Aku harus segera move on. Akhirnya kumatikan gadget dan menyusul Kiara.

“Lihat fotonya dooong…” aku mendekati Kiara.

Wajah Kiara sumringah. Dia seperti habis menemukan harta karun.

“Cakep kaaak…” katanya sambil memperlihatkan hasil gambarnya.

Aku memencet tombol kamera dan melongo. Tak ada amarilis di sana. Tak ada mawar. Tak ada daisy. Tak satupun gambar bunga yang diambil.

“Mana bunganya?” tanyaku.

“Lho? Emang tadi aku bilang mau foto bunga? Kan aku suka motret serangga. Ada koleksi foto semut, kumbang, belalang, kupu-kupu, capung dan….”

Alisku terangkat. Ingin tahu kelanjutan kalimatnya.

“Kak Adya.” Serunya kencang.

“Aku? Serangga?” kukejar dia yang tertawa cekikikan.

Ah, Kiara…

***

 

Aku Dan Nurul, Tak Terpisahkan.

Entahlah, mungkin ini yang namanya feeling seorang ibu. Atau aslinya aku yang baperan. Selalu saja aku bisa mengendus hal tak menyenangkan saat aku meninggalkan Nurul dalam kondisi ragu. Iya, saat itu aku bisa tak percaya pada pengasuhan kakek neneknya selama aku keluar rumah. Dan tak lama, aku mendapat kabar buruk.
Dulu aku lagi bete tingkat dewa, ingin menenangkan diri ke perpustakaan. Aku menitipkan Nurul dengan separo hati, seolah ada larangan aku tak boleh meninggalkannya. Nurul menunjukkan tanda-tanda rewel, nggak mau ditinggal. Tapi aku tetap meninggalkannya. Baru beberapa menit aku di perpustakaan, ayahku mengabarkan Nurul jatuh dan keningnya benjol. Kaget, cemas, menyesal campur aduk di kepalaku. Saat itulah aku merasa gagal jadi ibu yang baik.
Tadi aku ada acara di sekolah. Aku ragu lagi meninggalkan Nurul karena semalam tidurnya gelisah. Tapi ibuku menyuruh tetap ke sekolah. Selama di sekolah, pikiranku ke Nurul terus. Dan tak lama ayahku mengabarkn kalau Nurul mengeluh sakit perut. Tak bisa dibujuk.
Buru-buru aku pulang. Ternyata dia panas, perutnya sakit karena belum pup selama beberapa hari. Langsung kubawa ke dokter, urusan sekolah kuwakilkan pada temanku.
Entahlah. Mungkin aku memang ditakdirkan tak boleh jauh dari anak. Walau kadang terselip iri melihat ibu muda yang masih punya waktu untuk “me time”. Biarlah, ini jalanku. Nurul memang harus mendapat perhatian ekstra dariku. Walau aku harus mengorbankan kepentinganku yang lain. Aku memang tak mungkin jadi wanita karir full time. Meninggalkan anak beberapa jam saja aku sudah gelisah.
Besok acara puncak di sekolahku. Lama kunantikan momen ini. Keseruan perayaan khatam Al Quran bersama murid-murid. Berhari-hari aku menyiapkan acara ini. Saat semua beres, aku tak bisa berbaur dengan teman-temanku. Apa daya, Nurul masih demam.
Aku masih berharap ada keajaiban. Semoga besok Nurul sembuh, dan aku bisa mengajaknya ikut acara. Nurul seneng banget melihat pawai khatam Al Quran. Semoga bisa.
Doakan Nurul cepat sembuh yaa….

Kopdar Di Jam Gadang (Part 2)

Pada hari Minggu ku turut ayah ke kota. *Eh, malah nyanyi. Minggu kemaren, tepatnya 24 April 2016, adalah perayaan ulang tahun pernikahan sahabatku, Naqiyyah Syam. Dia dan suaminya merayakan ultah pernikahan dengan jalan-jalan ke Bukittinggi. Pas banget kan, kita jadi bisa ketemuan. Kami janjian kopdar di Jam Gadang. Kenapa berani bilang sahabat, ketemu aja belum? Hehe… soalnya udah curhat-curhatan di grup WA atau japri. Orangnya asyik di WA, dan di dunia nyata ternyata sama.

IMG-20160424-WA0027
Mbak Naqi adalah ibu hebat. Dengan mengasuh 3 anak tanpa ART, dia bisa menjadi penulis buku dan seorang blogger. Gimana ngatur waktunya? Jangan disamakan denganku yang manja ini. Aku mana bisa nulis tengah malam saat anak tidur. Yang ada aku malah ikut tidur. Tapi Mbak Naqi seperti punya tangan gurita. Semua bisa dia selesaikan. Walau kadang mengeluh vertigonya kambuh, tapi dia tetap bisa menyelesaikan tugasnya. Dia sempurna saat menjadi istri, Ibu atau penulis yang hebat. Aku salut dan sering malu melihat diri sendiri yang enggan bekerja keras. Malah aku sering mengeluh dan baper.

Main dulu sambil nunggu Ummi Naqi datang

Main dulu sambil nunggu Ummi Naqi datang

Nurul Qisthi udah nggak sabar main di taman Jam Gadang. Tapi Mbak Naqi malah terjebak macet. Untuk mengisi waktu, aku ngajak anak-anak main dulu. Syukurlah mereka anteng. Mereka bebas bermain sampai voucher habis.
Kelar bermain, Mbak Naqi masih belum nyampe. Akhirnya ajak anak-anak muter dulu, walau mereka mulai garuk-garuk kepala dan menguap. Sudah jadwal tidur siang, sih. Tak lama, Mbak Naqi bilang dia sudah sampai. Aku langsung menuju taman.
Dari jauh aku lihat jilbab pinknya, ada anak kecil juga, pasti Aisyah. Langsung aja kusamperin. Subhanallah… Kaya ketemu teman lama. Salaman, cipika cipiki dan kita sibuk foto-foto. Cerkrek… Anak-anak mulai bosan. Cekrek lagi. Anak-anak berlarian. Cekrek terus. Pokoknya sampai mereka protes, baru deh kita sadar kalau sudah ada buntut. Nggak kaya jaman kuliah lagi hehehe.
Sayang sekali kami ngobrolnya nggak bisa lama. Nurul Qisthi nguap terus, Faris (anak pertama Mbak Naqi) nggak sabar pengen jalan ke lobang jepang. Cuma sebentar bisa bersama, akhirnya kita berpisah. Berat banget, masih pengen curhat. Padahal Bukittinggi Padang nggak jauh, cuma nggak ada waktu aja untuk saling mengunjungi.

Persahabatan dijalin lewat medsos :-)

Persahabatan dijalin lewat medsos:-)

Sebentar lagi Mbak Naqi akan kembali ke Lampung. Suaminya sudah selesai kuliah di Padang. Ada keinginan untuk bisa berjumpa lagi dan ngobrol santai, nggak buru-buru kaya kemarin. Untuk saat ini, tekhnologi bisa melipat jarak. Walau jauh, aku tetap merasa dekat dan bisa chatting setiap saat. Semoga ada kesempatan aku bisa ke Padang atau bahkan ke Lampung. Aamiin…

Butuh Piknik

Apa jadinya jika kepala seorang Ibu mulai berasap dengan pekerjaan yang bejibun? Berputar-putar itu-itu saja? Pasti lelah lahir batin, stress, ngomel, marah, dan semua yang berbau negatif gampang keluar tanpa bisa dicegah. Itulah aku saat ini. Aku berada dalam titik terendah dalam segala hal. Aku menjadi Ibu yang buruk, penulis yang tidak produktif…. Ah.. Sudahlah.

Aku hanya lelah. Tapi entah pada siapa aku bisa menyampaikan rasa ini agar mudah dipahami. Penulis bukanlah pekerjaan yang familiar di keluargaku. Aku dianggap menulis sekedar nyambi, nggak perlu fokus, yang utama adalah anak. Oh… Andai mereka tahu, kadang aku nggak fokus dengan celotehan anak karena sibuk meramu ide di kepalaku. Tapi semua tersimpan manis dalam kepala, aku tak bisa mengeksekusi ide karena keterbatasan waktu.

Iya aku butuh dukungan. Aku butuh dijauhkan dari anak beberapa saat saja. Agar aku bisa tenang dan menyampaikan ideku yang meledak-ledak dalam tulisan. Tapi semua hanya mimpi. Tak ada yang mendukungku. Aku tak punya ART, semua dikerjakan sendiri. Aku punya suami yang lebih sering LDR dari pada di rumah. Aku kehabisan waktu dan tenaga, otomatis menulis bukan lagi priorotas.

Aku mencoba keluar sejenak dari kebutuhan menulis. Akku lupakan angan-angan menulis setiap hari dan dimuat setiap minggu. Aku lupakan target media yang kutuju. Aku bunuh mimpi menjadi seorang penulis. Aku cari kesenangan lain, menjahit dan membuat kue. Tapi aku masih tetap rindu menulis.

Saat itulah aku sadar. Aku menulis karena butuh. Aku butuh menyampaikan pemikiran sebagai terapi agar tak terasa menjadi orang yang paling menderita sedunia. Biarlah tak ada dukungan, toh dari dulu dukungan itu juga tidak maksimal. Aku kurang piknik. Iya, aku butuh piknik. Cuma saat ini tidak mungkin. Aku terkurung di rumah bersama tangisan anak berantem dan rumah yang berantakan. Bahkan untuk berbelanja ke pasar saja aku tak pernah. Kebayang kan, betenya aku? Dan aku marah!

Baiklah. Cukup sekian curhat geje kali ini. Mungkin ini tulisan yang paling memuakkan. Aku menyalahkan hal-hal di luar kendaliku. Dan semua itu tak bisa kuperbaiki.

Cerita Anak : Perca Kain Wiwi

Naskah ini punya cerita panjang menjelang pemuatan. Awalnya saya menulis ini sebagai salah satu syarat ikut kelas cerpen gratis Mas Bambang Irwanto, tapi ditolak. Hiks… Lalu saya coba peruntungan naskah ini ke koran lokal. Lama tak ada kabar, dan artinya ditolak lagi. Hiks 2x. Akhirnya sayang naskah terbuang percuma, saya kirim ke Bobo tanpa harapan dimuat. Cuma buat memenuhi amplop saja, biar rada berat dikit hehe. Saya gabung dengan beberapa naskah, yang ini kalau nggak dimuat juga pasrah.

Tapi siapa sangka, justru di Bobo jodohnya. Jadi, tak usah sedih kalau cerpenmu ditolak di media lokal, karena mungkin saja dimuat di media nasional.😀

Bobo, 24 Maret 2016

Bobo, 24 Maret 2016

PERCA KAIN WIWI

Oleh : Novia Erwida

Wiwi menghampiri Kak Alia di balik mesin jahit. Kak Alia sibuk sekali. Sampai tidak memperhatikan Wiwi yang serius mengamatinya. Kakinya menekan pedal mesin  jahit, tangannya bergerak maju mundur. Lalu menggunting benang. Menjahit lagi. Berhenti lagi. Menjahit lagi. Terus begitu.

Suara mesin jahit keras. Tapi buat Kak Alia itu sudah biasa. Kak Alia adalah tetangga Wiwi. Pekerjaannya tukang jahit.

“Kak..” sapa Wiwi dengan suara yang sedikit keras. Deru mesin jahit sedikit mengganggu , kalau mau bicara, Wiwi harus agak berteriak.

Kak Alia menghentikan jahitannya. “Kenapa Wi??” tanya Kak Alia.

Wiwi takut-takut. Matanya melirik kain perca yang menumpuk di sudut ruangan.

“Boleh minta itu, Kak?” tanya Wiwi. Kak Alia mengikuti arah tatapan mata Wiwi.

“Ooo.. Mau kain perca? Wiwi pulang dulu ya. Besok ke sini lagi. Kakak masih banyak jahitan. Biar nanti Kakak pilihkan beberapa buat Wiwi. Kain itu masih ada yang bisa dipakai.” jawab Kak Alia.

“Makasih Kak..” Wiwi sangat senang. Dia segera pamit dan berlari menuju rumahnya. Terdengar Ibu memanggil, menyuruh Wiwi mandi sore.

Keesokan harinya, penuh semangat Wiwi mampir ke rumah Kak Alia. Sambil mengantarkan gorengan buatan Ibu. Ibu sering menitip makanan buat Kak Alia. Karena Kak Alia hanya tinggal berdua dengan neneknya. Kak Alia sibuk dengan jahitan, neneknya sudah tua. Sering sakit. Kadang Kak Alia tak sempat masak.

“Kak Alia..” sapa Wiwi.

Terdengar bunyi mesin jahit. Kak Alia tidak mendengar salam Wiwi. Wiwi langsung masuk ke tempat Kak Alia menjahit.

“Kak, ini gorengan titipan Ibu.” kata Wiwi sambil menyodorkan piring berisi pisang goreng yang masih panas.

“Waaah.. Dapat rezeki.” Kak Alia senang sekali. Dia sepertinya lapar. Langsung digigitnya gorengan itu. Setelah itu Kak Alia mengantar gorengan ke kamar neneknya. Kak Alia menyuapkan neneknya beberapa potong gorengan. Nenek sedang tidak enak badan.

Tak lama Kak Alia keluar sambil membawa kantong plastik. “Ini buat kamu.” kata Kak Alia. Wiwi melongok isi bungkusan itu. Kain perca. Mata Wiwi berbinar.

“Makasih, Kak! Wiwi pulang, ya. Mau bikin sesuatu dengan kain ini.” Ujar Wiwi bersemangat.

“Boleh.. Sampaikan terima kasih, ya, ke Ibu buat makanannya…” kata Kak Alia.

“Yup, Kak.. Sama-sama.” Jawab Wiwi.

Sampai di rumah, Wiwi sibuk dengan kain percanya. Ia meraih bonekadan melepaskan baju bonekanya yang sudah usang. Ibu berjanji akan membantu menjahitkan baju boneka. Cukup lama Wiwi mengamati baju bonekanya. Sampai Wiwi tidak menyadari Ibu datang ke kamarnya.

“Waah.. Kainnya bagus.” puji Ibu.

Wiwi menoleh pada Ibu, tersenyum bangga. “Ini lho Bu, kain perca yang dikasih Kak Alia. Wiwi yang gunting, Ibu yang jahit ya??” kata Wiwi.

“Boleeeh…” sahut Ibu sambil tersenyum. Ibu mengajari Wiwi menggunting kain. Kainnya lumayan banyak, bisa buat 3 buah baju. Setelah pola bajunya jadi, Wiwi membereskan peralatan dan membuang sisa kain ke tong sampah.

“Lho, kok dibuang?” tanya Ibu.

“Kan, kainnya kecil-kecil. Nggak bisa dipakai lagi..” jawab Wiwi.

“Bisa kok! Sini deh.” Ibu mengambil lagi kain yang sudah dibuang itu. Ibu lalu menggunting kain kecil-kecil itu menjadi berbentuk lingkaran. Setelah itu, Ibu menjahit jelujur dengan tangan di pinggiran lingkaran itu. Lalu Ibu menarik benang, kainnya jadi berkerut-kerut dan bulat. Cantik sekali.

“Coba bikin beberapa seperti ini. Bisa jadi hiasan jepitan rambut, taplak meja, tutup televisi, asal dirangkai dengan rapi. Teman Ibu ada yang bikin tas bahkan selimut dari kain perca. Barang-barang yang masih bagus, jangan langsung dibuang ya, Wi.” kata Ibu.

Wiwi mengangguk-angguk.

“Barang-barang jelekpun, masih bisa dipakai. Contoh, baju kaos yang sudah sobek dan pudar, malu kan memakainya. Nah, bisa tuh jadi lap dapur. Atau buat membersihkan jendela. Kita bisa berhemat. Tak perlu beli kain lap. Ya kan??”

Wiwi setuju.

Ibu menjahitkan baju boneka Wiwi dengan mesin jahit. Sekarang baju bonekanya sudah jadi. Cantik sekali. Wiwi senang bisa ganti baju boneka sesukanya. Wiwi bangga dengan hasil kerja kerasnya. Baju bonekanya sudah ada 3 helai. Ia juga sudah bisa membuat sendiri hiasan rambut dan taplak meja.Wiwi gembira karena tak perlu beli lagi.

Sekarang, Wiwi tidak mau lagi asal buang barang bekas. Ternyata banyak barang bekas yang masih bisa dimanfaatkan.

***

IMG-20160325-WA0001

Bijak Menyikapi Perbedaan

Hari ini cukup melelahkan. Padahal aku nggak kerja berat. Cuma capek dengat perdebatan sama saudara sepupu. Aku sudah bilang kalau aku nggak suka berdebat, takutnya jadi putus hubungan dan sebel-sebelan. Berawal dari beda pendapat, biasalah. Aku udah tutup WA, eeh… masih aja dia balas.

Kalau ngomong sama orang seide sih gampang, apa aja sumber informasi yang dikasih, pasti sepaham. Tapi kalau ngomong sama orang ngajakin debat, capeeeek. Dia bombardir aku dengan link yang membenarkan pendapatnya. Dikasi info malah ngeyel. Aku ngasih info sepanjang pengetahuanku toh? Mana waktuku habis buat ngechat. Harusnya bisa tuh bikin satu artikel. Trus ngalah deh, bilang aku hanyalah hamba yang dhaif, ga tau apa-apa. Dia surut dulu. Sore-sore… Dhuaaar… Ngechat lagi.

Jadi kaya debat kusir nih. Ga ada habis-habisnya. Ga ada moderator juga. Dan yang paling kurasa rugi adalah energiku terkuras. Soalnya nahan-nahan nih, biar ga ngamuk. Kalau saja dia bukan saudara, aku bisa menjelaskan panjang lebar kali tinggi. Tapi baru sedikit penjelasannya, dia bilang aku nggak berhak menjelaskan seperti itu. Aku belum memenuhi syarat, belum bisa bahasa Arab, belum bisa ini, itu, endebrau endebrau.

Dari dulu aku nggak suka berbalas pantun kaya gini. Sehati sama bang Ippho, dia menyarankan jauhi debat.  Panutannya Rasulullah banget. Iya sih, aku juga sering capek kalau lihat acara debat di TV. Semua mengeluarkan sesak di hati. Hasilnya apa? Malah makin panas. Mending nonton film kartun.

Tak masalah kalau pendapatku dibantah, idolaku dicela, karena sebagai manusia pasti punya celah kesalahan. Aku lebih memilih menahan untuk tidak menyebar kekurangan pendapatnya, karena itu berarti memperpanjang chat. Menghabiskan energiku. Membuatku capek lahir batin. Biarlah dia dengan pendapatnya, aku dengan pendapatku. Sudah berkali-kali kututup dengan kalimat senada ini. Tapi aku masih dibombardir. Hiks…

Saat ini dia lagi istirahat. Mungkin sedang gugling mengumpulkan bahan untuk mematahkanku. Eh? Mematahkan apa? Aku juga tak punya keuntungan dari perdebatan ini. Aku malah kehabisan waktu.

Duh… Dek. Dari kita belum lahir, juga, perbedaan itu akan selalu ada. Dalam hal apapun. Yang paling susah adalah menjaga untuk tetap saling menghargai di tengah perbedaan. Aku ga mau gara-gara ini kamu membenciku dan aku membencimu.  Berhentilah, kalau kamu masih chat juga, aku blokir nih. *Serius demi menjaga silaturrahim.

Gabung Dengan Komunitas Menulis, Yuk?

Ada beberapa teman yang heran melihat medsosku selalu online. Medsos memang seperti pisau bermata dua. Kita bisa habis waktu dengannya, atau kita yang pegang kendali memanfaatkannya. Aku aktif bukan untuk bermain-main di beranda. Ada banyak peer yang harus kuselesaikan, dan harus menggunakan medsos.

Buatku, komunitas sangat penting. Aku punya teman yang saling menyemangati untuk tetap berkarya. Karena aku sudah fokus jadi penulis media, maka aku aktif dalam beberapa kelas menulis. Adakalanya jadwalku bentrok. Biasanya, satu kelas hanya mewajibkan pesertanya menulis satu cerpen dalam seminggu. Kalau bentrok, ya kalikan saja. Kadang aku harus bikin dua cerpen, kadang tiga, parahnya lagi, aku harus menulis di grup A, dan menjadi Pije di grup B dan C dengan tiga puluhan naskah. Semua harus kelar dalam seminggu. Wew… Kalau dipikir-pikir, bisa teler.

Ternyata aku bisa. Nggak perlu pake pikir-pikir, hajar aja. Minggu ini betul-betul melelahkan. Tapi aku puas. Aku bisa mengalahkan rasa malasku dan rasa minderku saat berada di kelas.

Oya, kenalan yuk dengan komunitasku.

  1. Be A Writer

Ini adalah grup menulis pertamaku. Belajarnya gratis. Penemunya mbak Leyla Hana. Selama ini aku cuma kenal namanya di Annida, enggak nyangka bakal berteman dan masuk grup kerennya. Aku belajar Bahasa Indonesia lagi dari awal, belajar menyusun kata, belajar membuat cerita dari gambar, dll.

BAW punya komunitas di facebook bernama BAW Community. Ada banyak kelas di sini. Kelas fiksi dan non fiksi. Penghuninya sekitar 800 orang. Grup ini tertutup, bisa request kalau kamu mau masuk. Boleh juga main ke sini.

  1. Penulis Tangguh

Rasanya mimpi bisa masuk grup asuhan Mbak Nur ini. Soalnya pijenya sangar, kelasnya ketat dan ada sanksi dikeluarkan kalau tidak aktif menulis. Penulis tangguh adalah grup menulis gratis yang belajar hampir semua tema penulisan. Fiksi, non fiksi, synopsis, skenario, ngeblog, kelas Bahasa Inggris dll. Saat ini ada 48 orang di dalam grup. Silakan mampir ke sini.

  1. Merah Jambu Gabungan

Grup ini adiknya Penulis Tangguh. Isinya alumni kelas menulis Merah Jambu, kelas berbayar, gabungan dari siswa kelas cerita anak dan kelas cerita dewasa. Awalnya kelas ini terbentuk karena ingin mengikuti langkah Penulis Tangguh. Jadi penghuninya disaring dulu sama mbak Nur. Persis Penulis Tangguh, siapa yang tidak aktif akan dikeluarkan. Ada 51 orang di grup ini. Ini contoh tulisan yang sudah dimuat di media.

  1. Rumah Jamur Kurcaci Pos

Grup ini khusus cernak, digawangi oleh mas Bambang Irwanto. Ada pembagian jadwal posting cerpen juga, cuma karena tidak ada sanksi, jadi banyak yang bolos sesukanya. Hehe. Penghuninya 129 orang, alumni kelas berbayar Kurcaci Pos. Kamu bisa belajar bikin cernak di sini.

Jadi ngapain aja di grup? Banyak pake banget. Setiap Minggu kita dilempar satu tema, harus bikin cerpen baru dengan tema tersebut. Aku malah hampir nangis karena stress berat awal masuk PT. Tapi lama-lama aku sadar, grup ini betul-betul menempa kwalitas mental dan tulisan anak didiknya. Banyak tulisanku yang bermunculan hasil belajar di kelas. Kalau tidak disiplin, tak akan jadi-jadi itu tulisan.

Saat bertugas jadi pije, aku harus membaca semua naskah teman-teman, lalu memberi masukan dimana letak kurangnya, dan member saran yang membangun. Tak ada basa-basi untuk kemajuan. Kalau bagus ya bilang bagus, jelek ya bilang jelek. Tunjukkan jalan kebenaran. #eh

Minggu lalu aku keteteran karena harus menyelesaikan tiga cerpen dalam seminggu. Minggu ini dua cerpen plus dua tugas jadi pije. *Lap keringat. Hari ini aku lega, bisa menyelesaikan semua tugasku semaksimal mungkin. Kulihat file cerpen di folderku mulai menumpuk, hasil kelas yang belum dikirim ke media manapun. Alhamdulillah.

Untuk meraih kesuksesan, memang perlu kerja keras. Menjadi penulis tak bisa hanya modal “ingin”. Tak perlu juga maruk, ikut semua grup tanpa menyelesaikan tugas-tugas. Ambil yang kamu rasa sanggup, lalu jalankan tugasmu.Grup di atas hanya segelintir dari grup menulis yang ada. Jadi, kamu ikut grup apa?

Selamat menulis.😀