Latepost : Penghargaan dari Balai Bahasa Sumatera Barat

Aku dan Wawat membuat sebuah proyek menulis buku anak. Aku menulis cerita, dia ilustratornya. Berawal dari ketidaksengajaan, cuma obrolah bercanda di grup. “Wat, kita bikin proyek, yuk?” kebetulan waktu itu deadline lomba tinggal seminggu lagi. Tak disangka, Wawat mengiyakan. jadilah seminggu kita berdua mata panda begadang menyelesaikan naskah. Waktu itu tak ada harapan sebagai pemenang, minimal bisa menyingkirkan rasa malas nulis yang menghinggapi sejak 2017 ini.

Alhamdulillah, proyek buru-buru itu ternyata menarik hati juri. Kami masuk dalam 15 pemenang penulis cerita anak dari Balai Bahasa Sumatera Barat. Seneng dong, apalagi kisah proyek pertama itu lanjut untuk menulis lomba berikutnya dari Badan Bahasa tingkat Nasional. Sayangnya, naskah kita mentok dan tidak lolos sebagai pemenang. Kecewa pasti, tapi tak ada yang sia-sia. Siapa tahu jodohnya ada di penerbit. (Saat tulisan ini dibuat, naskah itu sedang mempercantik diri sebelum dioper ke penerbit.) Baca lebih lanjut

Iklan

Late post : Bimtek Kemendikbud Bekasi

Rezeki memang tak terduga. Sudah lama aku ingin jalan-jalan. Walau udah nabung buat tiket dan penginapan, tapi ga nyampe-nyampe karena harus berangkat bertiga. 😦 Akhirnya pasrah aja, walau keinginan keluar pulau Sumatera tetap di dalam hati. Mungkin ini yang dinamakan afirmasi, cukup simpan keinginan, lalu semuanya urusan Tuhan. Lewat seleksi penulis yang diadakan salah satu grup penulis cerita anak, aku lolos bersama dua penulis lain dari Sumatera Barat. Seneng dong, dapat tiket pesawat gratis, penginapan mewah dan niatku sejenak keluar dari rutinitas kesampaian.

Tapi aku malah galau. Bagaimana cara meninggalkan Nurul, sehari-hari dia cuma pernah berpisah selama 3-4 jam? Pasti dia bingung dengan perubahan mendadak ditinggal 3 hari. Sekejap angan ke pulau jawa terlihat tak menarik lagi. Syukurlah keluargaku terus mendukung, aku harus berangkat. Kalau Nurul ikut, malah bikin masalah karena dia tak akan mau ditinggal olehku.

Aku mulai mempersiapkan segalanya. Membeli madunya yang mulai habis, menyiapkan obat demam sambil terus berdoa semoga tak terpakai, mewanti-wanti seisi rumah tentang kebiasaan Nurul. Apa yang boleh dan tidak boleh. Repot dan capek, tapi aku harus bisa.

Pelan-pelan aku mulai kasih kode kalau dia harus mandiri. Aku bilang mau ke Jakarta, meski dia tak tahu Jakarta itu dimana. Dia cuma tahu jauuuh sekali. Dia nggak mau ikut, maunya di rumah aja nungguin aku sama Qisthi. #jleb. Dia kira aku pergi pagi pulang sore kali ya.

Saat travel mulai menjemput, Nurul malah bangun kepagian dan ingin bermain denganku. Duh, sinar harapan di mata itu bikin aku galau. Tapi aku harus tegas, kugendong dan kucium dia, kusuruh bermain dengan Qisthi. Saat mereka mulai bermain,  aku mengendap keluar membawa koper dan tas. Tak mungkin aku kuat harus dadah-dadah naik mobil diiringi tangisannya.

Di travel, baru deh aku berkaca-kaca. Rasanya pengen balik lagi, nggak mau ke Jakarta. Untung saja masih ada pikiran waras, bukankah kepergian ini yang kuinginkan? Ini cuma 3 hari, plis jangan lebay. Dengan separo hati tertinggal di Bukittinggi, aku matapkan harus fokus ke Jakarta dulu.

Sampai di Bandara, Maya dan Eci sudah masuk duluan. Mereka menungguku. Lalu kami berkenalan sambil menunggu keberangkatan. Kebangetan kan ya, sesama penulis Sumbar belum pernah ketemu sama sekali. Yaah… begitulah aku. Jarang banget bisa jalan-jalan. Baca lebih lanjut

BUKAN SOAL PROBABILITAS, INI REZEKI

Sebelah ovariumku sudah diangkat sewaktu gadis dulu, akibat kista yang bersarang dan pecah di dalam. Sebelah lagi, bisa diselamatkan dengan menyedot cairan kistanya. Aku beruntung masih bisa membuka mata pasca operasi. Karena kupikir aku akan bangun di liang kubur. Tapi kehidupan apa yang bisa dihadapi setelah kehilangan sebelah organ penting bagi wanita? Tim dokter menyarankan segera menikah, karena ada kemungkinan kistanya tumbuh lagi. Setelah punya satu atau dua anak, jika mereka kembali mengganas, jalan terakhir pastilah membuang lagi. Secara fisik tetap wanita, namun tak bisa lagi bereproduksi.
Setelah melewati masa-masa sulit, aku mulai membuka diri. Mensyukuri sebelah ovarium yang sehat, 50% kemungkinan bisa hamil saat aku menikah nanti. Seorang lelaki berbudi mau menerimaku, menyatakan keinginan bersamaku, tetap berdua sampai tua atau kalau beruntung, memiliki bayi yang lucu. Baca lebih lanjut

Cerita Anak : Kado Istimewa Untuk Silvi

Hobby menjahit membuat hoki bagi saya. Sudah 4 cerpen berhasil dimuat di Bobo bertema jahitan. Dan cerpen kali ini, cerpen hasil kelas Kurcaci Pos dengan Mas Bambang Irwanto. Masih ingat bagaimana betenya saya masuk kelas itu, banyak salah melulu. Sempat ngambek sama sang guru hehe. Akhirnya saya sadar, kalau yang disampaikan guru itu benar, cuma sayanya aja yang belum bisa terima. Setelah naskah diendapkan, dan mengikuti saran, tuh kan… Akhirnya cerpennya jadi dan semakin cantik. 😀

Ilustrasinya cantik ya.

Ilustrasinya cantik ya.

 

KADO ISTIMEWA UNTUK SILVI

Oleh : Novia Erwida

Silvi menatap iri pada Salma. Lagi-lagi, Salma memakai baju baru. Kali ini Salma memakai terusan ungu dengan hiasan payet di sekeliling leher. Juga ada bunga-bunga besar yang menjuntai di sisi bawah gaun. Cantik sekali.

Salma pamer baju baru terus di setiap acara ulang tahun, batin Silvi

“Waaah…! Putri kerajaan sudah datang.” Goda Merry yang sedang berulang tahun.

Salma menyunggingkan senyum, menyalami Merry dan menyerahkan kadonya. “Selamat ulang tahun…”

“Terima kasih, Tuan Putri.” Jawab Merry sambil membungkukkan badan.

Teman-teman tertawa. Hanya Silvi yang diam saja. Bagi Silvi, Salma adalah anak yang suka pamer. Salma tidak menghargai teman-teman yang tidak bisa membeli baju baru seperti Silvi. Silvi memandang baju hijaunya. Ada sedikit robek di lengannya, tapi ibu sudah menisiknya.

Silvi pernah minta dibelikan baju yang baru. Ibu bilang belum punya uang. Jadi, di setiap acara ulang tahun, Silvi selalu memakai gaun hijaunya.

Silvi menghidari berdekatan dengan Salma. Dia tak mau bajunya tenggelam oleh gemerlap gaun Salma.

“Ini buatmu.” Salma mengambilkan sepotong cake cokelat buat Silvi.

“Terima kasih.” Jawab Silvi jawab Silvi tanpa senyum. Salma hanya heran melihat Silvi yang tidak ramah.

***

Ada undangan ulang tahun dari Mia. Silvi membolak-balik undangan itu. Dia ragu untuk datang. Ibu masih belum membelikan gaun baru. Baju yang ada di lemari, cuma kaos dan celana jeans. Tidak pantas dipakai untuk acara ulang tahun.

“Bu, kalau Mia tanya, bilang Silvi sakit ya.” Kata Silvi pada Ibunya.

“Lho? Kok Silvi menyuruh Ibu bohong?” sela Ibu.

Silvi menggigit bibir. Dia tak sanggup melihat Salma memakai gaun baru lagi. Silvi akan semakin benci dengan gaun hijaunya.

“Silvi, kan, enggak punya baju.” Jawabnya pelan.

“Yang hijau, kan, bagus? Kasihan Mia kalau kamu tidak datang.” Bujuk Ibu.

Sepertinya Silvi tetap harus berangkat ke acara itu. Ibu tak mau berbohong.

Silvi masuk ke kamarnya, lalu membuka lemari. Ada gaun ungu kak Sarah, masih bagus tapi kebesaran buat Silvi. Silvi mencobanya dan mematut-matut diri di depan cermin.

Bahu gaun itu jatuh sampai ke lengan. Bagian badannya kedodoran. Bagian bawah gaun, panjang sampai menyapu lantai. Tampak sekali kalau Silvi memakai gaun pinjaman. Mungkin beberapa tahun lagi, barulah gaun itu pas dipakai Silvi.

Silvi meneteskan air mata. Tak ada pilihan lain. Sekarang dia harus berangkat. Disambarnya gaun hijau dan berdandan sekedarnya. Tak lupa memakai bando berwarna emas. Pemberian Ibu sebulan yang lalu.

Silvi belajar menerima keadaan. Ia tak mau mengeluh. Kalau Ibu punya uang, pasti ia dibelikan baju baru. Sejak Ayah meninggal, Ibu menerima pesanan kue. Hasil penjualan kue Ibu tidak seberapa. Sejah subuh, Ibu selalu menyusun kue-kue dalam baki plastik untuk diantar ke warung-warung. Kadang Silvi dan Kak Sarah ikut membantu mengantarkan kue.

Silvi memasuki rumah Mia, matanya mencari-cari sosok Salma. Benar tebakan Silvi. Kali ini Salma memakai gaun pink yang lembut. Roknya mekar seperti putri raja. Gaun yang cantik, tidak seperti… Ah, Silvi kembali menyesali gaun hijaunya.

Ulang tahun Mia meriah. Ada games meletuskan balon dengan perintah lucu bagi yang terkena hukuman. Silvi menikmati permainan, sampai lupa soal gaunnya.

Tiba-tiba Mia bersorak. “Minggu depan kita pesta di rumah Silvi!”

“Asiiiik…” teman-teman yang lain bertepuk tangan meriah. Silvi tersenyum kecut. Minggu depan memang ulang tahunnya, tapi Silvi tak mungkin mengadakan pesta. Ibu tak punya uang untuk itu.

Salma mendekati Silvi. Silvi menjauh. Salma heran.

“Kenapa, Sil?”

“Bajumu bagus sekali. Aku malu di dekatmu.” Kata Silvi berbisik.

Salma tersenyum. “Ibuku tukang jahit, Sil. Baju ini dibuat dari kain sisa yang masih bisa dipakai. Pelanggan Ibu biasanya memberikan kain sisa baju mereka.” Jawab Salma.

Kening Silvi berkerut.

“Coba lihat, bagian atas dan bawah kainnya berbeda kan?”

Silvi memperhatikan. Benar. Hanya warnanya saja yang senada. Pasti Ibu Salma bekerja keras menjahit gaun itu sampai cantik begitu.

“Ibumu hebat.” Kata Silvi jujur.

Salma tersenyum. “Ibumu juga hebat. Aku suka kue buatan ibumu.” Jawab Salma.

Silvi tercenung mendengarnya.

Seminggu kemudian, Salma datang ke rumah Silvi membawa kado. Silvi kaget sekaligus senang.

“Aku tidak mengadakan pesta.” Kata Silvi.

“Aku tahu. Tapi bukalah kado ini.” Jawab Salma.

Jemari Silvi bergerak cepat karena penasaran. Setelah kado terbuka, Silvi terbelalak. Ada gaun baru berwarna biru.

“Terima kasih…” Silvi memeluk Salma. Silvi tahu ini berasal dari kain sisa. Tapi tak ada yang tahu selain Silvi, Salma dan Ibu Salma.

Silvi langsung memakai gaun itu. Pas dan tidak longgar seperti gaun Kak Sarah. Silvi berputar-putar. Hatinya sangat senang. Salma juga senang, dia sudah memberi kado yang dibutuhkan Silvi.

Silvi menarik tangan Salma ke meja makan. “Ibumu pintar menjahit, Ibuku pintar bikin kue. Ayo coba.” Kata Silvi sambil menyerahkan sepiring black forest pada Salma. Hanya kue itu sebagai simbol perayaan ulang tahun Silvi.

Salma mencolek krim, dan mengoleskan ke hidung Silvi. Silvi membalas. Hidung Salma berlepotan krim. Mereka tertawa bersama.

***

Bobo no 19. Terbit tgl 18 Agustus 2016

Bobo no 19. Terbit tgl 18 Agustus 2016

Cerpen ini juga diposting di grup Rumah Jamur Kurcaci.

Menulis Itu Harusnya….

“Aku capek.” keluhku pada Shabrina WS. Mood menulis menukik tajam, tak ada tulisan lahir 3 bulan belakangan. Dan aku merasa lelah menjadi penulis.

“Lho, kan dirimu lagi panen, Uni.” balasnya.

Memang, beberapa karya berderet muncul di Bobo saat aku sedang tidak aktif menulis. Jadi aku dianggap seorang penulis yang rajin, yang produktif dan tak pernah bosan menulis. Padahal saat itulah semangatku di titik nol, bahkan minus.

Setelah ditelusuri, aku capek karena niat menulisku sudah mulai berbelok arah.

“Jangan terlalu keras sama diri sendiri, uni.” nasehat manisnya akan selalu kuingat.

Iya, aku dan teman-teman merah jambu balapan karya selama tahun 2016 ini. Kami menulis karena target, siapa yang terbanyak, itulah pemenang. Dan ternyata, kompetisi seperti itu tak cocok dilakukan oleh emak-emak yang banyak maunya seperti aku. Melihat karya teman bermunculan di kanan kiri membuat aku memandang remeh diri sendiri. Aku juga ingin, tapi tak sanggup. tak punya waktu untuk menulis

“Ada masa untuk segala.” ini pasti peringatan karena masa panen hampir berakhir :p

Aku merasa bersalah karena suka nonton daripada nulis atau baca. “Aku malah sekarang suka download lagu.” akunya.

“Nikmati semua. Menulis itu untuk bersenang-senang, bukan malah bikin stres.” lanjutnya lagi.

Ini yang aku lupa. Dulu aku menulis karena aku ingin menulis. Sekarang aku menulis karena target, berasa mesin dan tulisanku hambar. Lalu aku menyalahkan keadaan, anak yang tak mau diam, waktu tersita untuk mengajar, mood tak kunjung muncul. Hiks.

Aku juga sedikit tertekan dengan genre tulisan yang berbeda-beda. Aku enjoy menulis cernak, dan mendadak kaku menulis cerdew atau artikel. Tapi di beberapa kelas, menuntut aku harus bisa semuanya. Dan karena mentalku setipis kulit ari, aku duluan takut dan tulisanku tak jadi-jadi. 😦

“Jangan membandingkan diri sendiri  dengan orang lain, Uni.” nasehat Shabrina lagi.

“Kita emak-emak, waktu sudah habis tersita untuk keluarga. Rugi kalau galau.” sambungnya.

Hiks… Kalau saja Shabrina ada di depanku, mungkin sudah kupeluk erat karena dia sudah menunjukkan sesuatu yang tak terlihat di mataku. Iya, aku harus menulis karena hati. Target akan selalu ada. Kita harus bergerak mengikuti arus, tapi aku tak boleh lagi merasa tertekan, karena aku menyukai menulis.

Shabrina, aku akan selalu ingat, menulis itu untuk bersenang-senang. Terima kasih banyak. 🙂

 

Berbagi Bersama Kelas Inspirasi Bukittinggi

Aku mendapat info pembukaan kelas inspirasi dari mbak Naqiyyah Syam. Ingin sih ada, tapi terbentur waktu dan kerjasama mengasuh Nurul selama aku tak di rumah. Aku tak mau berpikir panjang, langsung saja mendaftar tanpa bilang-bilang. Setelah dapat email bahwa aku lolos sebagai inspirator, baru aku bingung. Setelah diskusi sama suami, dan koordinasi dengan kakek neneknya Nurul, Alhamdulillah, aku bisa ikut dan mereka akan menjaga si kecil.

Sebenarnya kelas inspirasi tidak terlalu memberatkan, karena hanya sekali pertemuan. Tapi harus meluangkan waktu buat briefing, dan refleksi setelah kelas berlangsung. Mana pernah aku ninggalin Nurul lama-lama. Tapi demi bisa berbagi tentang profesi seorang penulis, aku ikut. Nggak nyangka, aku bertemu orang-orang hebat yang semangat berbagi. Mereka mengorbankan waktu, tiket PP antar pulau, akomodasi dengan modal sendiri. Aku juga harus jadi ibu kuat, bersedia jauh dari anak untuk bisa menginspirasi anak-anak lain.

Halo semua...! Nama saya Novia Erwida. Saya adalah seorang penulis.

. Halo semua…! Nama saya Novia Erwida. Saya adalah seorang penulis. Foto : Cindy

Aku dan beberapa teman ditempatkan di SDN 08 Tarok Dipo Bukittinggi. Sekolahnya bagus, muridnya banyak. Dan mereka sangat antusias menyambut kedatangan kami. Oya, yang datang ke sana tak cuma inspirator. Tapi ada fasilitator yang sudah rapat beberapa kali demi acara ini, dan dokumentator yang sibuk mengabadikan kegiatan ini. Kami baru saling mengenal, tapi sudah menjadi tim yang kompak. Semangat berbagi yang menyatukan.

Sedang mengenalkan majalah anak pada murid-murid

Aku sedang mengenalkan majalah anak pada murid-murid. Foto : Cindy

Masing-masing inspirator mendapat jatah mengajar di tiga kelas. Aku mengajar di kelas 4B, 3B dan 6B. Kelas 4 dan 3 sangat antusias, karena aku menyertakan majalah Bobo yang memuat cerpenku. Sampai di kelas 6, mereka nggak tertarik sama sekali. Rupanya sebelum aku masuk, sudah ada penulis lain yang masuk kelas itu. Yaah… Jualanku nggak laku, dong. -_-

Setelah dijelaskan kalau penulis itu banyak, baru mereka mulai tertarik. Kakak Amin yang masuk sebelumnya adalah penulis buku, sedangkan aku -ngakunya- penulis cerita anak. Bawa Bobo, bawa impian bahwa mereka tetap bisa menjadi apapun yang mereka inginkan, sambil menjadi penulis. Dokter, bidan, pilot, siapapun bisa jadi penulis dan menyampaikan ilmu mereka sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Para inspirator dkk. Foto : Budi Kurniawan

Para inspirator dkk.
Foto : Budi Kurniawan

Habis acara, kita foto-foto. Yang lucu, mereka minta tanda tangan pada semua inspirator. “Duh, nak… Kami bukan artis. Tapi demi melihat kalian senang, ayok sini… Mana pulpennya?”

Rame, kan? Foto : Budi Kurniawan

Rame, kan?
Foto : Budi Kurniawan

Oya, kelas ini baru pertama kali diadakan di Bukittinggi. Sudah ada beberapa ulasan media online mengenai ini.

  1. Berita saat briefing di sini
  2. Saat kelas berlangsung di sini
  3. Ulasanku di rumah jamur kurcaci pos

Beberapa teman adalah KI (Kelas Inspirasi) hunter. Mereka menyerbu tempat terjauh demi pengalaman yang tak terulang lagi. Tapi bagiku dengan anak balita, rasanya itu sulit. Buktinya, baru berpisah seharian saja, aku sangat kangeeen sama Nurul.

Emak lebay. ^_^

Foto-foto Kiara

Gadis no 10, 8-21 Mei 2016

Gadis no 10, 8-21 Mei 2016

FOTO-FOTO KIARA

Oleh : Novia Erwida

Percikan kedua yang dimuat

Percikan kedua yang dimuat

Namanya Kiara. Gadis berumur sepuluh tahun itu dititipkan tante Rani selama seminggu di rumahku. Sebagai anak tunggal, aku sangat senang bisa punya adik walau cuma seminggu. Kehadirannya lumayan menghapus galauku karena baru diputus Galang.

Sore itu Kiara sudah wangi memakai baju santaidan membawa kameranya di leher.

“Kak Adya, kita jalan-jalan ke taman bunga, yuk?” ajaknya.

Aku mengangguk. “Oke.” Jawabku. Aku selalu siap menjadi kakak yang baik buatnya.

Sepanjang jalan, dia memegang tanganku. Sesekali mengayun-ayunkannya. Sedikit menyadarkanku dari lamunan tentang Galang. Matanya berkerling jenaka. “Kakak ngelamun ya?” godanya. Aku balas dengan memajukan bibir.

Saat kami melewati penjual balon, aku menawarkan satu balon buat Kiara.

“Ih… Kakak. Emang Kiara anak TK?” gerutunya.

Aku menepuk dahi. Aku masih berpikir kalau Kiara adalah Tiara, sepupu Galang yang berumur 5 tahun, yang sering kubelikan balon.

“Ups… Sori. Kirain kamu suka.” Jawabku ngeles.

Kami sampai di taman bunga. Hamparan bunga warna warni memanjakan mata. Langsung aku mewanti-wanti Kiara.

“Ambil gambarnya hati-hati, jangan sampai terinjak bunganya. Jangan selfie sambil tiduran. Kalau mau tiduran di rumah aja.” Jelasku panjang lebar.

Kiara melongo memandangku.

“Kak, mau dikasi gambar yang cakep gak?” tanyanya sambil mencolek lenganku.

Aku mengangguk cepat, lalu bergaya minta difoto.

“Foto cakep, kak. Bukan foto kakak.” Ralatnya.

Aduh, anak ini iseng banget.

Kiara berlari mengambil foto di pinggir hamparan bunga. “Yihaaa… Berasa di surgaaaa…” serunya.

Aku duduk di bangku kayu sambil memandang awan. Ada bayangan Galang di situ. Kenapa sih, dia ngikutin aku terus? Ternyata aku masih gagal move on.

Kubuka tasku. Ada komik yang belum selesai kubaca. Biarlah aku membunuh waktu dengan komikku. Kubuka halaman pertama komik. Ada tulisan Galang di sana. Komik ini pemberian Galang. Aku urung membacanya. Kuraih gadget, dan aku membuka sosial media.

Tanganku tak bisa kucegah membuka akun Galang. Semakin aku kepo, semakin aku sakit. Galang sedang online. Kutahan diri untuk tidak menyapanya duluan. Status terbarunya, berpacaran dengan…. Uh! Aku meledak. Aku harus segera move on. Akhirnya kumatikan gadget dan menyusul Kiara.

“Lihat fotonya dooong…” aku mendekati Kiara.

Wajah Kiara sumringah. Dia seperti habis menemukan harta karun.

“Cakep kaaak…” katanya sambil memperlihatkan hasil gambarnya.

Aku memencet tombol kamera dan melongo. Tak ada amarilis di sana. Tak ada mawar. Tak ada daisy. Tak satupun gambar bunga yang diambil.

“Mana bunganya?” tanyaku.

“Lho? Emang tadi aku bilang mau foto bunga? Kan aku suka motret serangga. Ada koleksi foto semut, kumbang, belalang, kupu-kupu, capung dan….”

Alisku terangkat. Ingin tahu kelanjutan kalimatnya.

“Kak Adya.” Serunya kencang.

“Aku? Serangga?” kukejar dia yang tertawa cekikikan.

Ah, Kiara…

***