Dimuat

Bu Rapi Sekali

Cerita Bobo No 34 Nov 2019

BU RAPI SEKALI

Oleh : Novia Erwida

Pagi ini Bu Rapi bangun dengan malas. Tak biasanya, karena Bu Rapi terlihat sedikit bosan. Setelah membuka jendela lebar-lebar, ia masuk dapur. Ia menyiapkan bekal, dan memasukkannya ke kotak bekal dua anaknya. Lalu menghidangkan sarapan untuk Pak Rajin, Riang dan Gembira.

“Selamat pagi, Bu.” sapa Riang yang sudah siap dengan seragamnya. Wajahnya segar sehabis mandi. Lanjutkan membaca “Bu Rapi Sekali”

Curhat Emak, Dunia Penulis

Lokakarya Penulisan Buku Cerita Anak Bermuatan Lokal (Hari Kedua)

Cerita hari pertama ada di sini.

Hari kedua lokakarya, saatnya mengembangkan ide cerita yang sudah dirancang hari sebelumnya. Tapi tunggu dulu, masih ada beberapa rambu yang harus diperhatikan.

Bagaimana karakter menggulirkan cerita.

  • Bagaimana dinamika interaksi antar tokoh?
  • Bagaimana tokoh menyelesaikan masalah? Apakah ini relevan dengan sifatnya?
  • Apakah resolusi terjadi secara natural?
  • Apakah tokoh berubah sifatnya / pandangannya / pendapatnya setelah cerita?

Alur cerita mencakup:

  • Eksposisi / menjelaskan
  • Ketegangan yang meningkat
  • Klimaks
  • Menyesuaikan masalahnya / finding action
  • Resolusi

Lanjutkan membaca “Lokakarya Penulisan Buku Cerita Anak Bermuatan Lokal (Hari Kedua)”

Curhat Emak, Dunia Penulis, Perjalanan

LOKAKARYA Pembuatan Buku Cerita Anak Bermuatan Lokal 17-18 September 2019 (Hari Pertama)

Tulisan ini sharing sesuai dengan janjiku pada beberapa orang teman. Semoga bermanfaat.

Beberapa waktu yang lalu, yayasan Litara dan Lets Read mengadakan seleksi untuk lokakarya di kampus ISI Padang Panjang. Tujuan utamanya membuat cerita anak dengan bahasa Minang. Aku ikut dan Alhamdulillah lolos tahap 1.

Dari 40an peserta, disaring jadi 25. Peserta ini yang mengikuti lokakarya untuk disaring lagi menjadi 10 peserta yang nanti akan membuat buku cerita anak berbahasa Minang. 10 peserta itu belum ketahuan, karena baru Rabu depan kami mengirim tugas untuk diseleksi lagi.

Pematerinya keren-keren. Ada Ibu Riama, dosen DKV ITB. Ada Ibu Sofie dan Ibu Eva Nukman dari Litara. Ada mas Reza dari Lets Read dan mbak Evelyn (illustrator).

Lanjutkan membaca “LOKAKARYA Pembuatan Buku Cerita Anak Bermuatan Lokal 17-18 September 2019 (Hari Pertama)”

Curhat Emak, Hikmah

Aku Sakit

Sebetulnya ini bukan keluhan, hm… tepatnya curhat deh agar kita hati-hati menjaga kesehatan. Beberapa bulan belakangan, aku gampang capek. Bawa motor dikit, capek. Habis ngajar, demam. Hampir setiap minggu aku mengeluh sakit. Beneran nggak ada tenaga. Pusing, sakit kepala, sakit saat sisir rambut. Rontok banyak. Bahkan saat melihat cermin, aku terlihat tuaaa sekali.

Minta duit sama suami biar beli krim perawatan. Dikabulkan. Oles berapa kalipun, nggak ngaruh. Kulit masih saja keriput. Demam pusing masih berlanjut. Sampai suatu hari, aku merasa benjolan di leherku. Sakit banget. Segede telur puyuh. Kuabaikan 3 hari sambil dioles but-but. Bukannya membaik, malah makin sakit, akhirnya nggak kuat. Makin sakit makin demam. Ke dokter deh.  Lanjutkan membaca “Aku Sakit”

Curhat Emak, Dunia Penulis, Foto, Perjalanan

Penghargaan Dari Balai Bahasa Sumbar 2018

Awal Agustus lalu, aku lengket dengan laptop untuk membuat novel anak. Rencananya mau diikutkan dalam lomba Balai Bahasa Sumbar 2018. Karena boleh ikut lebih dari 1 naskah, aku juga bawa naskah Rendang Padang dan Tok! Tok! Dendeng Batokok yang masih belum menemukan jodohnya setelah berputar lebih dari 3 penerbit sejak setahun lalu. Iya sih, tulisanku spesifik Minang banget, jadi menurut redaktur, bagusnya tulisanku itu hanya beredar di Sumbar saja. Okeh, kita coba semoga berjodoh.

Aku kirim 4 naskah (maruk euy!) dan ikut 2 kategori, untuk anak-anak dan remaja. Naskah remaja aku bikin kumcer, sayang sekali enggak lolos hehe. Begitu juga novelku. Yang lolos adalah naskah yang setelah sekian lama tak menemukan jalannya. Yap! Rendang Padang dan Tok! Tok! Dendeng Batokok lolos keduanya.

Para pemenang diundang ke kantor Balai Bahasa di Padang. Tahun lalu ada suami yang mengantarku. Tahun ini, aku lagi kurang enak badan, tapi harus jalan sendiri karena suami lagi di luar kota hiks. No problemo, kan ada travel yang mengantar sampai tujuan. Aku bangun jam 4 karena acaranya jam 8 pagi. Jemputan datang jam 4.30. Di pagi buta, aku udah siap dengan sekantong cemilan dan air minum di tas. Karena lagi nggak enak body, aku mual di travel. Untung nggak sampe mabok. Lanjutkan membaca “Penghargaan Dari Balai Bahasa Sumbar 2018”

Curhat Emak, Dunia Penulis

Menertawakan Kemalasan

Kalau menurutku, musuh utama penulis adalah malas. Nggak bisa disebut penulis kalau malas nulis. Kapan selesai tulisannya? Masa cuma wacana doang? Emang orang-orang bisa baca pikiran kita? Pindahin dong ke laptop, itu lebih menyebar dan bermanfaat. Saat ini aku lagi malas level dewa.

Awalnya karena rehat, capek dan bosan menulis. Dikit-dikit aku mulai meninggalkan tugas kelas, lama kelamaan bener-bener nggak bisa nulis. Awalnya menikmati, merasa bebas. Tapi begitu melihat pencapaian teman-teman, aku gigit jari. Mulai belajar nulis lagi. Kecepatan merangkai kata nggak selincah dulu. Ternyata aku tak sendiri, teman-teman di grup Merah Jambu dulu juga merasakan hal yang sama.

Tak perlu menyalahkan faktor luar dari kemalasan ini. Iya sih, peluang semakin sedikit. Majalah dan koran tak memuat banyak tulisan per minggunya. Tapi bukankah masih ada penerbit? Masih ada blog? Kok males sih? Mau duit nggak? #eh

Motivasi menulis memang berbeda. Kalau aku, selain memang passion, aku juga butuh duit. Biasanya, semakin aku bokek, semakin kenceng aku nulis. Lha, setahun belakangan, bokek nggak bokek aku malas terus. Chat sama mbak Yayan, kesibukanku maih biasa. Masih ngajar, ngasuh anak, trus bedanya apa dengan dulu? Malah sekarang lebih luang, aku bisa nulis saat Nurul sekolah seperti ini.

Kemarin Kalya Innovie dan Ruri Ummu Zayyan menulis status tentang kemalasan ini. Aku komen menertawakan, tapi lama-lama mikir, mau sampai kapan aku begini? Mau sampai kapan kemampuan menulisku tak berguna? Sampai malam, aku merenung terus. Ajakan teman-teman untuk membuat grup menulis, tidak aku tanggapi. Karena menulis untuk diri sendiri saja aku tidak bisa.

Perenungan itu berakhir dengan statusku, bahwa menulis itu dari diri sendiri. Bukan dari grup. Baiklah, aku akan menulis, dan terus menulis. Ini tulisan pertamaku melawan kemalasan. Semoga aku kembali rutin menulis.

Curhat Emak

Belajar Dari Sheila On 7

Dulu waktu masih memakai seragam putih abu, aku mulai ngefans artis asal Jogja ini. Dengan boomingnya lagu DAN, aku ganti idola dari Stinky menjadi SO7. Aku rajin mengikuti perkembangan mereka lewat media, waktu itu cuma modal TV dan majalah. Malah aku minta sepupuku yang di Jogja kirim foto personilnya, dan dapat foto Erros. Hahaha… Ingat kekonyolan jaman dulu, bikin aku malu sendiri.

Aku terus membeli kasetnya (mak, kamu lahir di jaman apa?), nabung dari uang sakuku. Semua album lengkap, sampai aku kuliah. Setelah tamat, aku merasa bukan anak muda lagi, dan meninggalkan kegilaan punya idola. Jadi ya biasa aja. Beberapa lagu hits aku hapal. Modal denger di radio seperti Yang Terlewatkan dsb. Tapi aku nggak beli CDnya.

Dan kemarin emak-emak angkatanku heboh di FB soal konser Sheila On 7 di Trans 7, aku jadi ikutan nyetel trans7. Tapi aku ga bisa liat, hiks. Parabolaku error. Mulanya cuek aja, tapi status teman-teman soal SO7 semua. Nggak kehilangan akal, aku streaming. Malah enak kalau gini, bisa nyambi bawa hp kemana-mana. Lanjutkan membaca “Belajar Dari Sheila On 7”