Curhat Emak, Hikmah

Aku Sakit

Sebetulnya ini bukan keluhan, hm… tepatnya curhat deh agar kita hati-hati menjaga kesehatan. Beberapa bulan belakangan, aku gampang capek. Bawa motor dikit, capek. Habis ngajar, demam. Hampir setiap minggu aku mengeluh sakit. Beneran nggak ada tenaga. Pusing, sakit kepala, sakit saat sisir rambut. Rontok banyak. Bahkan saat melihat cermin, aku terlihat tuaaa sekali.

Minta duit sama suami biar beli krim perawatan. Dikabulkan. Oles berapa kalipun, nggak ngaruh. Kulit masih saja keriput. Demam pusing masih berlanjut. Sampai suatu hari, aku merasa benjolan di leherku. Sakit banget. Segede telur puyuh. Kuabaikan 3 hari sambil dioles but-but. Bukannya membaik, malah makin sakit, akhirnya nggak kuat. Makin sakit makin demam. Ke dokter deh.  Continue reading “Aku Sakit”

Iklan
Curhat Emak, Dunia Penulis, Foto, Perjalanan

Penghargaan Dari Balai Bahasa Sumbar 2018

Awal Agustus lalu, aku lengket dengan laptop untuk membuat novel anak. Rencananya mau diikutkan dalam lomba Balai Bahasa Sumbar 2018. Karena boleh ikut lebih dari 1 naskah, aku juga bawa naskah Rendang Padang dan Tok! Tok! Dendeng Batokok yang masih belum menemukan jodohnya setelah berputar lebih dari 3 penerbit sejak setahun lalu. Iya sih, tulisanku spesifik Minang banget, jadi menurut redaktur, bagusnya tulisanku itu hanya beredar di Sumbar saja. Okeh, kita coba semoga berjodoh.

Aku kirim 4 naskah (maruk euy!) dan ikut 2 kategori, untuk anak-anak dan remaja. Naskah remaja aku bikin kumcer, sayang sekali enggak lolos hehe. Begitu juga novelku. Yang lolos adalah naskah yang setelah sekian lama tak menemukan jalannya. Yap! Rendang Padang dan Tok! Tok! Dendeng Batokok lolos keduanya.

Para pemenang diundang ke kantor Balai Bahasa di Padang. Tahun lalu ada suami yang mengantarku. Tahun ini, aku lagi kurang enak badan, tapi harus jalan sendiri karena suami lagi di luar kota hiks. No problemo, kan ada travel yang mengantar sampai tujuan. Aku bangun jam 4 karena acaranya jam 8 pagi. Jemputan datang jam 4.30. Di pagi buta, aku udah siap dengan sekantong cemilan dan air minum di tas. Karena lagi nggak enak body, aku mual di travel. Untung nggak sampe mabok. Continue reading “Penghargaan Dari Balai Bahasa Sumbar 2018”

Curhat Emak, Dunia Penulis

Menertawakan Kemalasan

Kalau menurutku, musuh utama penulis adalah malas. Nggak bisa disebut penulis kalau malas nulis. Kapan selesai tulisannya? Masa cuma wacana doang? Emang orang-orang bisa baca pikiran kita? Pindahin dong ke laptop, itu lebih menyebar dan bermanfaat. Saat ini aku lagi malas level dewa.

Awalnya karena rehat, capek dan bosan menulis. Dikit-dikit aku mulai meninggalkan tugas kelas, lama kelamaan bener-bener nggak bisa nulis. Awalnya menikmati, merasa bebas. Tapi begitu melihat pencapaian teman-teman, aku gigit jari. Mulai belajar nulis lagi. Kecepatan merangkai kata nggak selincah dulu. Ternyata aku tak sendiri, teman-teman di grup Merah Jambu dulu juga merasakan hal yang sama.

Tak perlu menyalahkan faktor luar dari kemalasan ini. Iya sih, peluang semakin sedikit. Majalah dan koran tak memuat banyak tulisan per minggunya. Tapi bukankah masih ada penerbit? Masih ada blog? Kok males sih? Mau duit nggak? #eh

Motivasi menulis memang berbeda. Kalau aku, selain memang passion, aku juga butuh duit. Biasanya, semakin aku bokek, semakin kenceng aku nulis. Lha, setahun belakangan, bokek nggak bokek aku malas terus. Chat sama mbak Yayan, kesibukanku maih biasa. Masih ngajar, ngasuh anak, trus bedanya apa dengan dulu? Malah sekarang lebih luang, aku bisa nulis saat Nurul sekolah seperti ini.

Kemarin Kalya Innovie dan Ruri Ummu Zayyan menulis status tentang kemalasan ini. Aku komen menertawakan, tapi lama-lama mikir, mau sampai kapan aku begini? Mau sampai kapan kemampuan menulisku tak berguna? Sampai malam, aku merenung terus. Ajakan teman-teman untuk membuat grup menulis, tidak aku tanggapi. Karena menulis untuk diri sendiri saja aku tidak bisa.

Perenungan itu berakhir dengan statusku, bahwa menulis itu dari diri sendiri. Bukan dari grup. Baiklah, aku akan menulis, dan terus menulis. Ini tulisan pertamaku melawan kemalasan. Semoga aku kembali rutin menulis.

 

 

Curhat Emak

Belajar Dari Sheila On 7

Dulu waktu masih memakai seragam putih abu, aku mulai ngefans artis asal Jogja ini. Dengan boomingnya lagu DAN, aku ganti idola dari Stinky menjadi SO7. Aku rajin mengikuti perkembangan mereka lewat media, waktu itu cuma modal TV dan majalah. Malah aku minta sepupuku yang di Jogja kirim foto personilnya, dan dapat foto Erros. Hahaha… Ingat kekonyolan jaman dulu, bikin aku malu sendiri.

Aku terus membeli kasetnya (mak, kamu lahir di jaman apa?), nabung dari uang sakuku. Semua album lengkap, sampai aku kuliah. Setelah tamat, aku merasa bukan anak muda lagi, dan meninggalkan kegilaan punya idola. Jadi ya biasa aja. Beberapa lagu hits aku hapal. Modal denger di radio seperti Yang Terlewatkan dsb. Tapi aku nggak beli CDnya.

Dan kemarin emak-emak angkatanku heboh di FB soal konser Sheila On 7 di Trans 7, aku jadi ikutan nyetel trans7. Tapi aku ga bisa liat, hiks. Parabolaku error. Mulanya cuek aja, tapi status teman-teman soal SO7 semua. Nggak kehilangan akal, aku streaming. Malah enak kalau gini, bisa nyambi bawa hp kemana-mana. Continue reading “Belajar Dari Sheila On 7”

Dimuat, Dunia Penulis

CERMA : ALERGI DRAKOR

Dimuat di Minggu Pagi, 3 Agustus 2018

Alergi Drakor
Foto Mas Heru Prasetyo

 

ALERGI DRAKOR

Oleh : Novia Erwida

 

“Jangan nonton drakor lagi. Kalian tahu berapa waktu yang terbuang sia-sia untuk sesuatu yang tak ada manfaatnya?” Wida menegakkan kacamatanya yang melorot.

“Belum lagi uang yang kalian habiskan untuk memburu pernak-pernik di mall. Nggak sayang menguras tabungan untuk itu?” Wida menaikkan alis, lalu menghela napas berat sambil menggeleng-geleng.

Irra dan Husna hanya saling memandang sambil melirik Wida yang terus berceramah tentang efektifitas waktu. Ruri dan Kalya manggut-manggut. Tak tega membiarkan Wida yang mulai ditinggalkan teman sekelas satu persatu. Banyak yang memandang sinis pada Wida, tapi Wida terus ceramah seperti sedang kampanye. Di matanya drakor itu suatu kesalahan, dan harus ditinggalkan agar semua kembali normal. Tak sekali dua kali Bu Nurul mendapati muridnya yang ketiduran di kelas. Alasan apalagi kalau bukan begadang nonton drakor?

Semua menggilai drakor, Ruri selalu membawa hard disk untuk dibagikan ke teman sekelas. Hanya Wida yang tak tertarik. Hanya Wida yang tidak ngantuk di kelas. Walau nilainya tetap pas-pasan, tapi dia bangga bisa bersikap teguh, tak goyah dengan trend yang sedang berlangsung. Menurutnya, trend akan terus berganti, kita tak perlu harus mengikuti semuanya.

Wida tak pernah heboh dengan model baju ala Korea, atau segala menu Korea, atau kosmetik yang sedang booming di kelasnya. Dia bangga tetap memakai pakaian serba batik, menu tradisional dan kosmetik alami. Segala yang ditawarkan teman-teman selalu dia tolak. Alasan utama, tentu saja mahal. Wida si bendahara kelas, yang kelakuannya persis Paman Gober. Sekeping uang seribuan tak pernah luput dari perhatiannya. Makanya Bu Nurul mempercayakan keuangan kelas padanya.

***

“Aku ngantuk.” Keluh Kalya.

“Habis nonton drakor sih…” sahut Wida tenang.

“Setrikaanku banyak, ibu gosok lagi pulang kampung.” balas Kalya sambil melotot. Wida cengengesan, dia melanjutkan membaca novelnya.

Irra demam, sudah dua hari.

“Pasti karena drakor.” omel Wida.

Ruri, Husna dan Kalya memandang tajam pada Wida. Wida gelagapan, berusaha membuat senyum manis yang terlihat aneh.

“Kenapa sih, kamu nyalahin drakor mulu. Kalau nggak suka, ya diam.” sentak Kalya.

Wida tersenyum kecut.

***

Wida menghapus ingusnya yang menetes sejak pagi tadi dengan tisu. Sudah berulang kali dia bersin. Kalau saja sekarang tak ada ulangan, mungkin Wida lebih memilih meringkuk dalam selimutnya yang hangat.

“Kamu habis nonton drakor?” tanya Ruri heran. Tak biasanya Wida kurang fit seperti ini.

Wida menggeleng sambil terus bersin-bersin.

Irra lewat di meja Wida. “Hai, gimana film yang aku kasih kemarin? Kamu suka?” tanya Irra dengan wajah ceria.

Kening Ruri berkerut. “Drakor?” tanyanya tanpa suara.

“Bukan, India.” jawab Irra kencang.

Kompak Ruri, Husna dan Kalya membelalakkan mata. Wida yang selama ini ceramah soal efektifitas waktu dan uang, ternyata juga melakukan hal yang tak jauh berbeda dengan teman sekelasnya. Hanya beda selera, antara drakor dan film India. Pantas saja kemarin Ruri melihat gelang ala India di tangan Wida. Tak biasanya anak itu punya aksesoris.

“Wow, seleramu sama dengan emakku.” celetuk Husna polos.

Seketika Wida keki mendengar tawa riuh teman-temannya.

***

Curhat Emak, Nurul, Parenting

Minggu Keempat Nurul Sekolah

Hari ini aku seneng banget. Nurul mau salim dan nggak pegang aku lagi menjelang masuk kelas. Tak ada drama, tak ada tangis, dan dia langsung berbaur bersama teman-temannya di kelas. Tinggal satu peer lagi, mengajarinya untuk diantar sampai gerbang sekolah.

Gurunya bilang selama belajar dia terlihat senang, mau mengikuti semua instruksi guru. Karena ada aku di sana makanya dia agak manja, kalau aku nggak ada, dia mandiri seperti anak lain.

Tapi pengakuan Nurul, karena dia harus selalu didampingi orang dewasa, dia sering merasa cemas saat ditinggal sebentar saja. Pernah Bu Guru ke kamar mandi sebentar, Nurul hanya bersama teman-temannya sekitar 20-an anak. Dia langsung menangis ketakutan. Katanya ada Guru lain yang menghapus air matanya, tapi dia maunya hanya wali kelasnya. Duh, nak..

Semua butuh proses kan? Kemajuan sekecil apapun harus disyukuri. Seperti hari ini. Setelah mengantar Nurul, aku sarapan dan mencuci baju. Berselancar di dunia maya sekejap, nanti jam 10.45 ke sekolah lagi menjemput Nurul. Senangnya kalau anak sudah sekolah, kita tidak selalu dibuntuti kemana pergi. Sudah bisa me time (sedikit-sedikit), bisa bikin bros dll untuk dijual, bisa nulis, bisa ini bisa itu.

Oke deh, aku mu siap-siap jemput Nurul dulu.

 

Curhat Emak, Nurul, Parenting

HARI PERTAMA NURUL SEKOLAH

Dulu Nurul sempat belajar di PAUD, tapi setiap hari harus ditemani. Kebayang kan,emak rempong ini terpaksa duduk nongkrongin sampai pelajaran selesai? Aku nggak tega lihat dia nangis-nangis. Daripada jadi masalah, ya sudah, aku tungguin setiap hari. Aku bawa bekal untuk membunuh waktu. Buku bacaan, ebook, atau unduh perpustakaan digital dengan beragam buku. Lain waktu (kalau rajin) aku juga menulis sedikit cerpen. Tapi suasana yang tidak tenang bikin aku nggak konsen.

Tanggal 9 Juli 2018 Nurul mulai masuk TK. Aku nggak mau dong, jadi “ibu penunggu” lagi. Dulu kupikir kalau anak sudah sekolah, aku bisa me time. Ternyata di minggu pertama dia berulah. Takut, malu dsb yang bikin aku harus menahan jengkel menemaninya di kelas. Ada rasa iri melihat orangtua yang sudah bisa melambaikan tangan pada anaknya tanpa diiringi tangisan. Duh,kapan ya aku seperti itu?

Pesan gurunya sih, kita harus tega. Iya awalnya pasti menangis. Tapi nanti dia akan mandiri. Ok, aku kuatkan diri. Aku ikhlaskan Nurul dan yakin kalau dia bisa. Dia mulai melambaikan tangan dan tersenyum memasuki gerbang sekolahnya. Takjub! Aku sama sekali nggak nyangka. Aku tetap tungguin, menunggu kalau-kalau dia nangis.

Dan benar saudara-saudara, saat anak-anak senam, ada lengkingan tangis yang sangat kukenal. Duh nak, rasanya pengen masuk meluk kamu. Tapi temanku bilang, biarkan saja dia belajar menyelesaikan masalah. Dia harus berani melawan takutnya. Akhirnya aku cuma sembunyi di balik pohon sambil dengerin nyanyian Nurul yang lumayan lama. Tapi hari itu dia berhasil.

Ternyata keberhasilan itu berujung trauma. Keesokan harinya, Nurul mogok masuk. Dia takut aku tinggal. Terpaksa mulai dari nol lagi, aku temani dalam kelas. Dan setiap aku lepasin genggaman tangannya, Nurul nangis. Drama semakin berlanjut, Nurul demam dan istirahat 4 hari.Di minggu ke tiga, balik lagi kaya anak baru. Padahal kata gurunya setiap ditinggal dia bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Malah di rumah sering nyanyi sendiri, nyanyian yang diajarkan gurunya.

Baiklah, abaikan soal rasa takutnya. Kalau begini terus, sebentar lagi dia masuk SD. Tak mungkin aku temani lagi. Berbagai sugesti kuucapkan untuk membuatnya berani. Mulai dari membujuk beli mainan, ajak jalan-jalan, dsb. Di rumah dia terlihat yakin, tapi sampai disekolah layu lagi. Belum banyak perubahan, semoga seiring berjalannya waktu, Nurulku bisa jadi anak berani. Amiiin…