Curhat Emak

Ulang Tahun Di Rumah Sakit

Nurul mengingatkan lewat video call, bahwa aku ulang tahun. Tapi kami terpisah, dia di rumah sama kakek nenek, aku di rumah sakit sama suami. Suami tanya aku mau apa?

Mau apa dong? Saat sakit ya maunya sehat. Nggak butuh kado apapun. Lagipula kan aku bukan bocah yang harus selalu diberi kado setiap ultah. Setiap ultah suamiku selalu menyiapkan kado dan kue, karena lagi di RS saja semua terasa sepi. Tapi aku nggak masalah sih.

Jadi saat aku pulang keesokan harinya, suamiku membeli kue untuk memenuhi keinginan Nurul. Nurul juga sibuk menyiapkan kado bareng ayahnya.

Sengaja nggak pakai angka, aku sudah semakin tua. 😁

Jadilah kue itu ulang tahun yang terlambat. Tak apa, kami bahagia bisa kembali berkumpul bersama.

Curhat Emak

Kenapa Harus Operasi?

Selama dirawat di RS, aku merasa tenang karena tidak ada jam bezuk bagi pasien. Aku bisa betul-betul istirahat. Aku hanya berdua dengan suamiku. Dia yang membantu semua kebutuhanku. Menyuapi, mengangkat tubuhku sebelum ke kamar mandi, dan menyiapkan segala keperluanku.

Pernah hari kedua habis operasi, aku merasa sangat mengantuk. Saat mengobrol dengan suami, aku tertidur. Saat shalat (habis operasi belum ada nifas) aku tertidur. Aku pikir ada gempa, karena aku merasa goyang-goyang. Ternyata HBku rendah. Lebih rendah dari saat operasi. Harus tambah darah lagi. Suami dan adikku sibuk mencari donor sampai tengah malam. Saat itu stok PMI habis. Suamiku memaksakan diri mendonorkan darahnya. Padahal dia bertugas menjagaku. Petugas PMI tidak mau, karena suamiku habis begadang dan darahnya tidak memenuhi syarat untuk didonorkan.

Akhirnya pukul 1 malam darah sudah ada dan aku transfusi lagi. Setelah itu, baru aku merasa lebih baik. Ternyata kondisiku masih naik turun. Padahal Nurul sudah berharap aku segera pulang.

4 hari di rumah sakit, aku boleh pulang. Seneng dong. Ketemu anak lagi. Nurul sangat menjagaku, dia nggak mau tidur denganku dengan alasan takut menyakiti perutku. Kan kalau tidur tidak sadar, nanti bunda ketendang, katanya. Dia juga suka mengusir sepupunya yang mendekatiku. “Awas perut bunda, ” Katanya. Sungguh anak yang manis.

Saat aku sudah pulang, mulai berdatangan tamu ke rumah. Dan aku mulai merasa lelah. Sebetulnya aku senang dengan kehadiran tetangga, teman kuliah, saudara dan teman-teman kerjaku. Tapi beberapa pertanyaan membuatku merasa bersalah. Hilang rasa percaya diriku yang sudah susah payah kupupuk dari rumah sakit. Pertanyaan-pertanyaan yang bernada menyalahkan, seperti kandungamu lemah? Kok harus operasi sih? Dikuret aja. Oh, hamil anggur?

Seperti siaran ulang aku menjelaskan bahwa hamil anggur dan hamil luar kandungan itu beda.

Hamil anggur tidak ada janin. Hamil di luar kandungan ada janin, tapi bukan di rahim.

Hamil anggur bisa luruh lewat bawah. Hamil luar kandungan, pendarahan di rongga perut. Jalannya memang harus operasi buka perut.

Kenapa bisa hamil di luar kandungan? Aduuuh, ini pertanyaan sulit. Dokterpun tak bisa memastikan penyebabnya. Aku merasa dihakimi dengan kandungan lemah, terlalu tua untuk hamil dll. Saat itu aku lelah dan penuh air mata. Padahal aku sedang mengimani takdir, ini yang terbaik untukku. Dokter sudah berusaha yang terbaik, menyelamatkan nyawa lebih penting.

Pantas saja banyak emak-emak baperan ya. Kondisiku sama seperti habis lahiran. Sudah ada nifas, faktor hormon bikin baperan, menerima hujatan pula dari orang-orang terdekat. Belum lagi kepo dengan biaya RS karena swasta. Aduuuh. Nyawa tak bisa ditukar dengan harta. Berapapun uang yang sudah keluar, aku tak memikirkan lagi.

Ada teman yang menghujat, ada pula teman yang menguatkan. Aku disuruh sediakan cabe buat nyambel mulut-mulut pedas. Disuruh banyak diam nggak usah bales. Pokoknya aku menikmati setiap perubahan drastis yang butuh energi lebih menghadapinya.

Sekarang aku mulai stabil, masih harus kontrol ke dokter sekali lagi. Mulai sehat pikiran nggak baper lagi. Tidak terlalu susah bergerak, insyaallah hanya menunggu pemulihan sambil berpikir positif.

Kepo boleh, banyak tanya boleh, tapi kita harus menganggap diri sama dengan kondisi si sakit. Tanyalah yang membuat hatinya terhibur. Bukan yang menbuatnya semakin sakit.

Curhat Emak

Pengalamanku Hamil Di Luar Kandungan

Aku butuh waktu untuk menetralkan hati menulis ini. Karena perasaanku kacau, baper, sedih dll campur jadi satu. Akhir Oktober lalu aku sering merasakan pusing, dingin dan gampang ngantuk. Bahkan saat mengajarpun aku sempat tertidur sambil duduk. Aku heran, nggak biasanya aku begini. Ditambah lagi sehabis kerja berat seperti nyuci 2 ember, biasanya aku sanggup langsung angkat dan jemur. Sekarang aku jeda dulu, badan rasanya gemetaran habis menyelesaikan 1 pekerjaan.

Aku merasa ada yang berubah dari badanku. Saat aku cek aku sudah telat haid, langsung aku beli tespek 2 biji dan mengetes hari itu juga. Mungkin karena terlalu tergesa-gesa, aku nggak nunggu pagi dulu, hasilnya ya negatif. Tak lama, coba lagi satu, negatif lagi. Tapi aku ada feeling ada yang berubah. Aku menunggu apakah haidku telat atau mungkin kadar hcgnya belum terlalu tinggi sehingga tidak terdeteksi oleh tespek. Mana bukan air seni pagi, wajar hasilnya negatif.

Keesokan hari aku masih belum haid. Aku beli tespek lagi dan mulai hati-hati banget bawa motor. Kali ini aku sabar, nunggu keesokan paginya baru dites. Benar saja, ada dua garis di sana. Haru, kaget, seneng, bingung campur jadi satu. Nurul sudah 8 tahun, dan aku tidak pernah menunda kehamilan. Baru sekarang dikasih. Di saat umur menjelang 40 tahun pula. Alhamdulillah ala kulli haal.

Langsung kabari suami, dia kaget ga percaya. Tapi mulai wanti-wanti aku nggak boleh kerja berat. Urusan nyuci dia yang pegang. Ya, ini rezeki tak terduga. Sekarang saatnya menjaga amanah ini agar tumbuh sehat. Tapi hal ini belum kuberitahu sama Nurul. Dia memang sudah lama pengen punya adik, tapi belum dapat. Aku mau memastikan dulu lewat usg, rencananya mau kasih kejutan dengan foto bayi di USG.

Minggu kelima kehamilan aku baru mengunjungi dokter. Sengaja, karena dulu waktu hamil Nurul, aku USG dan belum terlihat bayinya. Aku kecewa dan tak mau terulang lagi. Tapi kali ini aku ganti dokter, ini kesalahan pertama. Ternyata dokternya buru-buru memeriksa, dan tidak menemukan apa-apa di rahimku. Malah nanya, “Mana sih, mana sih, kok nggak kelihatan? ”

Mana kutahu, Bambang, kan aku bukan dokternya. Aku jadi sebel. Aku mulai ada feeling nggak enak. Apakah hamilku bermasalah? Iya sih, beberapa hari ini aku merasakan perutku kencang banget, kaya kram gitu. Tapi aku cuma pakai minyak gosok, karena kupikir faktor kembung yang biasa dialami ibu hamil. Kupikir karena umur, mungkin kehamilan ini terasa lebih berat. Aku dikasih vitamin kehamilan dan obat mual sama dokternya. Disuruh istirahat, dan aku minta izin sama kepsek buat nggak ngajar dulu.

Seminggu kemudian, aku merasa sakit di perut. Seperti kontraksi gitu. Kaya mau mens tapi nggak ada yang keluar. Ayahku bilang aku terlihat pucat. Iya sih, aku sempat pusing-pusing dan hampir jatuh. Tapi kupikir itu normal, karena aku hamil di usia menjelang tua. Akhirnya aku tiduran seharian, perut rasanya gendut banget. Aku oles minyak lagi.

Tengah malam aku pengen BAB. Aku heran, kenapa pipisnya nggak keluar ya. Sakiiiit banget waktu BAB. Aku tunggu beberapa jam kemudian, sampai akhirnya aku merasa ini tidak beres. Aku harus ke IGD. Mana suami lagi nggak di rumah, jadinya aku ketok-ketok pintu kamar adikku minta diantar ke IGD. Ibuku ikut, dan aku tinggal Nurul yang sedang tidur nyenyak sama Ayah.

Rumah sakit nggak sembarangan terima pasien. Aku sempat ditolak di salah satu RS. Katanya di sini nggak ada dokter kebidanan. Akhirnya pindah ke RS swasta tempat Nurul dilahirkan dulu. Syukurlah badanku nggak panas, nggak batuk dan gejala covid lainnya, jadi aku bisa segera ditangani. Tapi aku cuma disuruh pipis. Disuruh minum banyak. Kupikir bakal dibantu pake kateter karena dari rumah aku sudah kesakitan. Ternyata cuma dibiarkan, katanya nanti bakal keluar sendiri pipisnya. Aku dikasi tabung untuk mengetes air seni.

Sakit perutku makin menjadi. Baring salah, miring salah. Akhirnya setelah beberapa jam, aku dipasangi kateter. Lega rasanya, sakit perutku berkurang. Urinku langsung diperiksa di labor. Aku istirahat di ruang IGD sambil berdoa anakku baik-baik saja.

Beberapa jam kemudian, dokternya datang dan menjelaskan kalau kandunganku bermasalah. Bisa dilihat dari tes urin. Aku hamil di luar kandungan, harus operasi pagi itu juga. Kaget dong, sedih banget pasti. Untung aku belum kasih tahu Nurul kalau dia bakal punya adik. Keluarga support aku untuk operasi. Memang hanya itu jalannya. Aku langsung hubungi suami agar segera pulang.

Aku takut kalau sehabis operasi aku tak bangun lagi. Aku takut meninggalkan Nurul, dan belum siap mati. Ibuku terus mengulang-ulang agar aku ingat Allah.

Di ruang bersalin aku diperiksa. Memang dipastikan hamil di luar kandungan dan segera operasi. Aku minta doa pada semua perawat, bidan, bahkan OB yang membersihkan ruangan. Aku takut sekali. Tapi aku harus siap. Hanya modal mengingat Allah. Akupun pasrah.

Sebelum operasi dimulai, aku dan tim dokter berdoa dulu. Airmataku menetes. Aku ikhlas dan pasrah. Mataku menjauh dari lampu operasi. Aku takut melihat perutku dibedah. Ada bayangan seperti cermin di sana. Tepat di perutku. Terlihat tangan-tangan dokter memakai sarung tangan. Juga kain hijau yang menutupi tubuhku. Aku mengalihkan pandangan, hanya melihat ke kiri dan ke kanan, atau melihat kain penutup antara aku dan tim dokter.

Dug dug dug… Jantungku berdetak kencang seperti mau loncat dari dadaku. Aku dengar suara itu dari mesin. Ingat Allah. Ingat Allah. Setelah jantungnya berdetak kencang sekali, aku merasa melayang. Kulihat dokter anastesi menghampiri temannya, berbisik. Aku pasrah, mungkinkah ini akhir jalanku? Kelopak mata bawahku diperiksa. Lalu salah satu dokter menyuntikkan sesuatu ke infusku. Lalu aku mulai merasa segar dan detak jantungku mulai stabil.

Aku operasi seperti melahirkan dulu. Masih bisa dengar suara dokter. Masih sadar sesadar-sadarnya. Hanya separo badanku dari perut sampai kaki yang kebal rasa. Ruangan operasinya dingin, dan aku menggigil selama proses operasi sampai gigiku gemeletuk.

“Dingin, ” Keluhku

“Sabar, bu. Nanti habis tambah darah badan ibu akan membaik. Saat ini ibu pucat karena banyak darah yang keluar,” Kata dokter anastesi yang siap siaga di bagian kepalaku.

Dokter kandungan dan beberapa asistennya terus membersihkan rongga perutku. Proses operasi dimulai dari jam 9.15-10.15 pagi (12 Nov 2020). Aku mengalami pendaraham dalam rongga perut, karena itu aku merasa pusing dan lemas. Setelah operasi selesai, aku dibawa ke ruang pemulihan. Tak lupa kuucapkan terima kasih pada semua tim dokter yang sudah membantuku.

Di ruang pemulihan, aku dibiarkan sendiri. Diberi selimut tebal sambil menunggu darah. Aku masih menggigil. Dokter bilang mukaku memang pucat, tapi nanti badan akan hangat saat darah dimasukkan. Aku disuruh tidur, tapi mataku tak mau terpejam. Padahal 2 operasi yang sudah kulewati sebelumnya, aku sadar lalu betul-betul tidur bahkan sebelum operasi berakhir.

Aku berterima kasih pada Allah masih diberi kesempatan hidup. Masih bisa minta ampun atas dosa-dosaku. Masih diberi kesempatan bertemu anakku. Tiba-tiba aku ingat Nurul. Apa yang harus kujelaskan padanya? Aku sakit apa? Jujur saja bilang kalau dia mau punya adik tapi belum rezeki? Seketika mataku memanas mengingat janin yang baru berusia 6 minggu yang sempat sangat kujaga. Airmataku mengalir deras. Sedih dan bersyukur.

Saat perawat datang membawa darah, kuhapus airmataku. Benar saja, badanku mulai hangat begitu darah dimasukkan. Aku menikmati setiap tetesan darah yang menetes. Berterimakasih pada siapapun yang sudah menyelamatkanku lewat donor darah. Ada 4 kantong yang kubutuhkan. Hari itu hidupku penuh terima kasih. Dibalik musibah yang menimpaku, banyak orang-orang yang peduli padaku.

Curhat Emak, Dunia Penulis

Lokakarya Penulisan Buku Cerita Anak Bermuatan Lokal (Hari Kedua)

Cerita hari pertama ada di sini.

Hari kedua lokakarya, saatnya mengembangkan ide cerita yang sudah dirancang hari sebelumnya. Tapi tunggu dulu, masih ada beberapa rambu yang harus diperhatikan.

Bagaimana karakter menggulirkan cerita.

  • Bagaimana dinamika interaksi antar tokoh?
  • Bagaimana tokoh menyelesaikan masalah? Apakah ini relevan dengan sifatnya?
  • Apakah resolusi terjadi secara natural?
  • Apakah tokoh berubah sifatnya / pandangannya / pendapatnya setelah cerita?

Alur cerita mencakup:

  • Eksposisi / menjelaskan
  • Ketegangan yang meningkat
  • Klimaks
  • Menyesuaikan masalahnya / finding action
  • Resolusi

Lanjutkan membaca “Lokakarya Penulisan Buku Cerita Anak Bermuatan Lokal (Hari Kedua)”

Curhat Emak, Dunia Penulis, Perjalanan

LOKAKARYA Pembuatan Buku Cerita Anak Bermuatan Lokal 17-18 September 2019 (Hari Pertama)

Tulisan ini sharing sesuai dengan janjiku pada beberapa orang teman. Semoga bermanfaat.

Beberapa waktu yang lalu, yayasan Litara dan Lets Read mengadakan seleksi untuk lokakarya di kampus ISI Padang Panjang. Tujuan utamanya membuat cerita anak dengan bahasa Minang. Aku ikut dan Alhamdulillah lolos tahap 1.

Dari 40an peserta, disaring jadi 25. Peserta ini yang mengikuti lokakarya untuk disaring lagi menjadi 10 peserta yang nanti akan membuat buku cerita anak berbahasa Minang. 10 peserta itu belum ketahuan, karena baru Rabu depan kami mengirim tugas untuk diseleksi lagi.

Pematerinya keren-keren. Ada Ibu Riama, dosen DKV ITB. Ada Ibu Sofie dan Ibu Eva Nukman dari Litara. Ada mas Reza dari Lets Read dan mbak Evelyn (illustrator).

Lanjutkan membaca “LOKAKARYA Pembuatan Buku Cerita Anak Bermuatan Lokal 17-18 September 2019 (Hari Pertama)”

Curhat Emak, Hikmah

Aku Sakit

Sebetulnya ini bukan keluhan, hm… tepatnya curhat deh agar kita hati-hati menjaga kesehatan. Beberapa bulan belakangan, aku gampang capek. Bawa motor dikit, capek. Habis ngajar, demam. Hampir setiap minggu aku mengeluh sakit. Beneran nggak ada tenaga. Pusing, sakit kepala, sakit saat sisir rambut. Rontok banyak. Bahkan saat melihat cermin, aku terlihat tuaaa sekali.

Minta duit sama suami biar beli krim perawatan. Dikabulkan. Oles berapa kalipun, nggak ngaruh. Kulit masih saja keriput. Demam pusing masih berlanjut. Sampai suatu hari, aku merasa benjolan di leherku. Sakit banget. Segede telur puyuh. Kuabaikan 3 hari sambil dioles but-but. Bukannya membaik, malah makin sakit, akhirnya nggak kuat. Makin sakit makin demam. Ke dokter deh.  Lanjutkan membaca “Aku Sakit”

Curhat Emak, Dunia Penulis, Foto, Perjalanan

Penghargaan Dari Balai Bahasa Sumbar 2018

Awal Agustus lalu, aku lengket dengan laptop untuk membuat novel anak. Rencananya mau diikutkan dalam lomba Balai Bahasa Sumbar 2018. Karena boleh ikut lebih dari 1 naskah, aku juga bawa naskah Rendang Padang dan Tok! Tok! Dendeng Batokok yang masih belum menemukan jodohnya setelah berputar lebih dari 3 penerbit sejak setahun lalu. Iya sih, tulisanku spesifik Minang banget, jadi menurut redaktur, bagusnya tulisanku itu hanya beredar di Sumbar saja. Okeh, kita coba semoga berjodoh.

Aku kirim 4 naskah (maruk euy!) dan ikut 2 kategori, untuk anak-anak dan remaja. Naskah remaja aku bikin kumcer, sayang sekali enggak lolos hehe. Begitu juga novelku. Yang lolos adalah naskah yang setelah sekian lama tak menemukan jalannya. Yap! Rendang Padang dan Tok! Tok! Dendeng Batokok lolos keduanya.

Para pemenang diundang ke kantor Balai Bahasa di Padang. Tahun lalu ada suami yang mengantarku. Tahun ini, aku lagi kurang enak badan, tapi harus jalan sendiri karena suami lagi di luar kota hiks. No problemo, kan ada travel yang mengantar sampai tujuan. Aku bangun jam 4 karena acaranya jam 8 pagi. Jemputan datang jam 4.30. Di pagi buta, aku udah siap dengan sekantong cemilan dan air minum di tas. Karena lagi nggak enak body, aku mual di travel. Untung nggak sampe mabok. Lanjutkan membaca “Penghargaan Dari Balai Bahasa Sumbar 2018”

Curhat Emak, Dunia Penulis

Menertawakan Kemalasan

Kalau menurutku, musuh utama penulis adalah malas. Nggak bisa disebut penulis kalau malas nulis. Kapan selesai tulisannya? Masa cuma wacana doang? Emang orang-orang bisa baca pikiran kita? Pindahin dong ke laptop, itu lebih menyebar dan bermanfaat. Saat ini aku lagi malas level dewa.

Awalnya karena rehat, capek dan bosan menulis. Dikit-dikit aku mulai meninggalkan tugas kelas, lama kelamaan bener-bener nggak bisa nulis. Awalnya menikmati, merasa bebas. Tapi begitu melihat pencapaian teman-teman, aku gigit jari. Mulai belajar nulis lagi. Kecepatan merangkai kata nggak selincah dulu. Ternyata aku tak sendiri, teman-teman di grup Merah Jambu dulu juga merasakan hal yang sama.

Tak perlu menyalahkan faktor luar dari kemalasan ini. Iya sih, peluang semakin sedikit. Majalah dan koran tak memuat banyak tulisan per minggunya. Tapi bukankah masih ada penerbit? Masih ada blog? Kok males sih? Mau duit nggak? #eh

Motivasi menulis memang berbeda. Kalau aku, selain memang passion, aku juga butuh duit. Biasanya, semakin aku bokek, semakin kenceng aku nulis. Lha, setahun belakangan, bokek nggak bokek aku malas terus. Chat sama mbak Yayan, kesibukanku maih biasa. Masih ngajar, ngasuh anak, trus bedanya apa dengan dulu? Malah sekarang lebih luang, aku bisa nulis saat Nurul sekolah seperti ini.

Kemarin Kalya Innovie dan Ruri Ummu Zayyan menulis status tentang kemalasan ini. Aku komen menertawakan, tapi lama-lama mikir, mau sampai kapan aku begini? Mau sampai kapan kemampuan menulisku tak berguna? Sampai malam, aku merenung terus. Ajakan teman-teman untuk membuat grup menulis, tidak aku tanggapi. Karena menulis untuk diri sendiri saja aku tidak bisa.

Perenungan itu berakhir dengan statusku, bahwa menulis itu dari diri sendiri. Bukan dari grup. Baiklah, aku akan menulis, dan terus menulis. Ini tulisan pertamaku melawan kemalasan. Semoga aku kembali rutin menulis.

Curhat Emak

Belajar Dari Sheila On 7

Dulu waktu masih memakai seragam putih abu, aku mulai ngefans artis asal Jogja ini. Dengan boomingnya lagu DAN, aku ganti idola dari Stinky menjadi SO7. Aku rajin mengikuti perkembangan mereka lewat media, waktu itu cuma modal TV dan majalah. Malah aku minta sepupuku yang di Jogja kirim foto personilnya, dan dapat foto Erros. Hahaha… Ingat kekonyolan jaman dulu, bikin aku malu sendiri.

Aku terus membeli kasetnya (mak, kamu lahir di jaman apa?), nabung dari uang sakuku. Semua album lengkap, sampai aku kuliah. Setelah tamat, aku merasa bukan anak muda lagi, dan meninggalkan kegilaan punya idola. Jadi ya biasa aja. Beberapa lagu hits aku hapal. Modal denger di radio seperti Yang Terlewatkan dsb. Tapi aku nggak beli CDnya.

Dan kemarin emak-emak angkatanku heboh di FB soal konser Sheila On 7 di Trans 7, aku jadi ikutan nyetel trans7. Tapi aku ga bisa liat, hiks. Parabolaku error. Mulanya cuek aja, tapi status teman-teman soal SO7 semua. Nggak kehilangan akal, aku streaming. Malah enak kalau gini, bisa nyambi bawa hp kemana-mana. Lanjutkan membaca “Belajar Dari Sheila On 7”

Curhat Emak, Nurul, Parenting

Minggu Keempat Nurul Sekolah

Hari ini aku seneng banget. Nurul mau salim dan nggak pegang aku lagi menjelang masuk kelas. Tak ada drama, tak ada tangis, dan dia langsung berbaur bersama teman-temannya di kelas. Tinggal satu peer lagi, mengajarinya untuk diantar sampai gerbang sekolah.

Gurunya bilang selama belajar dia terlihat senang, mau mengikuti semua instruksi guru. Karena ada aku di sana makanya dia agak manja, kalau aku nggak ada, dia mandiri seperti anak lain.

Tapi pengakuan Nurul, karena dia harus selalu didampingi orang dewasa, dia sering merasa cemas saat ditinggal sebentar saja. Pernah Bu Guru ke kamar mandi sebentar, Nurul hanya bersama teman-temannya sekitar 20-an anak. Dia langsung menangis ketakutan. Katanya ada Guru lain yang menghapus air matanya, tapi dia maunya hanya wali kelasnya. Duh, nak..

Semua butuh proses kan? Kemajuan sekecil apapun harus disyukuri. Seperti hari ini. Setelah mengantar Nurul, aku sarapan dan mencuci baju. Berselancar di dunia maya sekejap, nanti jam 10.45 ke sekolah lagi menjemput Nurul. Senangnya kalau anak sudah sekolah, kita tidak selalu dibuntuti kemana pergi. Sudah bisa me time (sedikit-sedikit), bisa bikin bros dll untuk dijual, bisa nulis, bisa ini bisa itu.

Oke deh, aku mu siap-siap jemput Nurul dulu.