Curhat Emak, Dunia Penulis

Lokakarya Penulisan Buku Cerita Anak Bermuatan Lokal (Hari Kedua)

Cerita hari pertama ada di sini.

Hari kedua lokakarya, saatnya mengembangkan ide cerita yang sudah dirancang hari sebelumnya. Tapi tunggu dulu, masih ada beberapa rambu yang harus diperhatikan.

Bagaimana karakter menggulirkan cerita.

  • Bagaimana dinamika interaksi antar tokoh?
  • Bagaimana tokoh menyelesaikan masalah? Apakah ini relevan dengan sifatnya?
  • Apakah resolusi terjadi secara natural?
  • Apakah tokoh berubah sifatnya / pandangannya / pendapatnya setelah cerita?

Alur cerita mencakup:

  • Eksposisi / menjelaskan
  • Ketegangan yang meningkat
  • Klimaks
  • Menyesuaikan masalahnya / finding action
  • Resolusi

Lanjutkan membaca “Lokakarya Penulisan Buku Cerita Anak Bermuatan Lokal (Hari Kedua)”

Curhat Emak, Dunia Penulis, Perjalanan

LOKAKARYA Pembuatan Buku Cerita Anak Bermuatan Lokal 17-18 September 2019 (Hari Pertama)

Tulisan ini sharing sesuai dengan janjiku pada beberapa orang teman. Semoga bermanfaat.

Beberapa waktu yang lalu, yayasan Litara dan Lets Read mengadakan seleksi untuk lokakarya di kampus ISI Padang Panjang. Tujuan utamanya membuat cerita anak dengan bahasa Minang. Aku ikut dan Alhamdulillah lolos tahap 1.

Dari 40an peserta, disaring jadi 25. Peserta ini yang mengikuti lokakarya untuk disaring lagi menjadi 10 peserta yang nanti akan membuat buku cerita anak berbahasa Minang. 10 peserta itu belum ketahuan, karena baru Rabu depan kami mengirim tugas untuk diseleksi lagi.

Pematerinya keren-keren. Ada Ibu Riama, dosen DKV ITB. Ada Ibu Sofie dan Ibu Eva Nukman dari Litara. Ada mas Reza dari Lets Read dan mbak Evelyn (illustrator).

Lanjutkan membaca “LOKAKARYA Pembuatan Buku Cerita Anak Bermuatan Lokal 17-18 September 2019 (Hari Pertama)”

Curhat Emak, Dunia Penulis, Foto, Perjalanan

Penghargaan Dari Balai Bahasa Sumbar 2018

Awal Agustus lalu, aku lengket dengan laptop untuk membuat novel anak. Rencananya mau diikutkan dalam lomba Balai Bahasa Sumbar 2018. Karena boleh ikut lebih dari 1 naskah, aku juga bawa naskah Rendang Padang dan Tok! Tok! Dendeng Batokok yang masih belum menemukan jodohnya setelah berputar lebih dari 3 penerbit sejak setahun lalu. Iya sih, tulisanku spesifik Minang banget, jadi menurut redaktur, bagusnya tulisanku itu hanya beredar di Sumbar saja. Okeh, kita coba semoga berjodoh.

Aku kirim 4 naskah (maruk euy!) dan ikut 2 kategori, untuk anak-anak dan remaja. Naskah remaja aku bikin kumcer, sayang sekali enggak lolos hehe. Begitu juga novelku. Yang lolos adalah naskah yang setelah sekian lama tak menemukan jalannya. Yap! Rendang Padang dan Tok! Tok! Dendeng Batokok lolos keduanya.

Para pemenang diundang ke kantor Balai Bahasa di Padang. Tahun lalu ada suami yang mengantarku. Tahun ini, aku lagi kurang enak badan, tapi harus jalan sendiri karena suami lagi di luar kota hiks. No problemo, kan ada travel yang mengantar sampai tujuan. Aku bangun jam 4 karena acaranya jam 8 pagi. Jemputan datang jam 4.30. Di pagi buta, aku udah siap dengan sekantong cemilan dan air minum di tas. Karena lagi nggak enak body, aku mual di travel. Untung nggak sampe mabok. Lanjutkan membaca “Penghargaan Dari Balai Bahasa Sumbar 2018”

Curhat Emak, Dunia Penulis

Menertawakan Kemalasan

Kalau menurutku, musuh utama penulis adalah malas. Nggak bisa disebut penulis kalau malas nulis. Kapan selesai tulisannya? Masa cuma wacana doang? Emang orang-orang bisa baca pikiran kita? Pindahin dong ke laptop, itu lebih menyebar dan bermanfaat. Saat ini aku lagi malas level dewa.

Awalnya karena rehat, capek dan bosan menulis. Dikit-dikit aku mulai meninggalkan tugas kelas, lama kelamaan bener-bener nggak bisa nulis. Awalnya menikmati, merasa bebas. Tapi begitu melihat pencapaian teman-teman, aku gigit jari. Mulai belajar nulis lagi. Kecepatan merangkai kata nggak selincah dulu. Ternyata aku tak sendiri, teman-teman di grup Merah Jambu dulu juga merasakan hal yang sama.

Tak perlu menyalahkan faktor luar dari kemalasan ini. Iya sih, peluang semakin sedikit. Majalah dan koran tak memuat banyak tulisan per minggunya. Tapi bukankah masih ada penerbit? Masih ada blog? Kok males sih? Mau duit nggak? #eh

Motivasi menulis memang berbeda. Kalau aku, selain memang passion, aku juga butuh duit. Biasanya, semakin aku bokek, semakin kenceng aku nulis. Lha, setahun belakangan, bokek nggak bokek aku malas terus. Chat sama mbak Yayan, kesibukanku maih biasa. Masih ngajar, ngasuh anak, trus bedanya apa dengan dulu? Malah sekarang lebih luang, aku bisa nulis saat Nurul sekolah seperti ini.

Kemarin Kalya Innovie dan Ruri Ummu Zayyan menulis status tentang kemalasan ini. Aku komen menertawakan, tapi lama-lama mikir, mau sampai kapan aku begini? Mau sampai kapan kemampuan menulisku tak berguna? Sampai malam, aku merenung terus. Ajakan teman-teman untuk membuat grup menulis, tidak aku tanggapi. Karena menulis untuk diri sendiri saja aku tidak bisa.

Perenungan itu berakhir dengan statusku, bahwa menulis itu dari diri sendiri. Bukan dari grup. Baiklah, aku akan menulis, dan terus menulis. Ini tulisan pertamaku melawan kemalasan. Semoga aku kembali rutin menulis.

Dimuat, Dunia Penulis

CERMA : ALERGI DRAKOR

Dimuat di Minggu Pagi, 3 Agustus 2018

Alergi Drakor
Foto Mas Heru Prasetyo

ALERGI DRAKOR

Oleh : Novia Erwida

“Jangan nonton drakor lagi. Kalian tahu berapa waktu yang terbuang sia-sia untuk sesuatu yang tak ada manfaatnya?” Wida menegakkan kacamatanya yang melorot.

“Belum lagi uang yang kalian habiskan untuk memburu pernak-pernik di mall. Nggak sayang menguras tabungan untuk itu?” Wida menaikkan alis, lalu menghela napas berat sambil menggeleng-geleng.

Irra dan Husna hanya saling memandang sambil melirik Wida yang terus berceramah tentang efektifitas waktu. Ruri dan Kalya manggut-manggut. Tak tega membiarkan Wida yang mulai ditinggalkan teman sekelas satu persatu. Banyak yang memandang sinis pada Wida, tapi Wida terus ceramah seperti sedang kampanye. Di matanya drakor itu suatu kesalahan, dan harus ditinggalkan agar semua kembali normal. Tak sekali dua kali Bu Nurul mendapati muridnya yang ketiduran di kelas. Alasan apalagi kalau bukan begadang nonton drakor?

Semua menggilai drakor, Ruri selalu membawa hard disk untuk dibagikan ke teman sekelas. Hanya Wida yang tak tertarik. Hanya Wida yang tidak ngantuk di kelas. Walau nilainya tetap pas-pasan, tapi dia bangga bisa bersikap teguh, tak goyah dengan trend yang sedang berlangsung. Menurutnya, trend akan terus berganti, kita tak perlu harus mengikuti semuanya.

Wida tak pernah heboh dengan model baju ala Korea, atau segala menu Korea, atau kosmetik yang sedang booming di kelasnya. Dia bangga tetap memakai pakaian serba batik, menu tradisional dan kosmetik alami. Segala yang ditawarkan teman-teman selalu dia tolak. Alasan utama, tentu saja mahal. Wida si bendahara kelas, yang kelakuannya persis Paman Gober. Sekeping uang seribuan tak pernah luput dari perhatiannya. Makanya Bu Nurul mempercayakan keuangan kelas padanya.

***

“Aku ngantuk.” Keluh Kalya.

“Habis nonton drakor sih…” sahut Wida tenang.

“Setrikaanku banyak, ibu gosok lagi pulang kampung.” balas Kalya sambil melotot. Wida cengengesan, dia melanjutkan membaca novelnya.

Irra demam, sudah dua hari.

“Pasti karena drakor.” omel Wida.

Ruri, Husna dan Kalya memandang tajam pada Wida. Wida gelagapan, berusaha membuat senyum manis yang terlihat aneh.

“Kenapa sih, kamu nyalahin drakor mulu. Kalau nggak suka, ya diam.” sentak Kalya.

Wida tersenyum kecut.

***

Wida menghapus ingusnya yang menetes sejak pagi tadi dengan tisu. Sudah berulang kali dia bersin. Kalau saja sekarang tak ada ulangan, mungkin Wida lebih memilih meringkuk dalam selimutnya yang hangat.

“Kamu habis nonton drakor?” tanya Ruri heran. Tak biasanya Wida kurang fit seperti ini.

Wida menggeleng sambil terus bersin-bersin.

Irra lewat di meja Wida. “Hai, gimana film yang aku kasih kemarin? Kamu suka?” tanya Irra dengan wajah ceria.

Kening Ruri berkerut. “Drakor?” tanyanya tanpa suara.

“Bukan, India.” jawab Irra kencang.

Kompak Ruri, Husna dan Kalya membelalakkan mata. Wida yang selama ini ceramah soal efektifitas waktu dan uang, ternyata juga melakukan hal yang tak jauh berbeda dengan teman sekelasnya. Hanya beda selera, antara drakor dan film India. Pantas saja kemarin Ruri melihat gelang ala India di tangan Wida. Tak biasanya anak itu punya aksesoris.

“Wow, seleramu sama dengan emakku.” celetuk Husna polos.

Seketika Wida keki mendengar tawa riuh teman-temannya.

***

Curhat Emak, Dunia Penulis, Foto, Hikmah

WORKSHOP TERE LIYE (Part II)

Menyambung puzzle ingatan workshop Tere Liye kemarin. Kesimpulan dasar dari semua penjabarannya hanya satu. Yaitu terus latihan menulis. Tere Liye sama sekali tidak menyinggung soal halangan dalam menulis, misalnya waktu yang sempit untuk menulis, tidak tersedia sarana seperti laptop dll. Dia menceritakan kisah masa kecilnya yang hidup dalam keterbatasan. Di kampungnya sangat terpencil, anak-anak biasa mendengarkan dongeng. Kebiasaan itu salah satu yang memotivasinya untuk bisa jadi penulis.

IMG_20180501_082600_BURST1

Malah anak jaman now lebih sering menulis dari anak jadul. Lihat saja di akun sosial media. Berapa kali remaja membuat status, komentar, sharing dan membaca lewat internet. Harusnya tulisan-tulisan itu bisa lebih terarah dan jadi sebuah buku, daripada membuat sepotong kalimat yang kadang tidak ada artinya. Malah kebanyakan sosial media dijadikan alat untuk saling mencela, sayang sekali, kan?

Lanjutkan membaca “WORKSHOP TERE LIYE (Part II)”

Curhat Emak, Dunia Penulis, Foto

WORKSHOP KEPENULISAN BERSAMA TERE LIYE

Penerbit Republika mengadakan workshop kepenulisan bersama Tere Liye di kampus se Indonesia. Workshop ini gratis. Khusus Sumatera Barat, workshop diadakan di kampus STIKES Fort De Kock Bukittinggi. Cuma 20 menit dari rumahku. Langsung daftar dong, gratis ini. #ups.

IMG_20180501_100023_HDR

Sampai di lokasi, nggak nunggu terlalu lama Tere Liye datang. Penampilannya sederhana, casual ditambah topi kupluk di kepalanya. Begitu TL muncul, hampir semua peserta teriak histeris, jepret-jepret, termasuk aku. *tunjuk hidung. TL taroh ranselnya, tanpa salam langsung ngomong “Saya di sini bukan kapasitas sebagai selebritis ya. Jadi yang rekam-rekam tolong menjauh dari radius 5 meter. Tidak ada foto bersama saya, kalian ke sini mau belajar apa mau foto-foto?”

Nggak pakai basa basi, semua peserta disuruh keluarkan kertas, catet tips menulis darinya. Hanya 5 poin penting, tapi penjabarannya panjaaaang banget.

Lanjutkan membaca “WORKSHOP KEPENULISAN BERSAMA TERE LIYE”

Curhat Emak, Dimuat, Dunia Penulis, Foto

Menulis Dan Menjahit.

Aku suka jahit. Baju, dompet pensil, tas sekolah anak, jepit rambut dan lain-lain. Berawal kecebur di grup bros, karena salah satu member Tailor Indonesia mengunggah foto bros. Aku naksir, dan mulai gugling mencari komunitas pembuat bros. Yeay! Ketemu.

23032366_1747204738623370_1684641495881749567_n

Berawal dari iseng-iseng, aku belajar membuat bros dengan panduan youtube. Ternyata asyik juga, walau hasil perdanaku banyak berantakan. Namanya juga baru belajar. Tapi aku terus mencoba. Produk gagalku jadi mainan anak. Lumayan, bajet beli mainan jadi berkurang. Lanjutkan membaca “Menulis Dan Menjahit.”

Curhat Emak, Dunia Penulis, Foto, Perjalanan

Latepost : Penghargaan dari Balai Bahasa Sumatera Barat

Aku dan Wawat membuat sebuah proyek menulis buku anak. Aku menulis cerita, dia ilustratornya. Berawal dari ketidaksengajaan, cuma obrolah bercanda di grup. “Wat, kita bikin proyek, yuk?” kebetulan waktu itu deadline lomba tinggal seminggu lagi. Tak disangka, Wawat mengiyakan. jadilah seminggu kita berdua mata panda begadang menyelesaikan naskah. Waktu itu tak ada harapan sebagai pemenang, minimal bisa menyingkirkan rasa malas nulis yang menghinggapi sejak 2017 ini.

Alhamdulillah, proyek buru-buru itu ternyata menarik hati juri. Kami masuk dalam 15 pemenang penulis cerita anak dari Balai Bahasa Sumatera Barat. Seneng dong, apalagi kisah proyek pertama itu lanjut untuk menulis lomba berikutnya dari Badan Bahasa tingkat Nasional. Sayangnya, naskah kita mentok dan tidak lolos sebagai pemenang. Kecewa pasti, tapi tak ada yang sia-sia. Siapa tahu jodohnya ada di penerbit. (Saat tulisan ini dibuat, naskah itu sedang mempercantik diri sebelum dioper ke penerbit.) Lanjutkan membaca “Latepost : Penghargaan dari Balai Bahasa Sumatera Barat”

Curhat Emak, Dunia Penulis, Hikmah

Menulis Itu Harusnya….

“Aku capek.” keluhku pada Shabrina WS. Mood menulis menukik tajam, tak ada tulisan lahir 3 bulan belakangan. Dan aku merasa lelah menjadi penulis.

“Lho, kan dirimu lagi panen, Uni.” balasnya.

Memang, beberapa karya berderet muncul di Bobo saat aku sedang tidak aktif menulis. Jadi aku dianggap seorang penulis yang rajin, yang produktif dan tak pernah bosan menulis. Padahal saat itulah semangatku di titik nol, bahkan minus.

Setelah ditelusuri, aku capek karena niat menulisku sudah mulai berbelok arah.

“Jangan terlalu keras sama diri sendiri, uni.” nasehat manisnya akan selalu kuingat.

Iya, aku dan teman-teman merah jambu balapan karya selama tahun 2016 ini. Kami menulis karena target, siapa yang terbanyak, itulah pemenang. Dan ternyata, kompetisi seperti itu tak cocok dilakukan oleh emak-emak yang banyak maunya seperti aku. Melihat karya teman bermunculan di kanan kiri membuat aku memandang remeh diri sendiri. Aku juga ingin, tapi tak sanggup. tak punya waktu untuk menulis

“Ada masa untuk segala.” ini pasti peringatan karena masa panen hampir berakhir :p

Aku merasa bersalah karena suka nonton daripada nulis atau baca. “Aku malah sekarang suka download lagu.” akunya.

“Nikmati semua. Menulis itu untuk bersenang-senang, bukan malah bikin stres.” lanjutnya lagi.

Ini yang aku lupa. Dulu aku menulis karena aku ingin menulis. Sekarang aku menulis karena target, berasa mesin dan tulisanku hambar. Lalu aku menyalahkan keadaan, anak yang tak mau diam, waktu tersita untuk mengajar, mood tak kunjung muncul. Hiks.

Aku juga sedikit tertekan dengan genre tulisan yang berbeda-beda. Aku enjoy menulis cernak, dan mendadak kaku menulis cerdew atau artikel. Tapi di beberapa kelas, menuntut aku harus bisa semuanya. Dan karena mentalku setipis kulit ari, aku duluan takut dan tulisanku tak jadi-jadi. 😦

“Jangan membandingkan diri sendiri  dengan orang lain, Uni.” nasehat Shabrina lagi.

“Kita emak-emak, waktu sudah habis tersita untuk keluarga. Rugi kalau galau.” sambungnya.

Hiks… Kalau saja Shabrina ada di depanku, mungkin sudah kupeluk erat karena dia sudah menunjukkan sesuatu yang tak terlihat di mataku. Iya, aku harus menulis karena hati. Target akan selalu ada. Kita harus bergerak mengikuti arus, tapi aku tak boleh lagi merasa tertekan, karena aku menyukai menulis.

Shabrina, aku akan selalu ingat, menulis itu untuk bersenang-senang. Terima kasih banyak. 🙂