Curhat Emak, Dunia Penulis, Foto, Perjalanan

Penghargaan Dari Balai Bahasa Sumbar 2018

Awal Agustus lalu, aku lengket dengan laptop untuk membuat novel anak. Rencananya mau diikutkan dalam lomba Balai Bahasa Sumbar 2018. Karena boleh ikut lebih dari 1 naskah, aku juga bawa naskah Rendang Padang dan Tok! Tok! Dendeng Batokok yang masih belum menemukan jodohnya setelah berputar lebih dari 3 penerbit sejak setahun lalu. Iya sih, tulisanku spesifik Minang banget, jadi menurut redaktur, bagusnya tulisanku itu hanya beredar di Sumbar saja. Okeh, kita coba semoga berjodoh.

Aku kirim 4 naskah (maruk euy!) dan ikut 2 kategori, untuk anak-anak dan remaja. Naskah remaja aku bikin kumcer, sayang sekali enggak lolos hehe. Begitu juga novelku. Yang lolos adalah naskah yang setelah sekian lama tak menemukan jalannya. Yap! Rendang Padang dan Tok! Tok! Dendeng Batokok lolos keduanya.

Para pemenang diundang ke kantor Balai Bahasa di Padang. Tahun lalu ada suami yang mengantarku. Tahun ini, aku lagi kurang enak badan, tapi harus jalan sendiri karena suami lagi di luar kota hiks. No problemo, kan ada travel yang mengantar sampai tujuan. Aku bangun jam 4 karena acaranya jam 8 pagi. Jemputan datang jam 4.30. Di pagi buta, aku udah siap dengan sekantong cemilan dan air minum di tas. Karena lagi nggak enak body, aku mual di travel. Untung nggak sampe mabok. Lanjutkan membaca “Penghargaan Dari Balai Bahasa Sumbar 2018”

Curhat Emak, Dunia Penulis, Foto, Hikmah

WORKSHOP TERE LIYE (Part II)

Menyambung puzzle ingatan workshop Tere Liye kemarin. Kesimpulan dasar dari semua penjabarannya hanya satu. Yaitu terus latihan menulis. Tere Liye sama sekali tidak menyinggung soal halangan dalam menulis, misalnya waktu yang sempit untuk menulis, tidak tersedia sarana seperti laptop dll. Dia menceritakan kisah masa kecilnya yang hidup dalam keterbatasan. Di kampungnya sangat terpencil, anak-anak biasa mendengarkan dongeng. Kebiasaan itu salah satu yang memotivasinya untuk bisa jadi penulis.

IMG_20180501_082600_BURST1

Malah anak jaman now lebih sering menulis dari anak jadul. Lihat saja di akun sosial media. Berapa kali remaja membuat status, komentar, sharing dan membaca lewat internet. Harusnya tulisan-tulisan itu bisa lebih terarah dan jadi sebuah buku, daripada membuat sepotong kalimat yang kadang tidak ada artinya. Malah kebanyakan sosial media dijadikan alat untuk saling mencela, sayang sekali, kan?

Lanjutkan membaca “WORKSHOP TERE LIYE (Part II)”

Curhat Emak, Dunia Penulis, Foto

WORKSHOP KEPENULISAN BERSAMA TERE LIYE

Penerbit Republika mengadakan workshop kepenulisan bersama Tere Liye di kampus se Indonesia. Workshop ini gratis. Khusus Sumatera Barat, workshop diadakan di kampus STIKES Fort De Kock Bukittinggi. Cuma 20 menit dari rumahku. Langsung daftar dong, gratis ini. #ups.

IMG_20180501_100023_HDR

Sampai di lokasi, nggak nunggu terlalu lama Tere Liye datang. Penampilannya sederhana, casual ditambah topi kupluk di kepalanya. Begitu TL muncul, hampir semua peserta teriak histeris, jepret-jepret, termasuk aku. *tunjuk hidung. TL taroh ranselnya, tanpa salam langsung ngomong “Saya di sini bukan kapasitas sebagai selebritis ya. Jadi yang rekam-rekam tolong menjauh dari radius 5 meter. Tidak ada foto bersama saya, kalian ke sini mau belajar apa mau foto-foto?”

Nggak pakai basa basi, semua peserta disuruh keluarkan kertas, catet tips menulis darinya. Hanya 5 poin penting, tapi penjabarannya panjaaaang banget.

Lanjutkan membaca “WORKSHOP KEPENULISAN BERSAMA TERE LIYE”

Curhat Emak, Dimuat, Dunia Penulis, Foto

Menulis Dan Menjahit.

Aku suka jahit. Baju, dompet pensil, tas sekolah anak, jepit rambut dan lain-lain. Berawal kecebur di grup bros, karena salah satu member Tailor Indonesia mengunggah foto bros. Aku naksir, dan mulai gugling mencari komunitas pembuat bros. Yeay! Ketemu.

23032366_1747204738623370_1684641495881749567_n

Berawal dari iseng-iseng, aku belajar membuat bros dengan panduan youtube. Ternyata asyik juga, walau hasil perdanaku banyak berantakan. Namanya juga baru belajar. Tapi aku terus mencoba. Produk gagalku jadi mainan anak. Lumayan, bajet beli mainan jadi berkurang. Lanjutkan membaca “Menulis Dan Menjahit.”

Curhat Emak, Dunia Penulis, Foto, Perjalanan

Latepost : Penghargaan dari Balai Bahasa Sumatera Barat

Aku dan Wawat membuat sebuah proyek menulis buku anak. Aku menulis cerita, dia ilustratornya. Berawal dari ketidaksengajaan, cuma obrolah bercanda di grup. “Wat, kita bikin proyek, yuk?” kebetulan waktu itu deadline lomba tinggal seminggu lagi. Tak disangka, Wawat mengiyakan. jadilah seminggu kita berdua mata panda begadang menyelesaikan naskah. Waktu itu tak ada harapan sebagai pemenang, minimal bisa menyingkirkan rasa malas nulis yang menghinggapi sejak 2017 ini.

Alhamdulillah, proyek buru-buru itu ternyata menarik hati juri. Kami masuk dalam 15 pemenang penulis cerita anak dari Balai Bahasa Sumatera Barat. Seneng dong, apalagi kisah proyek pertama itu lanjut untuk menulis lomba berikutnya dari Badan Bahasa tingkat Nasional. Sayangnya, naskah kita mentok dan tidak lolos sebagai pemenang. Kecewa pasti, tapi tak ada yang sia-sia. Siapa tahu jodohnya ada di penerbit. (Saat tulisan ini dibuat, naskah itu sedang mempercantik diri sebelum dioper ke penerbit.) Lanjutkan membaca “Latepost : Penghargaan dari Balai Bahasa Sumatera Barat”

Curhat Emak, Foto, Perjalanan

Late post : Bimtek Kemendikbud Bekasi

Rezeki memang tak terduga. Sudah lama aku ingin jalan-jalan. Walau udah nabung buat tiket dan penginapan, tapi ga nyampe-nyampe karena harus berangkat bertiga. 😦 Akhirnya pasrah aja, walau keinginan keluar pulau Sumatera tetap di dalam hati. Mungkin ini yang dinamakan afirmasi, cukup simpan keinginan, lalu semuanya urusan Tuhan. Lewat seleksi penulis yang diadakan salah satu grup penulis cerita anak, aku lolos bersama dua penulis lain dari Sumatera Barat. Seneng dong, dapat tiket pesawat gratis, penginapan mewah dan niatku sejenak keluar dari rutinitas kesampaian.

Tapi aku malah galau. Bagaimana cara meninggalkan Nurul, sehari-hari dia cuma pernah berpisah selama 3-4 jam? Pasti dia bingung dengan perubahan mendadak ditinggal 3 hari. Sekejap angan ke pulau jawa terlihat tak menarik lagi. Syukurlah keluargaku terus mendukung, aku harus berangkat. Kalau Nurul ikut, malah bikin masalah karena dia tak akan mau ditinggal olehku.

Aku mulai mempersiapkan segalanya. Membeli madunya yang mulai habis, menyiapkan obat demam sambil terus berdoa semoga tak terpakai, mewanti-wanti seisi rumah tentang kebiasaan Nurul. Apa yang boleh dan tidak boleh. Repot dan capek, tapi aku harus bisa.

Pelan-pelan aku mulai kasih kode kalau dia harus mandiri. Aku bilang mau ke Jakarta, meski dia tak tahu Jakarta itu dimana. Dia cuma tahu jauuuh sekali. Dia nggak mau ikut, maunya di rumah aja nungguin aku sama Qisthi. #jleb. Dia kira aku pergi pagi pulang sore kali ya.

Saat travel mulai menjemput, Nurul malah bangun kepagian dan ingin bermain denganku. Duh, sinar harapan di mata itu bikin aku galau. Tapi aku harus tegas, kugendong dan kucium dia, kusuruh bermain dengan Qisthi. Saat mereka mulai bermain,  aku mengendap keluar membawa koper dan tas. Tak mungkin aku kuat harus dadah-dadah naik mobil diiringi tangisannya.

Di travel, baru deh aku berkaca-kaca. Rasanya pengen balik lagi, nggak mau ke Jakarta. Untung saja masih ada pikiran waras, bukankah kepergian ini yang kuinginkan? Ini cuma 3 hari, plis jangan lebay. Dengan separo hati tertinggal di Bukittinggi, aku matapkan harus fokus ke Jakarta dulu.

Sampai di Bandara, Maya dan Eci sudah masuk duluan. Mereka menungguku. Lalu kami berkenalan sambil menunggu keberangkatan. Kebangetan kan ya, sesama penulis Sumbar belum pernah ketemu sama sekali. Yaah… begitulah aku. Jarang banget bisa jalan-jalan. Lanjutkan membaca “Late post : Bimtek Kemendikbud Bekasi”

Dimuat, Foto, Uncategorized

Cerita Anak : Kado Istimewa Untuk Silvi

Hobby menjahit membuat hoki bagi saya. Sudah 4 cerpen berhasil dimuat di Bobo bertema jahitan. Dan cerpen kali ini, cerpen hasil kelas Kurcaci Pos dengan Mas Bambang Irwanto. Masih ingat bagaimana betenya saya masuk kelas itu, banyak salah melulu. Sempat ngambek sama sang guru hehe. Akhirnya saya sadar, kalau yang disampaikan guru itu benar, cuma sayanya aja yang belum bisa terima. Setelah naskah diendapkan, dan mengikuti saran, tuh kan… Akhirnya cerpennya jadi dan semakin cantik. 😀

Ilustrasinya cantik ya.
Ilustrasinya cantik ya.

 

KADO ISTIMEWA UNTUK SILVI

Oleh : Novia Erwida

Silvi menatap iri pada Salma. Lagi-lagi, Salma memakai baju baru. Kali ini Salma memakai terusan ungu dengan hiasan payet di sekeliling leher. Juga ada bunga-bunga besar yang menjuntai di sisi bawah gaun. Cantik sekali.

Salma pamer baju baru terus di setiap acara ulang tahun, batin Silvi

“Waaah…! Putri kerajaan sudah datang.” Goda Merry yang sedang berulang tahun.

Salma menyunggingkan senyum, menyalami Merry dan menyerahkan kadonya. “Selamat ulang tahun…”

“Terima kasih, Tuan Putri.” Jawab Merry sambil membungkukkan badan.

Teman-teman tertawa. Hanya Silvi yang diam saja. Bagi Silvi, Salma adalah anak yang suka pamer. Salma tidak menghargai teman-teman yang tidak bisa membeli baju baru seperti Silvi. Silvi memandang baju hijaunya. Ada sedikit robek di lengannya, tapi ibu sudah menisiknya.

Silvi pernah minta dibelikan baju yang baru. Ibu bilang belum punya uang. Jadi, di setiap acara ulang tahun, Silvi selalu memakai gaun hijaunya.

Silvi menghidari berdekatan dengan Salma. Dia tak mau bajunya tenggelam oleh gemerlap gaun Salma.

“Ini buatmu.” Salma mengambilkan sepotong cake cokelat buat Silvi.

“Terima kasih.” Jawab Silvi jawab Silvi tanpa senyum. Salma hanya heran melihat Silvi yang tidak ramah.

***

Ada undangan ulang tahun dari Mia. Silvi membolak-balik undangan itu. Dia ragu untuk datang. Ibu masih belum membelikan gaun baru. Baju yang ada di lemari, cuma kaos dan celana jeans. Tidak pantas dipakai untuk acara ulang tahun.

“Bu, kalau Mia tanya, bilang Silvi sakit ya.” Kata Silvi pada Ibunya.

“Lho? Kok Silvi menyuruh Ibu bohong?” sela Ibu.

Silvi menggigit bibir. Dia tak sanggup melihat Salma memakai gaun baru lagi. Silvi akan semakin benci dengan gaun hijaunya.

“Silvi, kan, enggak punya baju.” Jawabnya pelan.

“Yang hijau, kan, bagus? Kasihan Mia kalau kamu tidak datang.” Bujuk Ibu.

Sepertinya Silvi tetap harus berangkat ke acara itu. Ibu tak mau berbohong.

Silvi masuk ke kamarnya, lalu membuka lemari. Ada gaun ungu kak Sarah, masih bagus tapi kebesaran buat Silvi. Silvi mencobanya dan mematut-matut diri di depan cermin.

Bahu gaun itu jatuh sampai ke lengan. Bagian badannya kedodoran. Bagian bawah gaun, panjang sampai menyapu lantai. Tampak sekali kalau Silvi memakai gaun pinjaman. Mungkin beberapa tahun lagi, barulah gaun itu pas dipakai Silvi.

Silvi meneteskan air mata. Tak ada pilihan lain. Sekarang dia harus berangkat. Disambarnya gaun hijau dan berdandan sekedarnya. Tak lupa memakai bando berwarna emas. Pemberian Ibu sebulan yang lalu.

Silvi belajar menerima keadaan. Ia tak mau mengeluh. Kalau Ibu punya uang, pasti ia dibelikan baju baru. Sejak Ayah meninggal, Ibu menerima pesanan kue. Hasil penjualan kue Ibu tidak seberapa. Sejah subuh, Ibu selalu menyusun kue-kue dalam baki plastik untuk diantar ke warung-warung. Kadang Silvi dan Kak Sarah ikut membantu mengantarkan kue.

Silvi memasuki rumah Mia, matanya mencari-cari sosok Salma. Benar tebakan Silvi. Kali ini Salma memakai gaun pink yang lembut. Roknya mekar seperti putri raja. Gaun yang cantik, tidak seperti… Ah, Silvi kembali menyesali gaun hijaunya.

Ulang tahun Mia meriah. Ada games meletuskan balon dengan perintah lucu bagi yang terkena hukuman. Silvi menikmati permainan, sampai lupa soal gaunnya.

Tiba-tiba Mia bersorak. “Minggu depan kita pesta di rumah Silvi!”

“Asiiiik…” teman-teman yang lain bertepuk tangan meriah. Silvi tersenyum kecut. Minggu depan memang ulang tahunnya, tapi Silvi tak mungkin mengadakan pesta. Ibu tak punya uang untuk itu.

Salma mendekati Silvi. Silvi menjauh. Salma heran.

“Kenapa, Sil?”

“Bajumu bagus sekali. Aku malu di dekatmu.” Kata Silvi berbisik.

Salma tersenyum. “Ibuku tukang jahit, Sil. Baju ini dibuat dari kain sisa yang masih bisa dipakai. Pelanggan Ibu biasanya memberikan kain sisa baju mereka.” Jawab Salma.

Kening Silvi berkerut.

“Coba lihat, bagian atas dan bawah kainnya berbeda kan?”

Silvi memperhatikan. Benar. Hanya warnanya saja yang senada. Pasti Ibu Salma bekerja keras menjahit gaun itu sampai cantik begitu.

“Ibumu hebat.” Kata Silvi jujur.

Salma tersenyum. “Ibumu juga hebat. Aku suka kue buatan ibumu.” Jawab Salma.

Silvi tercenung mendengarnya.

Seminggu kemudian, Salma datang ke rumah Silvi membawa kado. Silvi kaget sekaligus senang.

“Aku tidak mengadakan pesta.” Kata Silvi.

“Aku tahu. Tapi bukalah kado ini.” Jawab Salma.

Jemari Silvi bergerak cepat karena penasaran. Setelah kado terbuka, Silvi terbelalak. Ada gaun baru berwarna biru.

“Terima kasih…” Silvi memeluk Salma. Silvi tahu ini berasal dari kain sisa. Tapi tak ada yang tahu selain Silvi, Salma dan Ibu Salma.

Silvi langsung memakai gaun itu. Pas dan tidak longgar seperti gaun Kak Sarah. Silvi berputar-putar. Hatinya sangat senang. Salma juga senang, dia sudah memberi kado yang dibutuhkan Silvi.

Silvi menarik tangan Salma ke meja makan. “Ibumu pintar menjahit, Ibuku pintar bikin kue. Ayo coba.” Kata Silvi sambil menyerahkan sepiring black forest pada Salma. Hanya kue itu sebagai simbol perayaan ulang tahun Silvi.

Salma mencolek krim, dan mengoleskan ke hidung Silvi. Silvi membalas. Hidung Salma berlepotan krim. Mereka tertawa bersama.

***

Bobo no 19. Terbit tgl 18 Agustus 2016
Bobo no 19. Terbit tgl 18 Agustus 2016

Cerpen ini juga diposting di grup Rumah Jamur Kurcaci.

Curhat Emak, Dunia Penulis, Foto, Hikmah, Perjalanan

Berbagi Bersama Kelas Inspirasi Bukittinggi

Aku mendapat info pembukaan kelas inspirasi dari mbak Naqiyyah Syam. Ingin sih ada, tapi terbentur waktu dan kerjasama mengasuh Nurul selama aku tak di rumah. Aku tak mau berpikir panjang, langsung saja mendaftar tanpa bilang-bilang. Setelah dapat email bahwa aku lolos sebagai inspirator, baru aku bingung. Setelah diskusi sama suami, dan koordinasi dengan kakek neneknya Nurul, Alhamdulillah, aku bisa ikut dan mereka akan menjaga si kecil.

Sebenarnya kelas inspirasi tidak terlalu memberatkan, karena hanya sekali pertemuan. Tapi harus meluangkan waktu buat briefing, dan refleksi setelah kelas berlangsung. Mana pernah aku ninggalin Nurul lama-lama. Tapi demi bisa berbagi tentang profesi seorang penulis, aku ikut. Nggak nyangka, aku bertemu orang-orang hebat yang semangat berbagi. Mereka mengorbankan waktu, tiket PP antar pulau, akomodasi dengan modal sendiri. Aku juga harus jadi ibu kuat, bersedia jauh dari anak untuk bisa menginspirasi anak-anak lain.

Halo semua...! Nama saya Novia Erwida. Saya adalah seorang penulis.
. Halo semua…! Nama saya Novia Erwida. Saya adalah seorang penulis. Foto : Cindy

Aku dan beberapa teman ditempatkan di SDN 08 Tarok Dipo Bukittinggi. Sekolahnya bagus, muridnya banyak. Dan mereka sangat antusias menyambut kedatangan kami. Oya, yang datang ke sana tak cuma inspirator. Tapi ada fasilitator yang sudah rapat beberapa kali demi acara ini, dan dokumentator yang sibuk mengabadikan kegiatan ini. Kami baru saling mengenal, tapi sudah menjadi tim yang kompak. Semangat berbagi yang menyatukan.

Sedang mengenalkan majalah anak pada murid-murid
Aku sedang mengenalkan majalah anak pada murid-murid. Foto : Cindy

Masing-masing inspirator mendapat jatah mengajar di tiga kelas. Aku mengajar di kelas 4B, 3B dan 6B. Kelas 4 dan 3 sangat antusias, karena aku menyertakan majalah Bobo yang memuat cerpenku. Sampai di kelas 6, mereka nggak tertarik sama sekali. Rupanya sebelum aku masuk, sudah ada penulis lain yang masuk kelas itu. Yaah… Jualanku nggak laku, dong. -_-

Setelah dijelaskan kalau penulis itu banyak, baru mereka mulai tertarik. Kakak Amin yang masuk sebelumnya adalah penulis buku, sedangkan aku -ngakunya- penulis cerita anak. Bawa Bobo, bawa impian bahwa mereka tetap bisa menjadi apapun yang mereka inginkan, sambil menjadi penulis. Dokter, bidan, pilot, siapapun bisa jadi penulis dan menyampaikan ilmu mereka sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Para inspirator dkk. Foto : Budi Kurniawan
Para inspirator dkk.
Foto : Budi Kurniawan

Habis acara, kita foto-foto. Yang lucu, mereka minta tanda tangan pada semua inspirator. “Duh, nak… Kami bukan artis. Tapi demi melihat kalian senang, ayok sini… Mana pulpennya?”

Rame, kan? Foto : Budi Kurniawan
Rame, kan?
Foto : Budi Kurniawan

Oya, kelas ini baru pertama kali diadakan di Bukittinggi. Sudah ada beberapa ulasan media online mengenai ini.

  1. Berita saat briefing di sini
  2. Saat kelas berlangsung di sini
  3. Ulasanku di rumah jamur kurcaci pos

Beberapa teman adalah KI (Kelas Inspirasi) hunter. Mereka menyerbu tempat terjauh demi pengalaman yang tak terulang lagi. Tapi bagiku dengan anak balita, rasanya itu sulit. Buktinya, baru berpisah seharian saja, aku sangat kangeeen sama Nurul.

Emak lebay. ^_^

Curhat Emak, Foto

Late post : Khatam Al-Qur’an

Sudah hampir sebulan baru posting ini. Biasalah… Males  sibuk dengan sosmed dan banyak bengong cantiknya. Padahal dulu niat bikin blog biar bisa mengabadikan kenangan. Yuk ah, bangkit. Seperti kata Om Mario, “Satu sendok yang rajin, lebih berarti daripada berkarung-karung malas.”

Nah… Ini dia satu sendok postingan rajinnya. 😀

Acara ini dilaksanakan di MDA plus / SDN 24 Pakan Sinayan. Tepatnya di pinggang gunung Singgalang, Agam. Setiap tahun diadakan acara khatam Al-Qur’an sebagai wujud rasa syukur orang tua atas keberhasilan anaknya menamatkan membaca Al-Qur’an.

Berikut foto-fotonya.

Ini peserta Khatam tahun ini. Semuanya berjumlah 23 orang.
Ini peserta Khatam tahun ini. Semuanya berjumlah 23 orang.
Berfoto bersama Guru dan Wali Jorong
Berfoto bersama Guru dan Wali Jorong

Lanjutkan membaca “Late post : Khatam Al-Qur’an”

Curhat Emak, Dunia Penulis, Foto

Belajar Lagi

Tak ada kata terlambat untuk belajar. Walaupun sudah emak-emak, aku tak mau ketinggalan acara jumpa penulis Boy Candra di tobuk Sari Anggrek Bukittinggi. Pede habis bakal banyak teman di sana. Aku sudah titip Nurul ke neneknya, biar betul-betul konsentrasi belajar sharing kepenulisan. Aku bawa motor dan parkir di depan tobuk. Langsung masuk dan mengisi buku tamu dan taraaaa…. peserta abege semua hiks…

Malu malu meong aku duduk di tempat yang sudah disediakan. Duh, aku yang paling tua, nih. Larak lirik peserta. Eh nggak lama, datang ibu-ibu 40an. Wow… Takjub aku. Ternyata ibu itu masih semangat untuk ikut acara seperti ini. Nggak jadi paling tuir, dong hehe.

Acaranya agak kaku, karena moderatornya grogi luar biasa. Tau deh kenapa. Padahal peserta cuma sekitar 40 orang. Aku hanya menyimak. Ilmu yang ditularkan persis sama dengan yang kupelajari dari guru menulisku. Tak ada salahnya belajar sama anak yang lebih muda. Minimal aku ngecas semangat nulis lagi.

Ini Boy Candra, putra asli Minang yang sudah punya 3 buku
Ini Boy Candra, putra asli Minang yang sudah punya 3 buku

Penulisnya masih  muda, sepantaran adik bungsuku. Dan dia baru mulai menulis tahun 2011. Sudah punya 3 buku. Sementara akuh? Hiks… Kemana saja modal menulis yang dipajang di Annida dulu? Aku tahu dimana salahku. Aku pemalas. Sementara Boy meluangkan waktu menulis 3 halaman perhari. Dan aku moody banget. Pantas aku kalah dan harus belajar lagi. Lanjutkan membaca “Belajar Lagi”