Dimuat, Foto, Uncategorized

Cerita Anak : Kado Istimewa Untuk Silvi

Hobby menjahit membuat hoki bagi saya. Sudah 4 cerpen berhasil dimuat di Bobo bertema jahitan. Dan cerpen kali ini, cerpen hasil kelas Kurcaci Pos dengan Mas Bambang Irwanto. Masih ingat bagaimana betenya saya masuk kelas itu, banyak salah melulu. Sempat ngambek sama sang guru hehe. Akhirnya saya sadar, kalau yang disampaikan guru itu benar, cuma sayanya aja yang belum bisa terima. Setelah naskah diendapkan, dan mengikuti saran, tuh kan… Akhirnya cerpennya jadi dan semakin cantik. 😀

Ilustrasinya cantik ya.
Ilustrasinya cantik ya.

 

KADO ISTIMEWA UNTUK SILVI

Oleh : Novia Erwida

Silvi menatap iri pada Salma. Lagi-lagi, Salma memakai baju baru. Kali ini Salma memakai terusan ungu dengan hiasan payet di sekeliling leher. Juga ada bunga-bunga besar yang menjuntai di sisi bawah gaun. Cantik sekali.

Salma pamer baju baru terus di setiap acara ulang tahun, batin Silvi

“Waaah…! Putri kerajaan sudah datang.” Goda Merry yang sedang berulang tahun.

Salma menyunggingkan senyum, menyalami Merry dan menyerahkan kadonya. “Selamat ulang tahun…”

“Terima kasih, Tuan Putri.” Jawab Merry sambil membungkukkan badan.

Teman-teman tertawa. Hanya Silvi yang diam saja. Bagi Silvi, Salma adalah anak yang suka pamer. Salma tidak menghargai teman-teman yang tidak bisa membeli baju baru seperti Silvi. Silvi memandang baju hijaunya. Ada sedikit robek di lengannya, tapi ibu sudah menisiknya.

Silvi pernah minta dibelikan baju yang baru. Ibu bilang belum punya uang. Jadi, di setiap acara ulang tahun, Silvi selalu memakai gaun hijaunya.

Silvi menghidari berdekatan dengan Salma. Dia tak mau bajunya tenggelam oleh gemerlap gaun Salma.

“Ini buatmu.” Salma mengambilkan sepotong cake cokelat buat Silvi.

“Terima kasih.” Jawab Silvi jawab Silvi tanpa senyum. Salma hanya heran melihat Silvi yang tidak ramah.

***

Ada undangan ulang tahun dari Mia. Silvi membolak-balik undangan itu. Dia ragu untuk datang. Ibu masih belum membelikan gaun baru. Baju yang ada di lemari, cuma kaos dan celana jeans. Tidak pantas dipakai untuk acara ulang tahun.

“Bu, kalau Mia tanya, bilang Silvi sakit ya.” Kata Silvi pada Ibunya.

“Lho? Kok Silvi menyuruh Ibu bohong?” sela Ibu.

Silvi menggigit bibir. Dia tak sanggup melihat Salma memakai gaun baru lagi. Silvi akan semakin benci dengan gaun hijaunya.

“Silvi, kan, enggak punya baju.” Jawabnya pelan.

“Yang hijau, kan, bagus? Kasihan Mia kalau kamu tidak datang.” Bujuk Ibu.

Sepertinya Silvi tetap harus berangkat ke acara itu. Ibu tak mau berbohong.

Silvi masuk ke kamarnya, lalu membuka lemari. Ada gaun ungu kak Sarah, masih bagus tapi kebesaran buat Silvi. Silvi mencobanya dan mematut-matut diri di depan cermin.

Bahu gaun itu jatuh sampai ke lengan. Bagian badannya kedodoran. Bagian bawah gaun, panjang sampai menyapu lantai. Tampak sekali kalau Silvi memakai gaun pinjaman. Mungkin beberapa tahun lagi, barulah gaun itu pas dipakai Silvi.

Silvi meneteskan air mata. Tak ada pilihan lain. Sekarang dia harus berangkat. Disambarnya gaun hijau dan berdandan sekedarnya. Tak lupa memakai bando berwarna emas. Pemberian Ibu sebulan yang lalu.

Silvi belajar menerima keadaan. Ia tak mau mengeluh. Kalau Ibu punya uang, pasti ia dibelikan baju baru. Sejak Ayah meninggal, Ibu menerima pesanan kue. Hasil penjualan kue Ibu tidak seberapa. Sejah subuh, Ibu selalu menyusun kue-kue dalam baki plastik untuk diantar ke warung-warung. Kadang Silvi dan Kak Sarah ikut membantu mengantarkan kue.

Silvi memasuki rumah Mia, matanya mencari-cari sosok Salma. Benar tebakan Silvi. Kali ini Salma memakai gaun pink yang lembut. Roknya mekar seperti putri raja. Gaun yang cantik, tidak seperti… Ah, Silvi kembali menyesali gaun hijaunya.

Ulang tahun Mia meriah. Ada games meletuskan balon dengan perintah lucu bagi yang terkena hukuman. Silvi menikmati permainan, sampai lupa soal gaunnya.

Tiba-tiba Mia bersorak. “Minggu depan kita pesta di rumah Silvi!”

“Asiiiik…” teman-teman yang lain bertepuk tangan meriah. Silvi tersenyum kecut. Minggu depan memang ulang tahunnya, tapi Silvi tak mungkin mengadakan pesta. Ibu tak punya uang untuk itu.

Salma mendekati Silvi. Silvi menjauh. Salma heran.

“Kenapa, Sil?”

“Bajumu bagus sekali. Aku malu di dekatmu.” Kata Silvi berbisik.

Salma tersenyum. “Ibuku tukang jahit, Sil. Baju ini dibuat dari kain sisa yang masih bisa dipakai. Pelanggan Ibu biasanya memberikan kain sisa baju mereka.” Jawab Salma.

Kening Silvi berkerut.

“Coba lihat, bagian atas dan bawah kainnya berbeda kan?”

Silvi memperhatikan. Benar. Hanya warnanya saja yang senada. Pasti Ibu Salma bekerja keras menjahit gaun itu sampai cantik begitu.

“Ibumu hebat.” Kata Silvi jujur.

Salma tersenyum. “Ibumu juga hebat. Aku suka kue buatan ibumu.” Jawab Salma.

Silvi tercenung mendengarnya.

Seminggu kemudian, Salma datang ke rumah Silvi membawa kado. Silvi kaget sekaligus senang.

“Aku tidak mengadakan pesta.” Kata Silvi.

“Aku tahu. Tapi bukalah kado ini.” Jawab Salma.

Jemari Silvi bergerak cepat karena penasaran. Setelah kado terbuka, Silvi terbelalak. Ada gaun baru berwarna biru.

“Terima kasih…” Silvi memeluk Salma. Silvi tahu ini berasal dari kain sisa. Tapi tak ada yang tahu selain Silvi, Salma dan Ibu Salma.

Silvi langsung memakai gaun itu. Pas dan tidak longgar seperti gaun Kak Sarah. Silvi berputar-putar. Hatinya sangat senang. Salma juga senang, dia sudah memberi kado yang dibutuhkan Silvi.

Silvi menarik tangan Salma ke meja makan. “Ibumu pintar menjahit, Ibuku pintar bikin kue. Ayo coba.” Kata Silvi sambil menyerahkan sepiring black forest pada Salma. Hanya kue itu sebagai simbol perayaan ulang tahun Silvi.

Salma mencolek krim, dan mengoleskan ke hidung Silvi. Silvi membalas. Hidung Salma berlepotan krim. Mereka tertawa bersama.

***

Bobo no 19. Terbit tgl 18 Agustus 2016
Bobo no 19. Terbit tgl 18 Agustus 2016

Cerpen ini juga diposting di grup Rumah Jamur Kurcaci.

Iklan
Curhat Emak, Dunia Penulis, Hikmah

Menulis Itu Harusnya….

“Aku capek.” keluhku pada Shabrina WS. Mood menulis menukik tajam, tak ada tulisan lahir 3 bulan belakangan. Dan aku merasa lelah menjadi penulis.

“Lho, kan dirimu lagi panen, Uni.” balasnya.

Memang, beberapa karya berderet muncul di Bobo saat aku sedang tidak aktif menulis. Jadi aku dianggap seorang penulis yang rajin, yang produktif dan tak pernah bosan menulis. Padahal saat itulah semangatku di titik nol, bahkan minus.

Setelah ditelusuri, aku capek karena niat menulisku sudah mulai berbelok arah.

“Jangan terlalu keras sama diri sendiri, uni.” nasehat manisnya akan selalu kuingat.

Iya, aku dan teman-teman merah jambu balapan karya selama tahun 2016 ini. Kami menulis karena target, siapa yang terbanyak, itulah pemenang. Dan ternyata, kompetisi seperti itu tak cocok dilakukan oleh emak-emak yang banyak maunya seperti aku. Melihat karya teman bermunculan di kanan kiri membuat aku memandang remeh diri sendiri. Aku juga ingin, tapi tak sanggup. tak punya waktu untuk menulis

“Ada masa untuk segala.” ini pasti peringatan karena masa panen hampir berakhir :p

Aku merasa bersalah karena suka nonton daripada nulis atau baca. “Aku malah sekarang suka download lagu.” akunya.

“Nikmati semua. Menulis itu untuk bersenang-senang, bukan malah bikin stres.” lanjutnya lagi.

Ini yang aku lupa. Dulu aku menulis karena aku ingin menulis. Sekarang aku menulis karena target, berasa mesin dan tulisanku hambar. Lalu aku menyalahkan keadaan, anak yang tak mau diam, waktu tersita untuk mengajar, mood tak kunjung muncul. Hiks.

Aku juga sedikit tertekan dengan genre tulisan yang berbeda-beda. Aku enjoy menulis cernak, dan mendadak kaku menulis cerdew atau artikel. Tapi di beberapa kelas, menuntut aku harus bisa semuanya. Dan karena mentalku setipis kulit ari, aku duluan takut dan tulisanku tak jadi-jadi. 😦

“Jangan membandingkan diri sendiri  dengan orang lain, Uni.” nasehat Shabrina lagi.

“Kita emak-emak, waktu sudah habis tersita untuk keluarga. Rugi kalau galau.” sambungnya.

Hiks… Kalau saja Shabrina ada di depanku, mungkin sudah kupeluk erat karena dia sudah menunjukkan sesuatu yang tak terlihat di mataku. Iya, aku harus menulis karena hati. Target akan selalu ada. Kita harus bergerak mengikuti arus, tapi aku tak boleh lagi merasa tertekan, karena aku menyukai menulis.

Shabrina, aku akan selalu ingat, menulis itu untuk bersenang-senang. Terima kasih banyak. 🙂

 

Curhat Emak, Dunia Penulis, Foto, Hikmah, Perjalanan

Berbagi Bersama Kelas Inspirasi Bukittinggi

Aku mendapat info pembukaan kelas inspirasi dari mbak Naqiyyah Syam. Ingin sih ada, tapi terbentur waktu dan kerjasama mengasuh Nurul selama aku tak di rumah. Aku tak mau berpikir panjang, langsung saja mendaftar tanpa bilang-bilang. Setelah dapat email bahwa aku lolos sebagai inspirator, baru aku bingung. Setelah diskusi sama suami, dan koordinasi dengan kakek neneknya Nurul, Alhamdulillah, aku bisa ikut dan mereka akan menjaga si kecil.

Sebenarnya kelas inspirasi tidak terlalu memberatkan, karena hanya sekali pertemuan. Tapi harus meluangkan waktu buat briefing, dan refleksi setelah kelas berlangsung. Mana pernah aku ninggalin Nurul lama-lama. Tapi demi bisa berbagi tentang profesi seorang penulis, aku ikut. Nggak nyangka, aku bertemu orang-orang hebat yang semangat berbagi. Mereka mengorbankan waktu, tiket PP antar pulau, akomodasi dengan modal sendiri. Aku juga harus jadi ibu kuat, bersedia jauh dari anak untuk bisa menginspirasi anak-anak lain.

Halo semua...! Nama saya Novia Erwida. Saya adalah seorang penulis.
. Halo semua…! Nama saya Novia Erwida. Saya adalah seorang penulis. Foto : Cindy

Aku dan beberapa teman ditempatkan di SDN 08 Tarok Dipo Bukittinggi. Sekolahnya bagus, muridnya banyak. Dan mereka sangat antusias menyambut kedatangan kami. Oya, yang datang ke sana tak cuma inspirator. Tapi ada fasilitator yang sudah rapat beberapa kali demi acara ini, dan dokumentator yang sibuk mengabadikan kegiatan ini. Kami baru saling mengenal, tapi sudah menjadi tim yang kompak. Semangat berbagi yang menyatukan.

Sedang mengenalkan majalah anak pada murid-murid
Aku sedang mengenalkan majalah anak pada murid-murid. Foto : Cindy

Masing-masing inspirator mendapat jatah mengajar di tiga kelas. Aku mengajar di kelas 4B, 3B dan 6B. Kelas 4 dan 3 sangat antusias, karena aku menyertakan majalah Bobo yang memuat cerpenku. Sampai di kelas 6, mereka nggak tertarik sama sekali. Rupanya sebelum aku masuk, sudah ada penulis lain yang masuk kelas itu. Yaah… Jualanku nggak laku, dong. -_-

Setelah dijelaskan kalau penulis itu banyak, baru mereka mulai tertarik. Kakak Amin yang masuk sebelumnya adalah penulis buku, sedangkan aku -ngakunya- penulis cerita anak. Bawa Bobo, bawa impian bahwa mereka tetap bisa menjadi apapun yang mereka inginkan, sambil menjadi penulis. Dokter, bidan, pilot, siapapun bisa jadi penulis dan menyampaikan ilmu mereka sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Para inspirator dkk. Foto : Budi Kurniawan
Para inspirator dkk.
Foto : Budi Kurniawan

Habis acara, kita foto-foto. Yang lucu, mereka minta tanda tangan pada semua inspirator. “Duh, nak… Kami bukan artis. Tapi demi melihat kalian senang, ayok sini… Mana pulpennya?”

Rame, kan? Foto : Budi Kurniawan
Rame, kan?
Foto : Budi Kurniawan

Oya, kelas ini baru pertama kali diadakan di Bukittinggi. Sudah ada beberapa ulasan media online mengenai ini.

  1. Berita saat briefing di sini
  2. Saat kelas berlangsung di sini
  3. Ulasanku di rumah jamur kurcaci pos

Beberapa teman adalah KI (Kelas Inspirasi) hunter. Mereka menyerbu tempat terjauh demi pengalaman yang tak terulang lagi. Tapi bagiku dengan anak balita, rasanya itu sulit. Buktinya, baru berpisah seharian saja, aku sangat kangeeen sama Nurul.

Emak lebay. ^_^

Dimuat

Foto-foto Kiara

Gadis no 10, 8-21 Mei 2016
Gadis no 10, 8-21 Mei 2016

FOTO-FOTO KIARA

Oleh : Novia Erwida

Percikan kedua yang dimuat
Percikan kedua yang dimuat

Namanya Kiara. Gadis berumur sepuluh tahun itu dititipkan tante Rani selama seminggu di rumahku. Sebagai anak tunggal, aku sangat senang bisa punya adik walau cuma seminggu. Kehadirannya lumayan menghapus galauku karena baru diputus Galang.

Sore itu Kiara sudah wangi memakai baju santaidan membawa kameranya di leher.

“Kak Adya, kita jalan-jalan ke taman bunga, yuk?” ajaknya.

Aku mengangguk. “Oke.” Jawabku. Aku selalu siap menjadi kakak yang baik buatnya.

Sepanjang jalan, dia memegang tanganku. Sesekali mengayun-ayunkannya. Sedikit menyadarkanku dari lamunan tentang Galang. Matanya berkerling jenaka. “Kakak ngelamun ya?” godanya. Aku balas dengan memajukan bibir.

Saat kami melewati penjual balon, aku menawarkan satu balon buat Kiara.

“Ih… Kakak. Emang Kiara anak TK?” gerutunya.

Aku menepuk dahi. Aku masih berpikir kalau Kiara adalah Tiara, sepupu Galang yang berumur 5 tahun, yang sering kubelikan balon.

“Ups… Sori. Kirain kamu suka.” Jawabku ngeles.

Kami sampai di taman bunga. Hamparan bunga warna warni memanjakan mata. Langsung aku mewanti-wanti Kiara.

“Ambil gambarnya hati-hati, jangan sampai terinjak bunganya. Jangan selfie sambil tiduran. Kalau mau tiduran di rumah aja.” Jelasku panjang lebar.

Kiara melongo memandangku.

“Kak, mau dikasi gambar yang cakep gak?” tanyanya sambil mencolek lenganku.

Aku mengangguk cepat, lalu bergaya minta difoto.

“Foto cakep, kak. Bukan foto kakak.” Ralatnya.

Aduh, anak ini iseng banget.

Kiara berlari mengambil foto di pinggir hamparan bunga. “Yihaaa… Berasa di surgaaaa…” serunya.

Aku duduk di bangku kayu sambil memandang awan. Ada bayangan Galang di situ. Kenapa sih, dia ngikutin aku terus? Ternyata aku masih gagal move on.

Kubuka tasku. Ada komik yang belum selesai kubaca. Biarlah aku membunuh waktu dengan komikku. Kubuka halaman pertama komik. Ada tulisan Galang di sana. Komik ini pemberian Galang. Aku urung membacanya. Kuraih gadget, dan aku membuka sosial media.

Tanganku tak bisa kucegah membuka akun Galang. Semakin aku kepo, semakin aku sakit. Galang sedang online. Kutahan diri untuk tidak menyapanya duluan. Status terbarunya, berpacaran dengan…. Uh! Aku meledak. Aku harus segera move on. Akhirnya kumatikan gadget dan menyusul Kiara.

“Lihat fotonya dooong…” aku mendekati Kiara.

Wajah Kiara sumringah. Dia seperti habis menemukan harta karun.

“Cakep kaaak…” katanya sambil memperlihatkan hasil gambarnya.

Aku memencet tombol kamera dan melongo. Tak ada amarilis di sana. Tak ada mawar. Tak ada daisy. Tak satupun gambar bunga yang diambil.

“Mana bunganya?” tanyaku.

“Lho? Emang tadi aku bilang mau foto bunga? Kan aku suka motret serangga. Ada koleksi foto semut, kumbang, belalang, kupu-kupu, capung dan….”

Alisku terangkat. Ingin tahu kelanjutan kalimatnya.

“Kak Adya.” Serunya kencang.

“Aku? Serangga?” kukejar dia yang tertawa cekikikan.

Ah, Kiara…

***

 

Curhat Emak, Nurul

Aku Dan Nurul, Tak Terpisahkan.

Entahlah, mungkin ini yang namanya feeling seorang ibu. Atau aslinya aku yang baperan. Selalu saja aku bisa mengendus hal tak menyenangkan saat aku meninggalkan Nurul dalam kondisi ragu. Iya, saat itu aku bisa tak percaya pada pengasuhan kakek neneknya selama aku keluar rumah. Dan tak lama, aku mendapat kabar buruk.
Dulu aku lagi bete tingkat dewa, ingin menenangkan diri ke perpustakaan. Aku menitipkan Nurul dengan separo hati, seolah ada larangan aku tak boleh meninggalkannya. Nurul menunjukkan tanda-tanda rewel, nggak mau ditinggal. Tapi aku tetap meninggalkannya. Baru beberapa menit aku di perpustakaan, ayahku mengabarkan Nurul jatuh dan keningnya benjol. Kaget, cemas, menyesal campur aduk di kepalaku. Saat itulah aku merasa gagal jadi ibu yang baik.
Tadi aku ada acara di sekolah. Aku ragu lagi meninggalkan Nurul karena semalam tidurnya gelisah. Tapi ibuku menyuruh tetap ke sekolah. Selama di sekolah, pikiranku ke Nurul terus. Dan tak lama ayahku mengabarkn kalau Nurul mengeluh sakit perut. Tak bisa dibujuk.
Buru-buru aku pulang. Ternyata dia panas, perutnya sakit karena belum pup selama beberapa hari. Langsung kubawa ke dokter, urusan sekolah kuwakilkan pada temanku.
Entahlah. Mungkin aku memang ditakdirkan tak boleh jauh dari anak. Walau kadang terselip iri melihat ibu muda yang masih punya waktu untuk “me time”. Biarlah, ini jalanku. Nurul memang harus mendapat perhatian ekstra dariku. Walau aku harus mengorbankan kepentinganku yang lain. Aku memang tak mungkin jadi wanita karir full time. Meninggalkan anak beberapa jam saja aku sudah gelisah.
Besok acara puncak di sekolahku. Lama kunantikan momen ini. Keseruan perayaan khatam Al Quran bersama murid-murid. Berhari-hari aku menyiapkan acara ini. Saat semua beres, aku tak bisa berbaur dengan teman-temanku. Apa daya, Nurul masih demam.
Aku masih berharap ada keajaiban. Semoga besok Nurul sembuh, dan aku bisa mengajaknya ikut acara. Nurul seneng banget melihat pawai khatam Al Quran. Semoga bisa.
Doakan Nurul cepat sembuh yaa….

Curhat Emak

Butuh Piknik

Apa jadinya jika kepala seorang Ibu mulai berasap dengan pekerjaan yang bejibun? Berputar-putar itu-itu saja? Pasti lelah lahir batin, stress, ngomel, marah, dan semua yang berbau negatif gampang keluar tanpa bisa dicegah. Itulah aku saat ini. Aku berada dalam titik terendah dalam segala hal. Aku menjadi Ibu yang buruk, penulis yang tidak produktif…. Ah.. Sudahlah.

Aku hanya lelah. Tapi entah pada siapa aku bisa menyampaikan rasa ini agar mudah dipahami. Penulis bukanlah pekerjaan yang familiar di keluargaku. Aku dianggap menulis sekedar nyambi, nggak perlu fokus, yang utama adalah anak. Oh… Andai mereka tahu, kadang aku nggak fokus dengan celotehan anak karena sibuk meramu ide di kepalaku. Tapi semua tersimpan manis dalam kepala, aku tak bisa mengeksekusi ide karena keterbatasan waktu.

Iya aku butuh dukungan. Aku butuh dijauhkan dari anak beberapa saat saja. Agar aku bisa tenang dan menyampaikan ideku yang meledak-ledak dalam tulisan. Tapi semua hanya mimpi. Tak ada yang mendukungku. Aku tak punya ART, semua dikerjakan sendiri. Aku punya suami yang lebih sering LDR dari pada di rumah. Aku kehabisan waktu dan tenaga, otomatis menulis bukan lagi priorotas.

Aku mencoba keluar sejenak dari kebutuhan menulis. Akku lupakan angan-angan menulis setiap hari dan dimuat setiap minggu. Aku lupakan target media yang kutuju. Aku bunuh mimpi menjadi seorang penulis. Aku cari kesenangan lain, menjahit dan membuat kue. Tapi aku masih tetap rindu menulis.

Saat itulah aku sadar. Aku menulis karena butuh. Aku butuh menyampaikan pemikiran sebagai terapi agar tak terasa menjadi orang yang paling menderita sedunia. Biarlah tak ada dukungan, toh dari dulu dukungan itu juga tidak maksimal. Aku kurang piknik. Iya, aku butuh piknik. Cuma saat ini tidak mungkin. Aku terkurung di rumah bersama tangisan anak berantem dan rumah yang berantakan. Bahkan untuk berbelanja ke pasar saja aku tak pernah. Kebayang kan, betenya aku? Dan aku marah!

Baiklah. Cukup sekian curhat geje kali ini. Mungkin ini tulisan yang paling memuakkan. Aku menyalahkan hal-hal di luar kendaliku. Dan semua itu tak bisa kuperbaiki.

Dimuat

Cerita Anak : Perca Kain Wiwi

Naskah ini punya cerita panjang menjelang pemuatan. Awalnya saya menulis ini sebagai salah satu syarat ikut kelas cerpen gratis Mas Bambang Irwanto, tapi ditolak. Hiks… Lalu saya coba peruntungan naskah ini ke koran lokal. Lama tak ada kabar, dan artinya ditolak lagi. Hiks 2x. Akhirnya sayang naskah terbuang percuma, saya kirim ke Bobo tanpa harapan dimuat. Cuma buat memenuhi amplop saja, biar rada berat dikit hehe. Saya gabung dengan beberapa naskah, yang ini kalau nggak dimuat juga pasrah.

Tapi siapa sangka, justru di Bobo jodohnya. Jadi, tak usah sedih kalau cerpenmu ditolak di media lokal, karena mungkin saja dimuat di media nasional. 😀

Bobo, 24 Maret 2016
Bobo, 24 Maret 2016

PERCA KAIN WIWI

Oleh : Novia Erwida

Wiwi menghampiri Kak Alia di balik mesin jahit. Kak Alia sibuk sekali. Sampai tidak memperhatikan Wiwi yang serius mengamatinya. Kakinya menekan pedal mesin  jahit, tangannya bergerak maju mundur. Lalu menggunting benang. Menjahit lagi. Berhenti lagi. Menjahit lagi. Terus begitu.

Suara mesin jahit keras. Tapi buat Kak Alia itu sudah biasa. Kak Alia adalah tetangga Wiwi. Pekerjaannya tukang jahit.

“Kak..” sapa Wiwi dengan suara yang sedikit keras. Deru mesin jahit sedikit mengganggu , kalau mau bicara, Wiwi harus agak berteriak.

Kak Alia menghentikan jahitannya. “Kenapa Wi??” tanya Kak Alia.

Wiwi takut-takut. Matanya melirik kain perca yang menumpuk di sudut ruangan.

“Boleh minta itu, Kak?” tanya Wiwi. Kak Alia mengikuti arah tatapan mata Wiwi.

“Ooo.. Mau kain perca? Wiwi pulang dulu ya. Besok ke sini lagi. Kakak masih banyak jahitan. Biar nanti Kakak pilihkan beberapa buat Wiwi. Kain itu masih ada yang bisa dipakai.” jawab Kak Alia.

“Makasih Kak..” Wiwi sangat senang. Dia segera pamit dan berlari menuju rumahnya. Terdengar Ibu memanggil, menyuruh Wiwi mandi sore.

Keesokan harinya, penuh semangat Wiwi mampir ke rumah Kak Alia. Sambil mengantarkan gorengan buatan Ibu. Ibu sering menitip makanan buat Kak Alia. Karena Kak Alia hanya tinggal berdua dengan neneknya. Kak Alia sibuk dengan jahitan, neneknya sudah tua. Sering sakit. Kadang Kak Alia tak sempat masak.

“Kak Alia..” sapa Wiwi.

Terdengar bunyi mesin jahit. Kak Alia tidak mendengar salam Wiwi. Wiwi langsung masuk ke tempat Kak Alia menjahit.

“Kak, ini gorengan titipan Ibu.” kata Wiwi sambil menyodorkan piring berisi pisang goreng yang masih panas.

“Waaah.. Dapat rezeki.” Kak Alia senang sekali. Dia sepertinya lapar. Langsung digigitnya gorengan itu. Setelah itu Kak Alia mengantar gorengan ke kamar neneknya. Kak Alia menyuapkan neneknya beberapa potong gorengan. Nenek sedang tidak enak badan.

Tak lama Kak Alia keluar sambil membawa kantong plastik. “Ini buat kamu.” kata Kak Alia. Wiwi melongok isi bungkusan itu. Kain perca. Mata Wiwi berbinar.

“Makasih, Kak! Wiwi pulang, ya. Mau bikin sesuatu dengan kain ini.” Ujar Wiwi bersemangat.

“Boleh.. Sampaikan terima kasih, ya, ke Ibu buat makanannya…” kata Kak Alia.

“Yup, Kak.. Sama-sama.” Jawab Wiwi.

Sampai di rumah, Wiwi sibuk dengan kain percanya. Ia meraih bonekadan melepaskan baju bonekanya yang sudah usang. Ibu berjanji akan membantu menjahitkan baju boneka. Cukup lama Wiwi mengamati baju bonekanya. Sampai Wiwi tidak menyadari Ibu datang ke kamarnya.

“Waah.. Kainnya bagus.” puji Ibu.

Wiwi menoleh pada Ibu, tersenyum bangga. “Ini lho Bu, kain perca yang dikasih Kak Alia. Wiwi yang gunting, Ibu yang jahit ya??” kata Wiwi.

“Boleeeh…” sahut Ibu sambil tersenyum. Ibu mengajari Wiwi menggunting kain. Kainnya lumayan banyak, bisa buat 3 buah baju. Setelah pola bajunya jadi, Wiwi membereskan peralatan dan membuang sisa kain ke tong sampah.

“Lho, kok dibuang?” tanya Ibu.

“Kan, kainnya kecil-kecil. Nggak bisa dipakai lagi..” jawab Wiwi.

“Bisa kok! Sini deh.” Ibu mengambil lagi kain yang sudah dibuang itu. Ibu lalu menggunting kain kecil-kecil itu menjadi berbentuk lingkaran. Setelah itu, Ibu menjahit jelujur dengan tangan di pinggiran lingkaran itu. Lalu Ibu menarik benang, kainnya jadi berkerut-kerut dan bulat. Cantik sekali.

“Coba bikin beberapa seperti ini. Bisa jadi hiasan jepitan rambut, taplak meja, tutup televisi, asal dirangkai dengan rapi. Teman Ibu ada yang bikin tas bahkan selimut dari kain perca. Barang-barang yang masih bagus, jangan langsung dibuang ya, Wi.” kata Ibu.

Wiwi mengangguk-angguk.

“Barang-barang jelekpun, masih bisa dipakai. Contoh, baju kaos yang sudah sobek dan pudar, malu kan memakainya. Nah, bisa tuh jadi lap dapur. Atau buat membersihkan jendela. Kita bisa berhemat. Tak perlu beli kain lap. Ya kan??”

Wiwi setuju.

Ibu menjahitkan baju boneka Wiwi dengan mesin jahit. Sekarang baju bonekanya sudah jadi. Cantik sekali. Wiwi senang bisa ganti baju boneka sesukanya. Wiwi bangga dengan hasil kerja kerasnya. Baju bonekanya sudah ada 3 helai. Ia juga sudah bisa membuat sendiri hiasan rambut dan taplak meja.Wiwi gembira karena tak perlu beli lagi.

Sekarang, Wiwi tidak mau lagi asal buang barang bekas. Ternyata banyak barang bekas yang masih bisa dimanfaatkan.

***

IMG-20160325-WA0001

Curhat Emak

Bijak Menyikapi Perbedaan

Hari ini cukup melelahkan. Padahal aku nggak kerja berat. Cuma capek dengat perdebatan sama seseorang. Aku sudah bilang kalau aku nggak suka berdebat, takutnya jadi putus hubungan dan sebel-sebelan. Berawal dari beda pendapat, biasalah. Aku udah tutup WA, eeh… masih aja dia balas.

Kalau ngomong sama orang seide sih gampang, apa aja sumber informasi yang dikasih, pasti sepaham. Tapi kalau ngomong sama orang ngajakin debat, capeeeek. Dia bombardir aku dengan link yang membenarkan pendapatnya. Dikasi info malah ngeyel. Aku ngasih info sepanjang pengetahuanku toh? Mana waktuku habis buat ngechat. Harusnya bisa tuh bikin satu artikel. Trus ngalah deh, bilang aku hanyalah hamba yang dhaif, ga tau apa-apa. Dia surut dulu. Sore-sore… Dhuaaar… Ngechat lagi.

Jadi kaya debat kusir nih. Ga ada habis-habisnya. Ga ada moderator juga. Dan yang paling kurasa rugi adalah energiku terkuras. Soalnya nahan-nahan nih, biar ga ngamuk. Aku bisa menjelaskan panjang lebar kali tinggi. Tapi baru sedikit penjelasannya, dia bilang aku nggak berhak menjelaskan seperti itu. Aku belum memenuhi syarat, belum bisa bahasa Arab, belum bisa ini, itu, endebrau endebrau.

Dari dulu aku nggak suka berbalas pantun kaya gini. Sehati sama bang Ippho, dia menyarankan jauhi debat.  Panutannya Rasulullah banget. Iya sih, aku juga sering capek kalau lihat acara debat di TV. Semua mengeluarkan sesak di hati. Hasilnya apa? Malah makin panas. Mending nonton film kartun.

Tak masalah kalau pendapatku dibantah, idolaku dicela, karena sebagai manusia pasti punya celah kesalahan. Aku lebih memilih menahan untuk tidak menyebar kekurangan pendapatnya, karena itu berarti memperpanjang chat. Menghabiskan energiku. Membuatku capek lahir batin. Biarlah dia dengan pendapatnya, aku dengan pendapatku. Sudah berkali-kali kututup dengan kalimat senada ini. Tapi aku masih dibombardir. Hiks…

Saat ini dia lagi istirahat. Mungkin sedang gugling mengumpulkan bahan untuk mematahkanku. Eh? Mematahkan apa? Aku juga tak punya keuntungan dari perdebatan ini. Aku malah kehabisan waktu.

Duh… Dek. Dari kita belum lahir, juga, perbedaan itu akan selalu ada. Dalam hal apapun. Yang paling susah adalah menjaga untuk tetap saling menghargai di tengah perbedaan. Aku ga mau gara-gara ini kamu membenciku dan aku membencimu.  Berhentilah, kalau kamu masih chat juga, aku blokir nih. *Serius demi menjaga silaturrahim.

Dunia Penulis

Gabung Dengan Komunitas Menulis, Yuk?

Ada beberapa teman yang heran melihat medsosku selalu online. Medsos memang seperti pisau bermata dua. Kita bisa habis waktu dengannya, atau kita yang pegang kendali memanfaatkannya. Aku aktif bukan untuk bermain-main di beranda. Ada banyak peer yang harus kuselesaikan, dan harus menggunakan medsos.

Buatku, komunitas sangat penting. Aku punya teman yang saling menyemangati untuk tetap berkarya. Karena aku sudah fokus jadi penulis media, maka aku aktif dalam beberapa kelas menulis. Adakalanya jadwalku bentrok. Biasanya, satu kelas hanya mewajibkan pesertanya menulis satu cerpen dalam seminggu. Kalau bentrok, ya kalikan saja. Kadang aku harus bikin dua cerpen, kadang tiga, parahnya lagi, aku harus menulis di grup A, dan menjadi Pije di grup B dan C dengan tiga puluhan naskah. Semua harus kelar dalam seminggu. Wew… Kalau dipikir-pikir, bisa teler.

Ternyata aku bisa. Nggak perlu pake pikir-pikir, hajar aja. Minggu ini betul-betul melelahkan. Tapi aku puas. Aku bisa mengalahkan rasa malasku dan rasa minderku saat berada di kelas.

Oya, kenalan yuk dengan komunitasku.

  1. Be A Writer

Ini adalah grup menulis pertamaku. Belajarnya gratis. Penemunya mbak Leyla Hana. Selama ini aku cuma kenal namanya di Annida, enggak nyangka bakal berteman dan masuk grup kerennya. Aku belajar Bahasa Indonesia lagi dari awal, belajar menyusun kata, belajar membuat cerita dari gambar, dll.

BAW punya komunitas di facebook bernama BAW Community. Ada banyak kelas di sini. Kelas fiksi dan non fiksi. Penghuninya sekitar 800 orang. Grup ini tertutup, bisa request kalau kamu mau masuk. Boleh juga main ke sini.

  1. Penulis Tangguh

Rasanya mimpi bisa masuk grup asuhan Mbak Nur ini. Soalnya pijenya sangar, kelasnya ketat dan ada sanksi dikeluarkan kalau tidak aktif menulis. Penulis tangguh adalah grup menulis gratis yang belajar hampir semua tema penulisan. Fiksi, non fiksi, synopsis, skenario, ngeblog, kelas Bahasa Inggris dll. Saat ini ada 48 orang di dalam grup. Silakan mampir ke sini.

  1. Merah Jambu Gabungan

Grup ini adiknya Penulis Tangguh. Isinya alumni kelas menulis Merah Jambu, kelas berbayar, gabungan dari siswa kelas cerita anak dan kelas cerita dewasa. Awalnya kelas ini terbentuk karena ingin mengikuti langkah Penulis Tangguh. Jadi penghuninya disaring dulu sama mbak Nur. Persis Penulis Tangguh, siapa yang tidak aktif akan dikeluarkan. Ada 51 orang di grup ini. Ini contoh tulisan yang sudah dimuat di media.

  1. Rumah Jamur Kurcaci Pos

Grup ini khusus cernak, digawangi oleh mas Bambang Irwanto. Ada pembagian jadwal posting cerpen juga, cuma karena tidak ada sanksi, jadi banyak yang bolos sesukanya. Hehe. Penghuninya 129 orang, alumni kelas berbayar Kurcaci Pos. Kamu bisa belajar bikin cernak di sini.

Jadi ngapain aja di grup? Banyak pake banget. Setiap Minggu kita dilempar satu tema, harus bikin cerpen baru dengan tema tersebut. Aku malah hampir nangis karena stress berat awal masuk PT. Tapi lama-lama aku sadar, grup ini betul-betul menempa kwalitas mental dan tulisan anak didiknya. Banyak tulisanku yang bermunculan hasil belajar di kelas. Kalau tidak disiplin, tak akan jadi-jadi itu tulisan.

Saat bertugas jadi pije, aku harus membaca semua naskah teman-teman, lalu memberi masukan dimana letak kurangnya, dan member saran yang membangun. Tak ada basa-basi untuk kemajuan. Kalau bagus ya bilang bagus, jelek ya bilang jelek. Tunjukkan jalan kebenaran. #eh

Minggu lalu aku keteteran karena harus menyelesaikan tiga cerpen dalam seminggu. Minggu ini dua cerpen plus dua tugas jadi pije. *Lap keringat. Hari ini aku lega, bisa menyelesaikan semua tugasku semaksimal mungkin. Kulihat file cerpen di folderku mulai menumpuk, hasil kelas yang belum dikirim ke media manapun. Alhamdulillah.

Untuk meraih kesuksesan, memang perlu kerja keras. Menjadi penulis tak bisa hanya modal “ingin”. Tak perlu juga maruk, ikut semua grup tanpa menyelesaikan tugas-tugas. Ambil yang kamu rasa sanggup, lalu jalankan tugasmu.Grup di atas hanya segelintir dari grup menulis yang ada. Jadi, kamu ikut grup apa?

Selamat menulis. 😀

Curhat Emak, Dunia Penulis

Tak Perlu Merasa Bersalah

Ibu adalah seseorang yang bersedia berkorban apapun untuk anaknya. Aku sudah merasakannya. Tak bisa makan dengan tenang. Tak bisa lagi tidur lelap. Dan tak bisa seenaknya keluar rumah seperti masa gadis dulu. Dulu kupikir,menjadi ibu memang harus begitu. Walau didera rasa bosan, muak mengerjakan itu-itu saja.

Berbagai pencerahan menghampiriku. Dimulai dari status teman-teman, juga hasil gugling sendiri. Menjadi Ibu tak perlu merasa tersiksa. Aku harus bisa membahagiakan diri sendiri. Keluar dari rutinitas bersama anak. Dulu aku rela melepaskan pekerjaan demi menjaga buah hati. Rasanya wah bisa melihat setiap detik tumbuh kembangnya. Syukurlah aku tidak melepas semua job, aku masih mempertahankan pekerjaan part time, 4 kali seminggu selama dua jam per hari.

Lelah? Sudah pasti. Tapi menjadi full mom, sungguh aku tak betah. Maaf, postingan ini murni curhat. Aku nggak akan mengulik-ngulik bahasan mom war irt vs karir. Posisiku di tengah keduanya. Aku bekerja part time. Walau cuma sebentar, selalu ada rasa bersalah saat meninggalkan anak.

Aku kangen bisa pergi sendiri, menikmati kesendirian. Malah aku tak suka saat suami mau menemani. Ada saatnya bersama, ada saatnya aku sendiri tanpa suami dan anak. Kesendirian bukan untuk jalan-jalan tanpa tujuan. Bukan ngumpul bareng teman-teman. Aku tak suka keramaian. Sejak menjadi ibu, aku harus bisa mengefekifkan waktu. Sejam dua jam di luar cukup untuk mengecas kembali energi positif bersama anak. Aku harus menentukan pilihan, mau “me time” dimana.

Aku tak suka belanja, tak suka salon, tak suka nonton. Perpustakaan adalah pilihan terbaikku. Berada di kesendirian dengan wangi parfum di ruang baca dan keheningan memanjakan telingaku. Aku suka di sini. Di sinilah tempat terbaik untuk melepas lelah.

Memang harus ada koordinasi yang manis dengan anggota keluarga. Kalau ingin si ibu tak bermuka masam setiap hari, biarkan dia sendiri. Biarkan waktunya habis dengan hobinya, jangan disela. Ibu yang bahagia, akan menjadi cahaya dalam keluarga. Ibu yang bersedih, akan menumpuk kesal dan memendam kelelahan yang luar biasa.

Aku harus bisa menjadi diriku sendiri. Menikmati pilihan hidupku menjadi ibu sekaligus bekerja di luar rumah. Mood ku terjaga saat jauh dari anak. Karena aku bukan type ibu yang punya kesabaran seluas samudera menghadapi anak. Aku gampang bete hanya mendengar tangisannnya.

Aku adalah irt, guru dan penulis. Menulis bagiku penyaluran hobi sekaligus meminimalisir energi negatif dengan kejenuhan pekerjaan di rumah. Walaupun menulis pekerjaan sampingan, bukan berarti aku harus menulis sesempatnya saja. Aku ingin fokus saat menulis, fokus saat menjadi guru dan fokus mengahadapi anak.

Terima kasih untuk orangtuaku yang bersedia menjaga anak selama aku menikmati “me time”. Sudah setua ini, orang tua masih menganggapku anak-anak. Saat aku bosan, mereka tak pernah melarang aku untuk sendiri. Pak suami tak pernah membiarkanku sendiri. Berdua dengan laptop saja, dia bisa cemburu 😀

Banggalah dengan pilihan, menjadi irt atau berkarir. Sebab apapun pilihanmu, selalu ada plus minusnya.