Curhat Emak, Dunia Penulis, Foto, Hikmah, Perjalanan

Berbagi Bersama Kelas Inspirasi Bukittinggi

Aku mendapat info pembukaan kelas inspirasi dari mbak Naqiyyah Syam. Ingin sih ada, tapi terbentur waktu dan kerjasama mengasuh Nurul selama aku tak di rumah. Aku tak mau berpikir panjang, langsung saja mendaftar tanpa bilang-bilang. Setelah dapat email bahwa aku lolos sebagai inspirator, baru aku bingung. Setelah diskusi sama suami, dan koordinasi dengan kakek neneknya Nurul, Alhamdulillah, aku bisa ikut dan mereka akan menjaga si kecil.

Sebenarnya kelas inspirasi tidak terlalu memberatkan, karena hanya sekali pertemuan. Tapi harus meluangkan waktu buat briefing, dan refleksi setelah kelas berlangsung. Mana pernah aku ninggalin Nurul lama-lama. Tapi demi bisa berbagi tentang profesi seorang penulis, aku ikut. Nggak nyangka, aku bertemu orang-orang hebat yang semangat berbagi. Mereka mengorbankan waktu, tiket PP antar pulau, akomodasi dengan modal sendiri. Aku juga harus jadi ibu kuat, bersedia jauh dari anak untuk bisa menginspirasi anak-anak lain.

Halo semua...! Nama saya Novia Erwida. Saya adalah seorang penulis.
. Halo semua…! Nama saya Novia Erwida. Saya adalah seorang penulis. Foto : Cindy

Aku dan beberapa teman ditempatkan di SDN 08 Tarok Dipo Bukittinggi. Sekolahnya bagus, muridnya banyak. Dan mereka sangat antusias menyambut kedatangan kami. Oya, yang datang ke sana tak cuma inspirator. Tapi ada fasilitator yang sudah rapat beberapa kali demi acara ini, dan dokumentator yang sibuk mengabadikan kegiatan ini. Kami baru saling mengenal, tapi sudah menjadi tim yang kompak. Semangat berbagi yang menyatukan.

Sedang mengenalkan majalah anak pada murid-murid
Aku sedang mengenalkan majalah anak pada murid-murid. Foto : Cindy

Masing-masing inspirator mendapat jatah mengajar di tiga kelas. Aku mengajar di kelas 4B, 3B dan 6B. Kelas 4 dan 3 sangat antusias, karena aku menyertakan majalah Bobo yang memuat cerpenku. Sampai di kelas 6, mereka nggak tertarik sama sekali. Rupanya sebelum aku masuk, sudah ada penulis lain yang masuk kelas itu. Yaah… Jualanku nggak laku, dong. -_-

Setelah dijelaskan kalau penulis itu banyak, baru mereka mulai tertarik. Kakak Amin yang masuk sebelumnya adalah penulis buku, sedangkan aku -ngakunya- penulis cerita anak. Bawa Bobo, bawa impian bahwa mereka tetap bisa menjadi apapun yang mereka inginkan, sambil menjadi penulis. Dokter, bidan, pilot, siapapun bisa jadi penulis dan menyampaikan ilmu mereka sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Para inspirator dkk. Foto : Budi Kurniawan
Para inspirator dkk.
Foto : Budi Kurniawan

Habis acara, kita foto-foto. Yang lucu, mereka minta tanda tangan pada semua inspirator. “Duh, nak… Kami bukan artis. Tapi demi melihat kalian senang, ayok sini… Mana pulpennya?”

Rame, kan? Foto : Budi Kurniawan
Rame, kan?
Foto : Budi Kurniawan

Oya, kelas ini baru pertama kali diadakan di Bukittinggi. Sudah ada beberapa ulasan media online mengenai ini.

  1. Berita saat briefing di sini
  2. Saat kelas berlangsung di sini
  3. Ulasanku di rumah jamur kurcaci pos

Beberapa teman adalah KI (Kelas Inspirasi) hunter. Mereka menyerbu tempat terjauh demi pengalaman yang tak terulang lagi. Tapi bagiku dengan anak balita, rasanya itu sulit. Buktinya, baru berpisah seharian saja, aku sangat kangeeen sama Nurul.

Emak lebay. ^_^

Iklan
Dunia Penulis

Gabung Dengan Komunitas Menulis, Yuk?

Ada beberapa teman yang heran melihat medsosku selalu online. Medsos memang seperti pisau bermata dua. Kita bisa habis waktu dengannya, atau kita yang pegang kendali memanfaatkannya. Aku aktif bukan untuk bermain-main di beranda. Ada banyak peer yang harus kuselesaikan, dan harus menggunakan medsos.

Buatku, komunitas sangat penting. Aku punya teman yang saling menyemangati untuk tetap berkarya. Karena aku sudah fokus jadi penulis media, maka aku aktif dalam beberapa kelas menulis. Adakalanya jadwalku bentrok. Biasanya, satu kelas hanya mewajibkan pesertanya menulis satu cerpen dalam seminggu. Kalau bentrok, ya kalikan saja. Kadang aku harus bikin dua cerpen, kadang tiga, parahnya lagi, aku harus menulis di grup A, dan menjadi Pije di grup B dan C dengan tiga puluhan naskah. Semua harus kelar dalam seminggu. Wew… Kalau dipikir-pikir, bisa teler.

Ternyata aku bisa. Nggak perlu pake pikir-pikir, hajar aja. Minggu ini betul-betul melelahkan. Tapi aku puas. Aku bisa mengalahkan rasa malasku dan rasa minderku saat berada di kelas.

Oya, kenalan yuk dengan komunitasku.

  1. Be A Writer

Ini adalah grup menulis pertamaku. Belajarnya gratis. Penemunya mbak Leyla Hana. Selama ini aku cuma kenal namanya di Annida, enggak nyangka bakal berteman dan masuk grup kerennya. Aku belajar Bahasa Indonesia lagi dari awal, belajar menyusun kata, belajar membuat cerita dari gambar, dll.

BAW punya komunitas di facebook bernama BAW Community. Ada banyak kelas di sini. Kelas fiksi dan non fiksi. Penghuninya sekitar 800 orang. Grup ini tertutup, bisa request kalau kamu mau masuk. Boleh juga main ke sini.

  1. Penulis Tangguh

Rasanya mimpi bisa masuk grup asuhan Mbak Nur ini. Soalnya pijenya sangar, kelasnya ketat dan ada sanksi dikeluarkan kalau tidak aktif menulis. Penulis tangguh adalah grup menulis gratis yang belajar hampir semua tema penulisan. Fiksi, non fiksi, synopsis, skenario, ngeblog, kelas Bahasa Inggris dll. Saat ini ada 48 orang di dalam grup. Silakan mampir ke sini.

  1. Merah Jambu Gabungan

Grup ini adiknya Penulis Tangguh. Isinya alumni kelas menulis Merah Jambu, kelas berbayar, gabungan dari siswa kelas cerita anak dan kelas cerita dewasa. Awalnya kelas ini terbentuk karena ingin mengikuti langkah Penulis Tangguh. Jadi penghuninya disaring dulu sama mbak Nur. Persis Penulis Tangguh, siapa yang tidak aktif akan dikeluarkan. Ada 51 orang di grup ini. Ini contoh tulisan yang sudah dimuat di media.

  1. Rumah Jamur Kurcaci Pos

Grup ini khusus cernak, digawangi oleh mas Bambang Irwanto. Ada pembagian jadwal posting cerpen juga, cuma karena tidak ada sanksi, jadi banyak yang bolos sesukanya. Hehe. Penghuninya 129 orang, alumni kelas berbayar Kurcaci Pos. Kamu bisa belajar bikin cernak di sini.

Jadi ngapain aja di grup? Banyak pake banget. Setiap Minggu kita dilempar satu tema, harus bikin cerpen baru dengan tema tersebut. Aku malah hampir nangis karena stress berat awal masuk PT. Tapi lama-lama aku sadar, grup ini betul-betul menempa kwalitas mental dan tulisan anak didiknya. Banyak tulisanku yang bermunculan hasil belajar di kelas. Kalau tidak disiplin, tak akan jadi-jadi itu tulisan.

Saat bertugas jadi pije, aku harus membaca semua naskah teman-teman, lalu memberi masukan dimana letak kurangnya, dan member saran yang membangun. Tak ada basa-basi untuk kemajuan. Kalau bagus ya bilang bagus, jelek ya bilang jelek. Tunjukkan jalan kebenaran. #eh

Minggu lalu aku keteteran karena harus menyelesaikan tiga cerpen dalam seminggu. Minggu ini dua cerpen plus dua tugas jadi pije. *Lap keringat. Hari ini aku lega, bisa menyelesaikan semua tugasku semaksimal mungkin. Kulihat file cerpen di folderku mulai menumpuk, hasil kelas yang belum dikirim ke media manapun. Alhamdulillah.

Untuk meraih kesuksesan, memang perlu kerja keras. Menjadi penulis tak bisa hanya modal “ingin”. Tak perlu juga maruk, ikut semua grup tanpa menyelesaikan tugas-tugas. Ambil yang kamu rasa sanggup, lalu jalankan tugasmu.Grup di atas hanya segelintir dari grup menulis yang ada. Jadi, kamu ikut grup apa?

Selamat menulis. 😀

Curhat Emak, Dunia Penulis

Tak Perlu Merasa Bersalah

Ibu adalah seseorang yang bersedia berkorban apapun untuk anaknya. Aku sudah merasakannya. Tak bisa makan dengan tenang. Tak bisa lagi tidur lelap. Dan tak bisa seenaknya keluar rumah seperti masa gadis dulu. Dulu kupikir,menjadi ibu memang harus begitu. Walau didera rasa bosan, muak mengerjakan itu-itu saja.

Berbagai pencerahan menghampiriku. Dimulai dari status teman-teman, juga hasil gugling sendiri. Menjadi Ibu tak perlu merasa tersiksa. Aku harus bisa membahagiakan diri sendiri. Keluar dari rutinitas bersama anak. Dulu aku rela melepaskan pekerjaan demi menjaga buah hati. Rasanya wah bisa melihat setiap detik tumbuh kembangnya. Syukurlah aku tidak melepas semua job, aku masih mempertahankan pekerjaan part time, 4 kali seminggu selama dua jam per hari.

Lelah? Sudah pasti. Tapi menjadi full mom, sungguh aku tak betah. Maaf, postingan ini murni curhat. Aku nggak akan mengulik-ngulik bahasan mom war irt vs karir. Posisiku di tengah keduanya. Aku bekerja part time. Walau cuma sebentar, selalu ada rasa bersalah saat meninggalkan anak.

Aku kangen bisa pergi sendiri, menikmati kesendirian. Malah aku tak suka saat suami mau menemani. Ada saatnya bersama, ada saatnya aku sendiri tanpa suami dan anak. Kesendirian bukan untuk jalan-jalan tanpa tujuan. Bukan ngumpul bareng teman-teman. Aku tak suka keramaian. Sejak menjadi ibu, aku harus bisa mengefekifkan waktu. Sejam dua jam di luar cukup untuk mengecas kembali energi positif bersama anak. Aku harus menentukan pilihan, mau “me time” dimana.

Aku tak suka belanja, tak suka salon, tak suka nonton. Perpustakaan adalah pilihan terbaikku. Berada di kesendirian dengan wangi parfum di ruang baca dan keheningan memanjakan telingaku. Aku suka di sini. Di sinilah tempat terbaik untuk melepas lelah.

Memang harus ada koordinasi yang manis dengan anggota keluarga. Kalau ingin si ibu tak bermuka masam setiap hari, biarkan dia sendiri. Biarkan waktunya habis dengan hobinya, jangan disela. Ibu yang bahagia, akan menjadi cahaya dalam keluarga. Ibu yang bersedih, akan menumpuk kesal dan memendam kelelahan yang luar biasa.

Aku harus bisa menjadi diriku sendiri. Menikmati pilihan hidupku menjadi ibu sekaligus bekerja di luar rumah. Mood ku terjaga saat jauh dari anak. Karena aku bukan type ibu yang punya kesabaran seluas samudera menghadapi anak. Aku gampang bete hanya mendengar tangisannnya.

Aku adalah irt, guru dan penulis. Menulis bagiku penyaluran hobi sekaligus meminimalisir energi negatif dengan kejenuhan pekerjaan di rumah. Walaupun menulis pekerjaan sampingan, bukan berarti aku harus menulis sesempatnya saja. Aku ingin fokus saat menulis, fokus saat menjadi guru dan fokus mengahadapi anak.

Terima kasih untuk orangtuaku yang bersedia menjaga anak selama aku menikmati “me time”. Sudah setua ini, orang tua masih menganggapku anak-anak. Saat aku bosan, mereka tak pernah melarang aku untuk sendiri. Pak suami tak pernah membiarkanku sendiri. Berdua dengan laptop saja, dia bisa cemburu 😀

Banggalah dengan pilihan, menjadi irt atau berkarir. Sebab apapun pilihanmu, selalu ada plus minusnya.

Curhat Emak, Dunia Penulis, Perjalanan

Mengunjungi Perpustakaan Bung Hatta

IMG_20160213_103845.jpg

Berawal dari kejenuhanku mengasuh Nurul dan hasil tulisanku yang semakin merosot, akhirnya aku meluangkan diri mengunjungi perpustakaan kota Bukittinggi. Aku butuh referensi baru buat penyegaran. Ya sih, di rumah aku juga bisa baca. Banyak buku-buku keren dari perpustakaan digital yang aku dowload, tapi suasana tenang mana mungkin kudapatkan di rumah? Yang ada suara Nurul dan Qisthi yang tertawa dan menangis selang seling. Bagi emak-emak, tangisan anak pemicu darah naik. -_-

Dari dulu aku ingin ke perpustakaan ini. Di rumah kepala rasanya mau pecah, aku butuh keheningan. Setelah menitipkan Nurul ke kakek neneknya, aku meluncur ke Perpustakaan Proklamator Bung Hatta yang beralamat di Gulai Bancah Bukittinggi. Perpustakaan besar dua lantai dengan tempat yang nyaman.

Yeay… Akhirnya aku bisa menikmati kebebasan. Baru masuk, aku langsung mendaftar sebagai anggota perpustakaan. Ketinggalan banget, ya. Hihi… Soalnya aku jarang main ke sini. Tempatnya lumayan jauh dari rumahku. Sekitar 25 menit pakai motor. Aku sukanya beli buku, bisa baca di rumah walau kadang nggak konsen diselingi ulah anak.

IMG_20160213_111531.jpg
Lantai satu, gambar diambil dari depan toilet (enggak banget yak) 😀

Di sini tempatnya enak. Ada sofa-sofa empuk di ruang baca. Juga karpet tebal dan meja baca. Pokoknya nyaman, deh. Toiletnya juga bersih. Mushalla juga adem. Wuih… bisa betah nih lama-lama di sini. Jadi malas pulang. #eh.

Lantai satu untuk buku baru dan lantai dua untuk novel dan majalah. Aku masuk ke ruang anak, dan cuek aja saat anak-anak SD berseragam pramuka melirikku. Mungkin mereka pikir “Tante itu ngapain ya? Apa nggak salah ruang?” Padahal aku kangeeeen banget sama bacaan anak. Biasanya ibu-ibu yang masuk ruang baca anak bawa anak kecil. Besok-besok bawa Nurul ke sini ah. Biar dia bisa baca, ada mainan juga.

IMG_20160213_132704.jpg
Ruang Baca Anak

Akhirnya, setelah puas baca Donal Bebek (nggak mutu banget yak) aku nyantai sejenak dan pulang. Hari ini ke perpus cuma buat menenangkan diri dari keruwetan ngasuh.

Mulai sekarang, me time di perpustakaan aja. Bisa bikin cerpen juga. Bisa rekreasi juga. Ada taman di depan dengan kolam ikan dan kura-kura. Jadi semakin nggak sabar ngajak Nurul ke sini.

Yuk, main-main ke perpustakaan. 🙂

 

Dunia Penulis

Antara MJ dan PT

Hallo… Sudah kenal dengan kelas menulis Merah Jambu (MJ) belum? Aku salah satu murid angkatan pertama. Kelas berbayar yang diadakan oleh mbak Nurhayati Pujiastuti ini mengajarkan trik menulis dan menembus media. Alhamdulilah… Aku bukan cuma balik modal, tapi untung duit. Ya dong, di kelas kita diajarkan untuk menulis dan tulisan kita harus dihargai. Jangan mau ikut lomba menulis berbayar, itu sama dengan judi. Dan setiap kamu menerbitkan buku, jangan mau membayar. Justru kitalah yang harus dibayar.

Ehem… Serem ya. Matre ya? Ga munafik sih. Siapa yang mau kerja keras tanpa penghargaan. Tapi begitulah awalnya aku diajarkan, dan aku belum sampai pada level mbak Nur, yang menjadikan menulis itu kebutuhan. Tiada hari tanpa menulis. Kalau aku, tiada menulis tanpa mood. Hehe.

Selain MJ, mbak Nur sudah lama punya murid dengan label Penulis Tangguh (PT). Dan ini free. Dengan syarat, anggotanya harus rajin menulis, mau belajar dan membagikan ilmu. Jadi, tak boleh kekep ilmu sendiri. Lagian, soal rejeki tak akan tertukar, kok. Senangnya bisa sharing sesama komunitas.

Aku sudah lama pengen masuk PT. Tapi seleksinya ketat, dan sering kecolongan info. Kemarin adalah hari keberuntunganku. Mbak Nur mengajak 2 orang murid MJ gabung di PT. Dengan syarat siap menimba ilmu dan membagikan lagi ke MJ. Seleksinya pakai nulis cerpen dengan tema “tempat yang jarang dikunjungi”. Untunglah saat itu Nurul sedngan tidur siang, maka aku langsung meras otak dan ketak ketik. Kirim ke inbox Mbak Nur, dan berdoa.

Sorenya, aku dapat kabar dari Hairi Yanti kalau aku sudah dimasukin mbak Nur ke PT. Huaa… Rasanya mimpi sekelas dengan penulis2 keren. Mbak Nur sudah wanti-wanti, jangan coba malas di kelas. 3x tidak aktif, aku ditendang. Glek!

Ngeri ya.  Kalau di MJ aku suka malas. Di PT dituntut rajin. Dan aku harus transfer ilmu ke MJ. Okelah, anggap saja aku duta MJ yang bertanggung jawab menyampaikan ilmu mbak Nur buat teman-temanku. Semoga Mbak Nur mendapat banyak pahala. Ilmunya terus dipakai oleh anak didiknya.

Curhat Emak, Dunia Penulis

Satu Buku, Satu Tulisan.

Sebentar lagi Ramadhan berakhir. Itu artinya, lebaran semakin dekat dengan segala kebutuhan yang sangat melibatkan uang. Hiks… Harga-harga kok melambungnya tinggi amat, ya. Kalau ke pasar, bawa duit banyak, dapatnya dikit. 😥

Syukurlah suami tak membatasi aku belanja. Aku boleh memilah belanja apa saja, selama itu berada di jalan yang benar. #Eh? Suami membebaskan aku beli buku yang aku suka, dari awal menikah di sudah tahu aku selalu butuh bacaan baru. Hampir setiap minggu. Walau kadang aku belinya buku / majalah bekas, hemat dan ilmunya masih baru buatku.

Dan sekaraaang… Aku ternganga melihat tumpukan buku yang kubeli. Kalau dihitung-hitung uangnya lumayan juga. Tapi menahan diri untuk beli majalah, aku tak bisa. Sejak kecil ayahku selalu rajin membelikanku bacaan anak. Membaca sudah seperti makan buatku.

Aku pernah baca salah satu penulis resensi yang tak mau rugi. Namanya aku lupa. Pokoknya dia harus selalu punya penghasilan dari setiap buku yang dia baca, caranya dengan menulis resensi buku itu. Jadi dia bisa balik modal, malah kadang-kadang untung banyak. Peresensi kan dibayar plus dikirimi buku baru, kan?

Okelah, aku sadar diri bukan peresensi buku. Lagian aku kebanyakan baca majalah, dan tak ada yang mau baca resensi majalah hehe. Aku harus bikin satu cernak untuk setiap majalah anak yang aku baca. Dan bikin cerpen untuk setiap novel yang aku baca. Semoga bisa balik modal.

Lagian kalau menulis tak dipaksakan, aku akan selalu mengikuti malasku. Jumlah majalah yang kubeli bulan ini, ada 12 biji. Baiklah, aku hutang 12 cerpen. Hitungannya harus per bulan. Semoga bisa. Dan aku ga boleh nambah majalah baru sampai cerpenku selesai. Glek…! Sesekali aku harus keras sama diri sendiri.

Mulai hari ini, aku akan rutin menulis. Mengingat dan menimbang harga-harga yang semakin naik, mengingat harga buku juga naik, maka aku harus menulis.

Coba dari dulu semangatnya ga luntur-luntur, sudah jadi penulis besar, aku. 😀

Curhat Emak, Dunia Penulis

Sharing Day : Mengasah Bakat

Nemu ini di draf. Tulisan perdana di grup Be A Writer. Saat aku masih unyu hihi.

Pisau kalau tidak diasah akan tumpul. Begitupun kita, punya bakat sehebat apapun kalau tidak diasah akan kembali ke nol. Seorang aktor profesional saja selalu latihan sebelum melakukan tugasnya. Ada latihan rutin, ada gladi resik sebelum pertunjukan, dan doa. Melakukan pekerjaan yang sama berulang-ulang bisa melicinkan jalan menuju sasaran.  Begitupun menulis.

Rasa sesalku masih menggunung, mengingat dunia tulisan ini kutinggalkan bertahun-tahun. Tulisan terakhirku dimuat di media tahun 2006. Dan setelah itu nol besar. Sekarang aku tertatih-tatih lagi belajar menulis. Mulai dari alif lagi, terbata-bata lagi. Jemariku kaku di atas keyboard. Padahal aku meninggalkan menulis bukan untuk satu alasan penting. Aku sering menunda, dan tanpa sadar itu terjadi bertahun-tahun.

Beruntung aku diajak Ila Rizky ke grup ini. Berteman dengan komunitas penulis menjadikan minat menulisku bangkit lagi. Tak ada kata terlambat untuk kembali. Tak perlu disesali yang sudah terjadi. Karena itu aku mulai kembali menulis walaupun di blog dengan tulisan-tulisan singkat, walaupun belum “ngena” 😥

Sekedar sharing dari ilmu beberapa teman-teman penulis, untuk selalu menjaga minat menulis yang sudah aku lakukan :

1. Tugas utama penulis adalah menulis. Jadi menulis setiap hari, dalam bentuk apapun.

2. Pekerjaan apapun, harus dengan niat kuat. Mungkin dulu aku nggak niat-niat banget nulis, jadinya terbengkalai sampai bertahun-tahun. Bisanya nulis status doang hiks..

3. Jaga mood menulis. Mood itu ditimbulkan, bukan ditunggu.

4. Impikan sesuatu hal yang bisa menggenjot kerja keras menulis (honor, hadiah dsb)

5. Manfaatkan media, bisa laptop, hp, buku atau secarik kertas untuk mengurung ide. Kadang-kadang ide bisa lepas kalau tak segera ditangkap.

Itu dulu sharingku sebagai penulis amatiran. Tulisanku saat ini masih belum “berbuah.” Mohon sumbangan saran dari teman-teman BAW mengingat aku sangat ingin seperti kalian. Terima kasih. 🙂

Curhat Emak, Dunia Penulis, Foto

Belajar Lagi

Tak ada kata terlambat untuk belajar. Walaupun sudah emak-emak, aku tak mau ketinggalan acara jumpa penulis Boy Candra di tobuk Sari Anggrek Bukittinggi. Pede habis bakal banyak teman di sana. Aku sudah titip Nurul ke neneknya, biar betul-betul konsentrasi belajar sharing kepenulisan. Aku bawa motor dan parkir di depan tobuk. Langsung masuk dan mengisi buku tamu dan taraaaa…. peserta abege semua hiks…

Malu malu meong aku duduk di tempat yang sudah disediakan. Duh, aku yang paling tua, nih. Larak lirik peserta. Eh nggak lama, datang ibu-ibu 40an. Wow… Takjub aku. Ternyata ibu itu masih semangat untuk ikut acara seperti ini. Nggak jadi paling tuir, dong hehe.

Acaranya agak kaku, karena moderatornya grogi luar biasa. Tau deh kenapa. Padahal peserta cuma sekitar 40 orang. Aku hanya menyimak. Ilmu yang ditularkan persis sama dengan yang kupelajari dari guru menulisku. Tak ada salahnya belajar sama anak yang lebih muda. Minimal aku ngecas semangat nulis lagi.

Ini Boy Candra, putra asli Minang yang sudah punya 3 buku
Ini Boy Candra, putra asli Minang yang sudah punya 3 buku

Penulisnya masih  muda, sepantaran adik bungsuku. Dan dia baru mulai menulis tahun 2011. Sudah punya 3 buku. Sementara akuh? Hiks… Kemana saja modal menulis yang dipajang di Annida dulu? Aku tahu dimana salahku. Aku pemalas. Sementara Boy meluangkan waktu menulis 3 halaman perhari. Dan aku moody banget. Pantas aku kalah dan harus belajar lagi. Lanjutkan membaca “Belajar Lagi”

Curhat Emak, Dimuat, Dunia Penulis

Gado-gado Femina : Nyonya Kepo

Foto  Mbak Dini
Foto Mbak Dini

NYONYA KEPO

“Tas baru ya? Harganya?”
“Huaa….! Manis banget blazernya. Beli dimana?“
“Eh, istri si Budi resign? Pindah ke mana jadinya?”
Itulah pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkan temanku. Akhirnya, aku dan teman-teman memanggilnya Nyonya Kepo. Orangnya selalu heboh dengan setiap kejadian. Hobinya mewawancarai orang dengan pertanyaan yang detail. Kadang bikin keki. Kadang bikin geli. Lanjutkan membaca “Gado-gado Femina : Nyonya Kepo”

Dimuat, Dunia Penulis

Cerita Anak : Kacamata Nadya

Dimuat di padang Ekspres, 4 Januari 2015

KACAMATA NADYA

IMG_20150104_171159

Ada yang berbeda dengan penampilan Nadya hari ini. Nadya memakai kacamata. Wajah imutnya semakin cantik dengan bingkai kacamata berwarna pink. Kacamatanya lucu sekali.

Nadya selalu membawa kotak kacamatanya. Setiap kacamatanya berdebu, dilap dengan lap khusus yang disimpan dalam kotak kacamata. Nini memperhatikan Nadya. Sepertinya asyik punya kacamata.

Nini menghampiri Nadya. “Kenapa kamu pakai kacamata?” Tanya Nini.

“Mataku tidak bisa melihat tulisan di papan tulis. Setelah diperiksa, aku diresepkan memakai kacamata.” jawab Nadya sambil mengangkat kacamatanya yang melorot.

Nini juga ingin punya kacamata. Lalu Nini melihat papan tulis, semua tulisan terlihat jelas. Pasti Ibu tak mau membelikan Nini kacamata.

“Memangnya kenapa matamu bisa sakit?” tanya Nini.

“Aku suka menonton TV terlalu dekat. Main komputer juga terlalu sering. Jadinya begini deh.” Kata Nadya sambil menunjuk kacamatanya.

Sepulang sekolah, saat Ibu tak ada di rumah, Nini duduk dekat dengan TV. Nini juga suka main game lama-lama, agar punya kacamata. Nini melakukannya setiap hari. Dan akibatnya, mata Nini jadi perih.

“Bu, mata Nini merah. Perih sekali.” Nini meringis menahan sakit.

Ibu melihat mata Nini yang berair. “Ayo kita periksa.” kata Ibu.

Nini bersorak dalam hati. Sebentar lagi pasti Ibu membelikan kacamata. Nini akan secantik Nadya. Bisa bergaya dengan kacamata. Nini mau pilih warna ungu saja.

Dokter memeriksa mata Nini. Matanya diintip lewat sebuah alat. Nini menunggu dengan tak sabar. Hari ini kacamata Nini harus ada.

Dokter meresepkan obat yang harus ditebus di apotik.

“Mata Nini sehat. Perihnya cuma karena kebanyakan nonton TV.” kata dokter sambil tersenyum.

“Nggak pakai kacamata dok?” tanya Nini.

“Tidak perlu.” Kata dokter sambil tersenyum.

Nini kecewa. Dia tidak jadi pakai kacamata.

Nini menunggu Ibu menebus resep. Ada obat tetes untuk mengobati matanya yang kering. Sakit mata itu ternyata tidak enak.

Sambil menunggu, Nini melihat model kacamata di optik sebelah apotik. Warnanya bagus-bagus. Harga kacamata itu mahal. Bingkai kacamata Nadya saja harganya 300 ribu. Belum termasuk harga lensanya.

Ibu sudah selesai mengambil obat. Saatnya pulang. Mata Nini terus menatap kacamata di optik itu dari kejauhan. Nini masih ingin punya kacamata.

“Bu, kita beli kacamata ya?”

“Buat apa? Kan doter bilang matamu sehat?”

Ibu menyetop angkot. Nini bergegas masuk. Takut ketinggalan.

Sampai di rumah, Nini masih terpikir kacamata tadi. Nini menghampiri Ayah.

“Yah, belikan kacamata ya?” kata Nini manja.

“Kan Ibu bilang matamu sehat? Kenapa harus pakai kacamata?” tanya Ayah.

“Nini ingin seperti Nadya yah. Pakai kacamata semakin terlihat cantik.”

Ayah tertawa. “Pakai kacamata itu repot, Nini. Ayah tidak bisa baca koran kalau tidak pakai kacamata. Kakek juga tidak bisa melihat tanpa kacamata. Beruntunglah Nini diberi mata yang sehat.” jawab ayah.

Lalu Ayah mengajak Nini jalan-jalan sore. Mereka mampir di pertokoan. Ada berbagai macam souvenir yang dipajang di sepanjang toko. Ada tas, kaos, gantungan kunci, dan kacamata. Nini tertegun di depan pajangan kacamata plastik itu. Ternyata Nini masih ingin punga kacamata.

“Nini mau yang mana?” tanya Ayah.

Nini menunjuk kacamata warna ungu seperti punya Nadya. Ada hiasan kupu-kupu di sudut kacamata. Cantik sekali.

Ayah mengambil kacamata itu. Lalu membayarnya. Nini senang, sekarang dia sudah punya kacamata. Walaupun kacamata mainan.

Kemana-mana Nini selalu memakai kacamata barunya. Nini juga punya tissue khusus untuk mengelap kacamatanya. Kalau Nini naik motor dan duduk di depan, kacamata itu membantu menahan agar angin tak membuat pedih matanya. Nini suka kacamatanya.

Tapi Nini senangnya cuma sebentar, lama-lama bosan juga. Saat kacamata itu bertengger di atas hidungnya, barulah Nini merasa berat dan repot. Betul kata Ayah, tanpa kacamata itu menyenangkan. Nini tak perlu takut terkena lemparan bola saat bermain. Nini tak perlu mengelap kacamatanya yang berdebu setiap saat. Ini baru kacamata mainan yang ringan, bagaimana dengan Nadya ya? Kan dia pakai kaca betulan. Pasti berat.

Nini bersyukur punya mata yang sehat. Nini akan merawat matanya sampai dewasa, semoga mata Nini selalu sehat dan tak pakai kacamata.

***