Dimuat

Artikel : Cantik Dengan Bekam Estetika

Artikel ini sudah tayang di Ummi Online. Pernah aku praktekkan, apalagi kalau jerawat dan flek hitam mulai bermunculan.  Aku nggak betah maskeran, atau berbagai perawatan rutin. Nggak ada waktu buat memanjakan diri. Alasan utama sih, males hehe. Jadi aku lebih suka bekam untuk perawatan wajah. Tinggal ambil cermin, dan bekam wajah sendiri. 😀

BEKAM ESTETIKA, SOLUSI CANTIK DAN SEHAT

Kapan sahabat ummi terlihat cantik? Dengan atau tanpa make up? Alangkah repotnya kalau setiap ingin cantik, kita harus menutup noda-noda dan jerawat di wajah. Padahal ada cara sederhana untuk tampil cantik tanpa make up.

Tak perlu krim mahal (yang belum tentu halal) dan perawatan salon untuk tampil cantik. Yuk, bekam kecantikan. Terapi bekam ini tidak meninggalkan bekas di wajah, karena pemasangn kop tidak terlau kencang dan hasilnya efektif.

Wajah adalah cermin kesehatan kita. Wajah yang berjerawat menunjukkan bahwa usus kotor dan perlu dibersihkan. Perbanyak serat untuk memperbaiki pencernaan. Wajah yang kusam bisa jadi karena tubuhnya banyak menyimpan toxin dari junkfood dan makanan tidak sehat. Coba perhatikan wajah orang yang sangat menjaga asupan makanan dengan yang asal makan, berbeda jauh, bukan?

Bekam berfungsi mengeluarkan darah kotor, termasuk darah kotor di bawah permukaan kulit wajah. Jerawat membandel, flek hitam, dan berbagai masalah wajah lainnya bisa diatasi dengan bekam kecantikan.

Bekam yang dikenal sejak tahun 2000 ini mulai digemari kaum hawa. Jerawat lebih cepat kering, flek hitam memudar, dan bisa mencerahkan wajah.

Proses bekam kecantikan sangat simpel dan tidak menyakitkan. Lakukan bekam dengan terapis profesional.

1. Bersihkan wajah dan oleskan minyak zaitun murni pada wajah sambil dipijat-pijat.

2. Pasang kop pada wajah sebentar saja, untuk menghindari bekas bekam.

3. Lepaskan kop, tusuk beberapa titik dengan lancet.

4. Pasang kop untuk mengeluarkan darah kotor sebentar saja.

5. Bersihkan darah, ulangi memasang kop.

6. Lakukan sampai tak ada lagi darah kotor.

7. Ulangi dengan cara yang sama pada beberapa titik di wajah.

Hampir semua praktek bekam juga melayani bekam kecantikan. Bekam ini juga boleh dilakukan oleh laki-laki. Karena jerawat bukan hanya masalah perempuan.

Beberapa titik bekam di wajah, juga membantu menajamkan penglihatan, mengurangi sinusitis dan menghilangkan sakit kepala. Dengan bekam kecantikan, selain cantik kita juga sehat.

*Dari berbagai sumber

Iklan
Dimuat

Cerita Anak : Saat Dani Diare

Foto Mbak Ruri Irawati Bobo, 17 Sept 2015
Foto Mbak Ruri Irawati
Bobo, 17 Sept 2015

SAAT DANI DIARE

Sejak pagi, Dani sudah terbirit-birit ke kamar mandi. Sampai sore ini, sudah berkali-kali ia masuk kamar mandi. Bunda jadi curiga.

“Dani sakit perut ya?” kata Bunda.

“Iya, Bun. Dani diare.”

“Lho, kenapa nggak bilang dari tadi? Ayo ke dokter.” Bunda cemas. Diare bukan penyakit ringan. Tubuh bisa kekurangan cairan dan membuat lemas tak bertenaga. Pantas saja Dani terlihat lesu dan pucat.

“Dani nggak mau ke dokter.” Dani menggeleng kuat-kuat. Lalu terbirit-birit lagi ke kamar mandi.

Dani sangat trauma dengan rumah sakit. Sebulan yang lalu Dani sakit tipes dan harus dirawat di rumah sakit. Sakit sekali rasanya diinfus. Kalau banyak bergerak, darah bisa naik ke slang infus. Perawat akan membuka slang itu untuk membersihkan darah. Lalu dirapatkan lagi dengan sedikit tekanan di tangan. Sakit sekali. Dani tak mau lagi diinfus.

Dani juga benci bau rumah sakit. Setiap hari ada petugas kebersihan datangke kamar. Ia akan membersihkan kamar dan mengepel dengan karbol yang berbau sangat kuat. Dani jadi tak nafsu makan kalau lantai kamar habis dipel.

Dani pernah bilang tak usah dipel, tapi petugas itu bilang kamar rumah sakit harus setiap hari di pel agar kuman-kuman mati. Kalau kamar bersih, pasien tidak akan tertular penyakit lan.

Dani selesai buang air. Ternyata Bunda sudah di depan pintu kamar mandi. Pakai baju rapi, bersiap pergi ke dokter. Dani meringis.

“Beli obat di apotik saja, Bunda.” Dani memelas.

“Tidak boleh, Dani. Obat bebas itu tidak aman. Harus dengan resep dokter. Kamu diperiksa dulu, supaya obatnya tepat”

“Dani nggak mau…” Dani mulai menangis. Perutnya melilit, sakit sekali. Tapi Dani takut diinfus, tak suka bau karbol.

“ Kalau Dani mencret terus, Dani bisa diinfus lagi.” Bunda menjelaskan.

“Enggak mau!”

“Makanya kita ke dokter supaya kamu dapat obat.” Bunda mengambil kunci mobil.

“Dani tak mau diinfus. Dani benci bau rumah sakit.” Dani menjerit-jerit. Perutnya melilit lagi. Buru-buru Dani ke kamar mandi.

Bunda menunggu di depan pintu. “Sekarang kita ke dokter.” Putus Bunda. Dani pasrah.

***

Dani menggerutu dalam hati. Bunda memaksa Dani ke tempat yang Dani benci. Sudah terbayang lobby rumah sakit yang berwarna hijau. Ruang tunggu yang penuh dengan bangku berjejer-jejer. Lalu terdengar suara bapak-bapak batuk, anak-anak demam, dan obrolan ibu-ibu hamil. Ramai sekali.

Harus antri mendaftar satu persatu. Setelah itu, baru menuju ruang periksa masing-masing. Dani akan di bawa ke ruang dokter spesialis anak. Di sana, lebih menjengkelkan. Banyak anak demam dan ingusan. Tempatnya sempit. Dani bosan. Rumah sakit bukan tempat yang menyenangkan.

“Dani kemarin makan apa, kok bisa diare?” tanya Bunda saat mereka sudah ada di mobil.

“Jajan di luar sekolah, Bun.” Dani mengaku.

“Kan sudah Bunda bilang jajan di kantin aja. Lebih bersih dan terjamin.” Sepertinya Bunda marah. Bunda diam sepanjang perjalanan.

Dani menunduk. Jajanan di kantin itu-itu saja. Kalau di luar sekolah banyak pilihan. Warnanya juga menarik. Teman-teman tak pernah dilarang Bundanya jajan di luar. Jadi Dani coba-coba, dan ternyata enak. Namun sekarang Dani menyesal. Enaknya cuma sebentar. Sakitnya lama dan menyiksa.

“Kita sampai.” Kata Bunda sambil mematikan mobil.

Di depan Dani ada sebuah rumah mewah. Bukan rumah sakit.

“Bukan ke rumah sakit, Bun?”

Bunda tersenyum. “Bukan, sayang. Kan Dani tak suka rumah sakit.”

Dani mengikuti Bunda sambil memegangi perutnya yang melilit lagi. Ada banyak anak-anak juga, seperti ruang tunggu rumah sakit. Namun ruang tunggu ini lebih luas. Dan ada taman bermain di halaman. Dindingnya dihiasi tokoh-tokoh kartun dengan warna ceria. Majalah anak-anak disediakan di rak. Ada beberapa anak yang sedang asyik membaca. Dani suka tempat ini.

“Bun…” Dani memegangi perutnya. Perutnya melilit lagi.

Bunda mengantar ke WC. Saat Dani masuk, Dani tercengang. WC ini bagus. Penuh hiasan kartun. Tempat sabunnya lucu. Dan yang pasti, tidak bau karbol.

Bunda menunggu di ruang tunggu. Dani memperhatikan dua anak yang sedang main jungkat jangkit. Kalau saja Dani sehat,pasti Dani juga ikut main bersama mereka. Akhirnya Dani hanya menatap layar TV yang menayangkan film anak-anak.

Nama Dani dipanggil. Dani masuk. Ruang dokter itu sama sekali tidak menyeramkan. Dokternya ramah, memeriksa Dani dengan lembut dan melarang jajan sembarangan lagi.

Saat ini Bunda sedang membayar obat di kasir. Dani menunggu sambil membaca majalah. Ada pembahasan diare di majalah itu. Diare ternyata berbahaya. Pantas saja Bunda cemas dan memaksa Dani ke dokter. Dani harus minum obat agar segera sembuh.

Dani bersyukur Bunda membawanya ke tempt itu, bukan ke rumah sakit. Ah, Bunda memang paling tahu yang Dani suka.

***

 

Dimuat

Cerita Anak : Lomba di Desa Damai

Naskah cerpen ini kukirim menjelang 17 Agustus. Mungkin karena waktunya mepet, belum ada ilustrasi, jadi dimuat September 2015. Padahal sempat pesimis, karena ini cerpen tematik. Ternyata masih rejeki anak sholeh, yak. 😀 *Siapin kresek.

LOMBA DI DESA DAMAI

Oleh : Novia Erwida

Dimuat di Lampost, 9 Sept 2015
Dimuat di Lampost, 6 Sept 2015

Suatu pagi di Desa Damai…

“Kalau aku ikut lomba balap karung, aku bakal bolongin karungnya bisar bisa lari.” Kata Soni dengan yakin.

“Emang bisa?” Tanya Wawan, penasaran.

“Bisa laaah…” Jawab Soni. “Dan untuk lomba membawa kelereng dengan sendok, aku lem kelerengnya pakai lem super. Aku bisa berlari tanpa kelerengnya jatuh.” Sambung Soni.

“Waah… Aku juga mau jadi juara dan dapat hadiah keren. Kabarnya Pak Lurah sudah menyiapkan tabungan buat juara umum. Jumlahnya besar.” Kata Wawan.

“Oya? Kalau begitu, saat perayaan kita bawa gunting dan lem super.” Ujar Soni.

Mereka tertawa bersama. Rencana sudah disusun dengan sempurna. Mereka akan menang dan mendapatkan hadiah tabungan.

Tapi sore harinya…

“Gawat, Soni.” Wawan datang ke rumah Soni dengan napas terengah-engah.

“Kenapa?” Tanya Soni kaget.

“Soal lomba itu…”

“Stt…!” Soni memberi kode agar Wawan tak melanjutkan kalimatnya. Ada Ibu di teras, Soni khawatir Ibu mendengar rencana buruknya.

“Kita bicara di kamar saja,” bisik Soni.

Wawan mengikuti Soni dari belakang. Sampai di kamar, Wawan bicara pelan-pelan. “Lomba tahun ini, seluruh peralatan disediakan panitia. Kita tidak membawa alat sendiri seperti tahun lalu. Dan panitianya seram semua.” Wawan menunjukkan wajah ngeri.

Soni terkejut. Berarti untuk menang, butuh perjuangan berat. Tak bisa bermain curang. Mengingat hadiah yang sangat menggiurkan, Soni tergoda. Makanya Soni berusaha menjadi pemenang, bagaimanapun caranya. Tapi sekarang, peluang untuk berbuat curang sangat kecil. Mustahil bisa menang.

“Kalau begitu, kita latihan saja.” Kata Soni spontan.

“Iya. Kita juga latihan makan kerupuk dan panjat pinang. Tapi pakai pohon di sebelah rumahmu saja, ya?” kata Wawan.

Soni mengangguk.

Dua sahabat itu berlatih di halaman belakang rumah Soni.

“Fokus pada diri sendiri, jangan hiraukan peserta lain.” Kata Soni pada Wawan.

Wawan mengangguk. Tahun lalu Wawan mendapat urutan terakhir lomba balap karung, karena Wawan terlanjur minder melihat kecepatan peserta lain. Dia sibuk menoleh ke kiri dan ke kanan, sampai lupa untuk melompat.

Sekarang Wawan dan Soni sudah di dalam karung untuk berlatih. Soni memberi kode. “Tiga… Dua… Satu…”

Dua sahabat itu mulai melompat. Soni memimpin, matanya menatap pot bunga yang dijadikan garis finish. Wawan tak mau kalah, dia melompat lebih tinggi. Dan Wawan mulai menjajari lompatan Soni. Sedikit lagi Wawan maju dari Soni. Dia bergerak lebih agresif. Tiba-tiba… Bruk…! Wawan terungkur. Wajahnya menyentuh tanah.

“Aduuuh…” Wawan mengaduh saking sakitnya.

Soni berhenti. Dan terkejut melihat sahabatnya terluka. Bibir Wawan tergores batu. Ada darah di sana.

“Ibuuu…” Soni menjerit memanggil Ibu.

***

Soni datang menjenguk Wawan. Ada sedikit jahitan di bibirnya. Wawan tidak boleh bicara dulu, tersenyum juga tidak boleh. Aduuuh.. Kasihan sekali. Padahal sebenarnya Soni ingin menggoda Wawan. Mulutnya lucu, persis mulut bebek.

“Semoga kau menang.” Tulis Wawan dalam sebuah kertas.

Soni tersenyum. “Aku ingin mewakilkan kemenangan buatmu juga.” Jawab Soni mantap.

Wawan tersenyum. Lalu mengaduh. Bibirnya sakit lagi.

Akhirnya saat perlombaan tiba. Wawan belum diizinkan ikut, khawatir bibirnya tersenggol peserta lain. Wawan hanya boleh bermain di rumah sambill menonton TV. Ah… Membosankan. Wawan sudah tak sabar menunggu sore, saat pengumuman pemenang tiba.

Sore hari, Soni datang sambil membawa sebuah bungkusan besar.

“Aku pemenang kedua balap karung, dan pemenang ketiga lomba membawa kelereng dengan sendok.” Kata Soni sambil membuka bungkusan itu. Ada beberapa buku tulis, pensil dan penggaris, juga beberapa bungkus snack .

“Hadiahnya kita bagi dua.” Kata Soni.

“Eh.. Jangan. Itu milikmu.” Tolak Wawan.

“Kamu juga pemenang. Karena berlatih, kita tak jadi berbuat curang.” Bisik Soni, takut Ibu Wawan mendengar. Wawan tersenyum. Soni betul-betul sahabat yang baik.

“Terima kasih, ya. Walau tak ikut lomba, aku kecipratan hadiah juga.” Kata Wawan. “Ini buat adikku saja.” Wawan menyisihkan snack berplastik biru. Adiknya sangat suka snack.

“Oya, pemenang utama adalah Elang.” Kata Soni.

“Waah… Dia dapat tabungan, ya?” Wawan ikut senang.

Soni mengangguk. “Elang tangguh dan konsentrasi dalam setiap lomba. Jangan kecewa, tahun depan kamu juga bisa.” Kata Soni sambil menepuk bahu Wawan.

“Iya. Aku akan lebih berhati-hati supaya tidak cidera lagi. Mungkin ini teguran Tuhan karena kita berniat curang. Sekarang adikku sering meledekku bebek.” Kata Wawan dengan mimik lucu. Bibirnya sudah hampir sembuh. Dia sudah bisa tersenyum.

“Iya. Aku juga menyesal punya ide gila begitu. Padahal untuk meraih kemerdekaan, para pahlawan tak pernah berbuat curang.” Kata Soni.

Mereka terdiam sejenak. Sama-sama menyadari kesalahan.

“Merdeka…!” Kata Soni mengejutkan Wawan.

Wawan kaget, mengepalkan tangan dan berseru, “Merdeka…!”

***

Dimuat

Artikel Di Halo Nanda Online

Awalnya sempat sedih karena artikel ini ditolak sebuah media keren. Padahal aku sudah berusaha membuat sebaik mungkin. Akhirnya artikel ini cuma tersimpan manis di folder tanpa bisa berbagi. Saat itulah, Mas Bambang Irwanto menawarkan untuk dikirim ke Halo Nanda Online.

Artikel ini menemukan jodohnya. Aku bisa berbagi dengan seluruh anak Indonesia 😀

YUK, JALAN-JALAN KE GUNUNG

Oleh Novia Erwida

“Ma, temanku mengajak naik di gunung. Apa anak-anak boleh naik gunung, Ma?” tanya Deni.

“Boleh. Tapi sebelum mendaki gunung, Deni harus punya persiapan dulu.” Jawab Mama.

Naik gunung sepertinya asyik. Tapi tidak mudah. Kamu harus didampingi oleh orang dewasa dan membawa perlengkapan.

Banyak hal yang akan kamu temui di gunung. Kira-kira, apa saja ya, yang bisa kita lihat dan rasakan di gunung?

  1. Cuaca yang dingin

Rimbunnya pepohonan membuat udara menjadi sejuk. Daun-daun mengeluarkan oksigen yang menjadikan udara bersih. Posisi gunung yang tinggi juga berpengaruh pada suhu udara. Jadi, kalau mau ke gunung, siapkan jaket tebal, ya. Kalau tidak, kamu akan kedinginan.

  1. Jalan yang berkelok-kelok

Jalan menuju gunung tidak seperti jalan tol yang mulus tanpa hambatan. Kalau kamu ingin mendaki gunung, kamu harus menyiapkan tenaga ekstra karena harus melalui medan yang berat. Kenapa jalannya harus berkelok? Tidak lurus saja sampai ke puncak?

Semua gunung mempunyai jalan yang berkelok untuk mengurangi tanjakan. Kalau ada jalan lurus sampai ke atas, kamu pasti ngos-ngosan mendakinya. Kamu juga bisa menggelinding jatuh ke bawah. Ngeri, ya?

  1. Banyak binatang

Pegunungan adalah tempat tinggal yang nyaman buat hewan. Ada ular, harimau, monyet, tupai dan lain-lain. Jangan khawatir, selama kita menjaga alam, mereka tidak akan mengganggu, kok. Usahakan berkunjung ke gunung pada bagian pemukiman, ya. Karena di situ binatang buas enggan muncul.

  1. Pemandangan yang indah

Apa yang kamu lihat saat kamu berada di lantai 3 rumahmu? Semua terlihat kecil, kan? Begitu juga di gunung. Semua terlihat lebih kecil dari ketinggian. Indah dan menakjubkan. Pandanganmu luas tanpa terhalang apapun. Jangan lupa siapkan kamera. Abadikan kebesaran Tuhan.

  1. Hati-hati ada jurang

Selama mendaki gunung, kamu tak bisa berjalan santai. Karena ada jurang. Kenapa harus ada jurang? Kan kita bisa jatuh?

Permukaan bumi banyak bentuknya. Bentuk tertinggi adalah gunung dengan puncaknya. Lalu ada daratan, seperti tanah yang kita injak. Dan ada lembah dengan permukaan yang dalam. Lembah yang memiliki dinding curam disebut jurang. Fungsinya untuk mengalirkan air. Coba bayangkan, apa jadinya kalau hujan yang turun tidak ditampung oleh jurang? Manusia bisa tenggelam dan tersapu oleh banjir.

  1. Pipi merah

Jangan kaget kalau kamu bertemu anak-anak seumuran kamu dengan pipi merah. Mereka bukan memakai blush on, lho. Tapi itu terjadi karena tekanan udara di pegunungan lebih rendah. Tingginya gunung membuat jauh dari gaya gavitasi bumi. Jadi tubuh mereka menyesuaikan dengan keadaan. Hasilnya, pipi mereka bersemu merah.

  1. Udara yang bersih

Apa jadinya kalau setiap hari kamu menghirup asap kendaraan, polusi dari pabrik, bau rokok dan sebagainya? Bisa sakit. Karena paru-paru kita butuh udara segar.

Kamu bisa mendapatkan udara bersih dengan menanam pohon di pekarangan rumah. Di pegunungan juga banyak pohon. Udaranya lebih sejuk dan bersih. Tak ada polusi di sini. Hiruplah udara pegunungan dalam-dalam, dan keluarkan dari mulut. Segaaaar…!

Persiapan sebelum mendaki gunung:

  1. Badan yang sehat. Pastikan kondisimu fit dan kuat melakukan perjalanan
  2. Memakai pakaian lengkap seperti jaket tebal, celana panjang, kaos kaki, sepatu, topi dan lain-lain.
  3. Bawa makanan seperti biskuit dan minuman. Untuk jaga-jaga kalau lapar di jalan.
  4. Bawa P3K untuk persiapan kalau terluka atau terjadi sesuatu.
  5. Kalau kamu ingin berkemah, bawa lebih banyak makanan dan peralatan kemah.
  6. Kalau kamu punya penyakit tertentu, kunjungi dokter sebelum naik gunung. Obat jangan sampai ketinggalan.
  7. Berdoa.

Di gunung ngapain aja?

  1. Kamu boleh mengambil gambar sepuasmu. Tapi, jangan merusak alam ya. Misalnya mengambil bunga edelweis yang sangat dilindungi. Kalau semua pendaki mengambil bunga itu, lama-lama tak ada edelweiss lagi.
  2. Jangan membuang sampah. Kumpulkan sampah bekas plastik mie instan dan minumanmu dalam kantong kresek, bawa pulang dan buang di tempat sampah.
  3. Jangan membunuh binatang apapun di gunung. Ingat, gunung adalah rumah mereka, dan kamu sebagai tamu di sana.

Semua sudah siap? Mengerti dengan rambu-rambunya? Mari kita berangkat ke gunung. Ingat ya, harus didampingi orang dewasa. Selamat mendaki gunung.

***

Dimuat

Artikel Di Ummi Online

Awalnya aku ngeri mendengar proses bekam. Tapi temanku meyakinkan bahwa bekam tidak menyakitkan, bahkan itu salah satu sunnah Rasul. Setelah kualami sendiri, aku mengenalkan bekam pada keluargaku. Alhamdulilah… Disambut baik. Lewat tulisan di Ummi Online, aku mengenalkan bekam dan berharap bekam menjadi salah satu upaya kesembuhan bagi pembacanya.

BEKAM, SUNNAH RASUL UNTUK KESEHATAN

Zaman sekarang banyak dijumpai jenis penyakit baru. Mulai dari sakit ringan sampai sakit parah yang butuh penanganan darurat. Rumah sakit kebanjiran pasien, hingga mulai bermunculan praktek pengobatan alternatif. Hati-hati jangan salah memilih. Beberapa pengobatan alternatif tidak cocok atau bahkan memperparah penyakit.

Nabi Muhammad adalah manusia paling sehat. Selama 63 tahun hidupnya, Nabi Muhammad hanya dua kali jatuh sakit. Artinya, Nabi Muhammad menjalani hidup sehat dan rutin berbekam. Bekam sudah dikenal jauh sebelum zaman Nabi Muhammad SAW. Sudah banyak penelitian yang membuktikan bekam efektif dalam membuang penyakit.

Apakah bekam itu?

Bekam adalah terapi pengobatan dengan cara membuang darah kotor melalui permukaan kulit dengan sayatan tipis atau tusukan jarum steril. Bekam dikenal juga dengan istilah Hijamah (Arab), cupping (Inggis) dan bekam (Melayu).

Dengan dibuangnya darah kotor, peredaran darah akan lancar sehingga tubuh menjadi sehat.

Hadits Nabi Muhammad SAW.

“Kesembuhan itu berada pada tiga hal, yaitu minum madu, sayatan pisau bekam dan sundutan dengan api (kay). Sesungguhnya aku melarang ummatku (berobat) dengan kay.” (HR Bukhari)

Berikut adalah beberapa poin penting mengenai bekam.

  1. Bekam tidak boleh dilakukan saat terlalu kenyang atau terlalu lapar. Beri jeda sekitar 2-3 jam setelah makan.
  2. Sebelum bekam, biasanya tekanan darah pasien diukur dulu. Pada beberapa kasus (seperti tekanan rendah di bawah normal), bekam tidak boleh dilakukan.
  3. Berwudhu sebelum berbekam.
  4. Perkuat diri dengan suplemen alami seperti madu.
  5. Bekam tidak boleh dilakukan pada orang yang baru saja mendonorkan darah, atau orang yang sedang minum obat pengencer darah.
  6. Bekam tidak boleh dilakukan pada wanita hamil dan haid.
  7. Bekam dilakukan saat tubuh rileks. Jadi bagi orang yang habis bekerja berat, beri rehat sejenak sebelum berbekam.
  8. Berzikir selama proses bekam.
  9. Tidak boleh langsung mandi sehabis berbekam, karena pori-pori kulit masih terbuka. Paling cepat 3 jam setelahnya, atau ditunda sampai besok pagi.
  10. Sehabis berbekam, dilarang bekerja berat. Iringi dengan asupan makanan bergizi, agar tubuh kembali segar.

Sahabat Ummi, yuk, berbekam. Jangan lupa, berbekamlah pada ahlinya. Yang mempunyai fasilitas yang memenuhi standar.

*Dari berbagai sumber.

 

Dimuat

Artikel Di Annida Online

Berawal dari keprihatinan melihat pengantin di sekitar lingkungan saya, hingga timbullah ide untuk membuat artikel ini. Saya sudah berusaha menyampaikan secara lisan, tapi lebih sering diabaikan. Semoga tulisan ini bermanfaat. Tayang di Annida Online

Hati-hati! Inilah 5 Hal Yang Sering Dilupakan Pengantin Saat Pesta Pernikahan

Pesta pernikahan adalah puncak acara dari bertautnya dua hati dihadapan Illahi. Berbagai kesibukan meliputi pasangan mempelai. Beragam aksesoris baju adat, make up, berfoto bersama dan sebaginya. Sibuk? Sudah pasti. Tapi jangan sampai melupakan hal-hal yang penting ini.

  1. Jangan kerok alisku

Sebagai kostumer, kita berhak membuat perjanjian dengan perias. Lakukanlah riasan sesuai syari’at. Hindari pantangan yang dilarang agama. Perias tak punya hak untuk memaksa kita merapikan alis. Jangan hanya karena ingin cantik sesaat, tapi malah rugi dunia akhirat.

  1. Minta perias perempuan tulen.

Zaman sekarang, laki-laki gemulai mendominasi keahlian make up. Jangan terjebak. Walaupun rekomendasi saudara dia perias terbaik, usahakan cari perias perempuan. Haram hukumnya bersentuhan dengan laki-laki, meskipun dia gemulai. Pada fitrahnya dia tetap laki-laki yang tak boleh memandang atau menyentuh aurat perempuan.

  1. Jaga waktu shalat.

Miris melihat, di kala rezeki menggenapkan separo dien harus dinodai oleh lewatnya waktu shalat. Alasan pengantin, tamu sudah menunggu, tak bisa membuka riasan sendiri, nanti shalatnya diqadha saja. Padahal tak ada rukhsah bagi pengantin untuk mengqadha. Mereka bukan dalam perjalanan jauh, tidak sedang sakit (bahkan orang sakitpun tetap wajib shalat semampunya). Pilihlah perias yang tidak lamban, yang bisa membuka riasan dan memasang lagi dalam waktu cepat. Shalatlah. Tamu bisa menunggumu, tapi shalat tak akan menunggu.

  1. Pre wedding? Hm…

Di depan lokasi pesta, ada foto raksasa yang menggambarkan kemesraan pengantin baru. Berpelukan, digendong, dan berbagai pose romantis lainnya. Tak masalah kalau itu dilakukan sesudah akad. Bagaimana kalau ingin berfoto sebelum akad? Cari pose yang tidak melanggar syari’at. Atau berfotolah sesudah akad.

  1. Bersih dari syirik

Tak sedikit mempelai atau orang tua mempelai menempuh jalan syirik agar akad dan pesta berjalan lancar. Jangan lakukan itu. Pasrahkan semua pada Allah SWT, Insya Allah semua akan baik-baik saja.

Demikianlah berbagai hal-hal kecil tapi penting untuk diingat selama pesta pernikahan. Ingatlah, saat engkau menikah, Allah sedang memberi rezeki berupa nikmat, maka jangan lalai dengan ujian nikmat-Nya.

***

Dimuat

Cerita Anak : Budi Ingin Berbudi

Ini cerpen keduaku yang dimuat di Bobo. Masih dari hasil kelas menulis Merah Jambu. Aku masih ingat, saat itu mbak Nur memaksa kami menulis cerpen tentang dunia yang harus dihadapi anak-anak. Tak selamanya dunia anak berpelangi. Adakalanya anak-anak harus belajar paham dengan kekerasan, perceraian orang tua, bangkrutnya si ayah, dan banyak lagi.

Selamat menikmati 🙂

Dimuat di Bobo, 20 Agustus 2015
Dimuat di Bobo, 20 Agustus 2015

BUDI INGIN BERBUDI

Oleh : Novia Erwida

 

Namaku Budi. Kulitku sawo matang, rambutku keriting dan keningku sering berkerut. Temanku tak banyak, mereka enggan berteman denganku. Katanya aku usil. Kata mereka namaku Budi, harusnya aku berbudi.

Aku tak suka belajar. Aku bingung menautkan huruf demi huruf menjadi sebuah kata. Bu Guru sering kesal aku tak berhasil mengeja. Kadang aku disetrap, dan teman-teman menertawakanku.

Belajar itu membosankan buatku. Aku suka main jungkat jangkit dengan kursi sendirian. Hahaha… Ini sangat mengasyikkan. Seperti mainan waktu TK dulu. Sementara teman-teman sibuk menulis, dan aku semakin mempercepat gerakan jungkat jangkitku. Braaak…!! Aku terjatuh. Kursiku terbalik.

Di depanku ada Bu Guru. Matanya melotot. Aku pucat pasi. Kepalaku sakit terantuk sandaran kursi. Bu Guru seperti monster yang akan menelanku hidup-hidup. Aku mengusap-usap kepalaku yang benjol.

“Budi lagi…” katanya.

Aku diam. Menunduk.

“Anak ini… Hhh…!” Bu Guru mendengus kesal.

Marah Bu Guru belum sebanding dengan marah Ibuku. Kalau ibu marahnya pakai cubit, lalu suara Ibu meninggi. Dan aku tidak diperbolehkan bermain seharian, harus mengasuh adikku. Kesal dimarahi Ibu, kubalas mencubit adikku. Adikku menangis keras. Dan aku kena marah dua kali.

Tapi Bu Guru baik. Marahnya tak pakai tangan. Belum pernah aku dicubit . Paling-paling kalimat Bu Guru yang selalu di ulang-ulang. Kalau Bu Guru marah, tidak terasa sakit.

***

“Motornya bagus, Bu.” Kepegang stang motor Bu Guru. Motor Bu Guru bersih, pasti rajin dicuci. Motor Bu Guru jauh berbeda dengan sepatuku yang punya noda lumpur kecoklatan. Tadi hujan, aku terpaksa pergi sekolah dengan sepatu kotor.

“Budi mau pulang?” Bu Guru menawarkan naik motornya. Aku mengangguk.

“Ayo, Bu Guru mau sekalian ketemu Ibu kamu.”

Aku menggeleng kuat-kuat. Pasti Bu Guru mengadu kalau aku usil.

“Budi pulang sendiri saja, bu.” Aku langsung kabur. Bu guru memanggilku. Aku tak mau Bu Guru tahu rumahku. Aku tak siap dimarahi Ibu lagi.

Bu Guru sudah capek menyuruhku melajar membaca. Aku belum bisa juga. Ibu tak pernah membantuku belajar. Ibu selalu sibuk dengan adik dan pekerjaannya. Bapak juga sangat sibuk di sawah. Semuanya sibuk, aku jadi lebih senang bermain.

Sekarang Bu Guru ingin tahu rumahku. Fiuhhh… Untunglah rumahku jauh dan masuk ke pelosok kampung. Bu Guru akan kebingungan mencari rumahku sendirian. Lebih baik Bu Guru tidak datang ke rumahku. Aku malu, rumahku jelek dan berantakan. Ada dua adikku yang suka menjatuhkan barang dan mencoret tembok. Bu Guru pasti kaget melihat rumahku seperti kapal pecah.

Esoknya aku terkejut. Bu Guru sudah ada di rumahku. Bu Guru pintar. Dia bisa mencariku sampai sejauh ini. Mungkin Bu Guru bertanya pada tetangga, di mana rumah Budi? Semua tetangga kenal aku.

Bu Guru bicara banyak dengan Ibu. Aku disuruh Ibu menjaga adik selama Ibu menerima tamu. Dua adikku bertengkar. Aku marahi mereka, seperti Ibu memarahiku. Keduanya menangis, kupingnya merah karena kujewer.

Bu Guru terkejut melihatku memarahi adik. Lalu Bu Guru bicara ke Ibu. Terlihat Ibu mengangguk-angguk. Ibu menatapku dari jauh. Aku tak mengerti pembicaraan orang dewasa. Aku terus bermain bersama adikku.

***

Sejak Bu Guru datang ke rumah, Ibu tak pernah lagi memarahiku. Ibu semakin sayang padaku. Ibu mulai menemaniku belajar. Aku senang, ternyata Ibu sayang padaku, tidak hanya pada dua adikku. Aku jadi semangat belajar. Akhirnya aku bisa membaca.

Bu Guru sering mengajakku pulang pakai motornya. Agar aku tidak capek berjalan jauh, agar aku bisa pulang cepat dan membantu Ibu mengasuh adik. Kata bu guru, Ibu capek mengasuh adik-adik, Budi harus jadi anak baik. Bantu Ibu, supaya Ibu tidak capek lagi. Jadi Ibu tidak marah-marah lagi, dan Ibu punya waktu menemani Budi belajar.

Ternyata jadi orang dewasa itu susah ya. Kalau capek sedikit, sukanya marah-marah. Beruntung aku belum dewasa. Kata Bu Guru, jadi anak-anak itu menyenangkan. Tugasnya hanya belajar.

Baiklah, Bu. Aku berjanji akan jadi anak yang berbudi, seperti namaku. Aku akan rajin belajar. Kalau aku rajin belajar, aku akan jadi anak pintar. Dan Ibu akan semakin sayang padaku.

***

Dimuat

Cerita Anak : Sepatu Matahari

Cerpen ini dimuat di Kompas  Anak, setelah menunggu hampir setahun. Ini adalah ketikan pertama di Kelas Menulis Merah Jambu, endingnya dipercantik kalimat Mbak Nur. Selamat menikmati 😀

Cernak perdana di Kompas
Cernak perdana di Kompas

SEPATU MATAHARI

 

“Sepatu matahari?” mata Nurul berbinar indah.

“Iya,” sahut Qisthi. “Warnanya putih, ada sedikit pink di talinya dan sebuah matahari indah.”

“Aku mau sepatu matahari.” jerit Nurul kegirangan. Dia melonjak senang, tak sabar ingin segera memiliki.

“Kita panggil ibu.” Nurul menggamit tangan kakaknya.

“Ibuuu…!” keduanya memanggil ibu. Tak ada sahutan. Mereka berpandangan, lalu berjalan menuju dapur.

Bau harum menyeruak di pintu dapur. Nampak Ibu sedang sibuk di depan kompor. Ibu mengukus kue. Tangannya berlepotan adonan.

“Ibu…”

Ibu menoleh. Nurul dan Qisthi itu tak berani bicara.

“Kenapa, nak?” lalu ibu mengalihkan pandangan ke adonan. Kembali sibuk. Ibu selalu begitu. Mendengarkan sambil tetap mengerjakan tugasnya. Pasti pesanan kue sedang banyak.

“Ng….” Nurul menyikut lengan kakaknya.

“Hm…” Qisthi mendehem. Kehilangan kata-kata.

Seekor kupu-kupu kuning terbang di sudut dapur. Berputar-putar di dekat jendela kaca. Sepertinya dia terperangkap, sibuk mencari jalan keluar. Kasihan, dia terus terbang dan terbentur. Nurul membuka jendela, kupu-kupu itu terbang keluar. Seperti mengucapkan terima kasih atas kebebasannya. Nurul tersenyum.

“Enak ya jadi kupu-kupu.” kata Nurul.

“Enak gimana?” tanya ibu.

“Kupu-kupu tak butuh baju, tak butuh sepatu, jadi tidak merepotkan ibunya.” sahut Nurul.”

Ibu tersenyum. Mencuci tangan dari bekas adonan, dan menghampiri Nurul.

Nurul menunduk, omongannya keceplos. Qisthi hanya memandang dari pintu dapur. Takut ibu marah.

Nurul menggigit kelopak bajunya. Merasa bersalah sudah membebani ibu.

“Nurul mau kok jualin kue ibu di sekolah. Kakak juga kan?” Nurul minta persetujuan.

Qisthi mengangguk. “Seperti ibu waktu kecil, memetik bunga untuk dijual ke tetangga.” sambung Qisthi.

Ibu tersenyum.

“Nurul ingin jadi kupu-kupu?” tanya Ibu. Nurul menggeleng.

“Lalu Nurul ingin apa?”

“Ng… Se.. se.. pa.. tu matahari.” jawabnya sambil berbisik. Lalu tertunduk diam.

Ibu menghela nafas. Lalu memandang Qisthi.

“Sepatunya bagus, Qisthi?”

“Iya, bu.” jawab Qisthi.

Ibu terdiam sejenak.

“Sekarang pakai sepatu lama dulu ya nak.” ibu berkata pelan. Lalu melanjutkan pekerjaan.

Nurul dan Qisthi berpandangan. Lega. Ibu tidak marah.

***

3 hari berlalu. Ibu tak pernah menyuruh Nurul dan Qisthi berjualan di sekolah. Dan ibu juga tak menyinggung soal sepatu matahari. Ibu pasti tak punya uang, Nurul dan Qisthi mengerti. Mereka tak tega mengulang permintaan yang sama. Hanya ibu yang mencari nafkah.

Qisthi mengajak Nurul ke toko yang menjual sepatu matahari. Sepatu itu sangat bagus, Nurul mengelusnya. Membayangkan sepatu itu sudah jadi miliknya. Dipejamkan matanya, dihembuskan nafas lega. Setelah itu, Nurul meletakkan kembali sepatu itu di tempatnya. Dia sudah merasa puas bisa memegang sepatu matahari.

Mereka pulang bergandengan tangan.

“Kak, terima kasih sudah mengajakku ke toko itu. Melihatnya aku sudah senang.”

Qisthi tersenyum. Ia turut senang melihat adiknya bahagia.

“Kalau ibu ada uang, pasti dibelikan. Sabar ya dek.”

“Tak apa, kak. Sepatu lama masih bagus. Kita sudah punya matahari, kok. Lebih bagus dari sepatu matahari tadi.”

“Mana?”

“Kata guruku, ibu itu seperti matahari. Ibu menyinari kita dengan kasih sayang.” Nurul menjawab sambil tersenyum.

Qisthi memeluk adiknya.

“Ayo kita kasih hadiah buat ibu.” Qisthi memetik bunga matahari di kebun. Qisthi menarik tangan Nurul mengajaknya cepat pulang. Ia ingin memeluk ibu secepatnya.

***

DSCN5723
Dimuat Minggu, 16 Agustus 2015