BUKAN SOAL PROBABILITAS, INI REZEKI

Sebelah ovariumku sudah diangkat sewaktu gadis dulu, akibat kista yang bersarang dan pecah di dalam. Sebelah lagi, bisa diselamatkan dengan menyedot cairan kistanya. Aku beruntung masih bisa membuka mata pasca operasi. Karena kupikir aku akan bangun di liang kubur. Tapi kehidupan apa yang bisa dihadapi setelah kehilangan sebelah organ penting bagi wanita? Tim dokter menyarankan segera menikah, karena ada kemungkinan kistanya tumbuh lagi. Setelah punya satu atau dua anak, jika mereka kembali mengganas, jalan terakhir pastilah membuang lagi. Secara fisik tetap wanita, namun tak bisa lagi bereproduksi.
Setelah melewati masa-masa sulit, aku mulai membuka diri. Mensyukuri sebelah ovarium yang sehat, 50% kemungkinan bisa hamil saat aku menikah nanti. Seorang lelaki berbudi mau menerimaku, menyatakan keinginan bersamaku, tetap berdua sampai tua atau kalau beruntung, memiliki bayi yang lucu.
Wanita mana yang tak meleleh mendengar janji manis itu? Perjuangan mendapatkan momongan dimulai. Ramuan tradisional dan olahraga mulai ditingkatkan. Dan hasilnya, aku tetap mendapat haid. Selalu ada airmata mengiringi jadwal haid di setiap bulan. Lelaki itu terus menghibur. Dan aku semakin merasa bersalah, ingin memberi hadiah terindah, mempersembahkan test pack dengan dua garis buatnya.


Aku terus berjuang. Gugling, memasang mata dan telinga pada hal-hal yang berbau tips mendapatkan momongan. Mengunjungi panti asuhan, bersedekah, berbuat baik, dan akhirnya aku sampai pada puncak lelahku. Aku menyerah. 50% itu terlalu susah untuk diraih. Aku melupakan ramuan, melupakan doa memiliki anak, aku hanya bersyukur memiliki seorang yang tercinta.
Hidupku terasa enteng. Selama 6 bulan pernikahan, terasa berjalan tegang karena belum ada tanda-tanda aku hamil. Aku mulai terbiasa bersikap acuh pada pertanyaan yang menghujam. Lelaki itu yang menghapus airmataku akibat pertanyaan “kapan hamil”. Aku mulai kembali pada kenyataan, dan menjalani hidupku. Sesederhana itu, nikmati hidupmu saat ini.

Sampailah aku pada kejutan tak terduga. Badanku yang mulai lemas, sering pusing dan terasa melayang-layang. Naluriku mengatakan ada sesuatu yang tumbuh di rahimku, walau aku tak berani berharap. Aku mulai pelan melajukan motor, menghindari lubang jalan, banyak istirahat, dan dengan nekad memakai test pack.
Ada satu garis yang jelas, seperti biasa. Aku menghela napas. Tak ada yang berubah. Aku masih belum ikhlas untuk pasrah. Aku menyesali diri habis-habisan. Tapi tunggu dulu! Bukankah itu juga ada satu garis samar? Satu jelas, satu samar. Artinya ada dua garis! Airmataku berjatuhan. Allahu Akbar! Langsung kuhubungi dokter kandungan, dan pemeriksan dimulai.
Tak ada janin di sana. Hanya ada pembesaran rahim. Aku kembali ragu. Dokter memberi beberapa suplemen dan aku harus kembali ke dokter setelah 15 hari. Tak ada mual, tak ada muntah. Hanya lemas seperti orang demam biasa. Ya sudahlah. Mungkin aku harus kembali bersabar. Suplemen kuminum, dengan perasaan antara hamil dan tidak.
15 hari berlalu. Haid tak kunjung muncul. USG berikut, dokternya tersenyum. Penasaran, aku melihat layar, ada denyut yang bergerak-gerak di sana. “Ini jantungnya.” kata dokter. Spontan airmataku menggenang, aku betul-betul hamil di bulan ke tujuh pernikahanku.

Kehamilan yang berat, bedrest dan sempat pendarahan, kulalui dengan menikmati sakit. Sampailah pada operasi sesar. Aku dipertemukan dengan makhluk mungil nan cantik. Lihatlah, dia lahir karena Kuasa Tuhan. Tak ada yang sulit bagi-Nya.
Aku menjadi motivator bagi teman-teman yang merindukan tangis bayi di keluarga kecilnya. Percayalah, anak itu ada karena kehendak-Nya. Meski dari rahim seorang wanita yang sakit-sakitan. Bersyukurlah menjadi wanita yang sehat. Walau dirimu belum memiliki momongan, tetaplah berprasangka baik pada Nya.
Nikmati harimu, syukuri hidupmu. Karena semua rezeki sudah tercatat di langit. Tak ada probabilitas kamu bisa hamil atau tidak. Abaikan matematika dalam soal rezeki. Ingatlah, masih banyak rezeki dalam bentuk lain yang sudah Dia limpahkan padamu. Jangan lupakan itu.

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam #GADianOnasis di sini

Iklan

One thought on “BUKAN SOAL PROBABILITAS, INI REZEKI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s