Bijak Menyikapi Perbedaan

Hari ini cukup melelahkan. Padahal aku nggak kerja berat. Cuma capek dengat perdebatan sama saudara sepupu. Aku sudah bilang kalau aku nggak suka berdebat, takutnya jadi putus hubungan dan sebel-sebelan. Berawal dari beda pendapat, biasalah. Aku udah tutup WA, eeh… masih aja dia balas.

Kalau ngomong sama orang seide sih gampang, apa aja sumber informasi yang dikasih, pasti sepaham. Tapi kalau ngomong sama orang ngajakin debat, capeeeek. Dia bombardir aku dengan link yang membenarkan pendapatnya. Dikasi info malah ngeyel. Aku ngasih info sepanjang pengetahuanku toh? Mana waktuku habis buat ngechat. Harusnya bisa tuh bikin satu artikel. Trus ngalah deh, bilang aku hanyalah hamba yang dhaif, ga tau apa-apa. Dia surut dulu. Sore-sore… Dhuaaar… Ngechat lagi.

Jadi kaya debat kusir nih. Ga ada habis-habisnya. Ga ada moderator juga. Dan yang paling kurasa rugi adalah energiku terkuras. Soalnya nahan-nahan nih, biar ga ngamuk. Kalau saja dia bukan saudara, aku bisa menjelaskan panjang lebar kali tinggi. Tapi baru sedikit penjelasannya, dia bilang aku nggak berhak menjelaskan seperti itu. Aku belum memenuhi syarat, belum bisa bahasa Arab, belum bisa ini, itu, endebrau endebrau.

Dari dulu aku nggak suka berbalas pantun kaya gini. Sehati sama bang Ippho, dia menyarankan jauhi debat.  Panutannya Rasulullah banget. Iya sih, aku juga sering capek kalau lihat acara debat di TV. Semua mengeluarkan sesak di hati. Hasilnya apa? Malah makin panas. Mending nonton film kartun.

Tak masalah kalau pendapatku dibantah, idolaku dicela, karena sebagai manusia pasti punya celah kesalahan. Aku lebih memilih menahan untuk tidak menyebar kekurangan pendapatnya, karena itu berarti memperpanjang chat. Menghabiskan energiku. Membuatku capek lahir batin. Biarlah dia dengan pendapatnya, aku dengan pendapatku. Sudah berkali-kali kututup dengan kalimat senada ini. Tapi aku masih dibombardir. Hiks…

Saat ini dia lagi istirahat. Mungkin sedang gugling mengumpulkan bahan untuk mematahkanku. Eh? Mematahkan apa? Aku juga tak punya keuntungan dari perdebatan ini. Aku malah kehabisan waktu.

Duh… Dek. Dari kita belum lahir, juga, perbedaan itu akan selalu ada. Dalam hal apapun. Yang paling susah adalah menjaga untuk tetap saling menghargai di tengah perbedaan. Aku ga mau gara-gara ini kamu membenciku dan aku membencimu.  Berhentilah, kalau kamu masih chat juga, aku blokir nih. *Serius demi menjaga silaturrahim.

Iklan

One thought on “Bijak Menyikapi Perbedaan

  1. Mirna Puji Rahayu berkata:

    Tinggalin debatnya,, ada kalanya diam untuk menghidari kesia-siaan… bismillah #sotoy maritoy banget akuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s