Cerpen : Dua Hati Shabrina

Waktu aku dapat info dari Mbak Irra Fachriyanti bahwa cerpen ini dimuat, rasanya seperti mimpi. Karena sempat pesimis melihat cerpen-cerpen cantik yang dimuat di beberapa edisi sebelumnya. Cerpen ini hasil kelas Grup Penulis Tangguh, dan banyak kritik yang disampaikan teman-teman. Cerpen remaja tapi kaya cerita anak-anak. Hiks… Akhirnya aku berjarak dengan naskah beberapa minggu, lalu mulai mempercantik sesuai saran teman-teman.

Tokohnya bernama Shabrina, karena aku teringat salah satu penulis di grup Be A Writer (BAW) Shabrina WS. Aku suka nama Shabrina. 😀

Cerpen ini dikirim November 2015, Alhamdulillah dimuat Januari 2016.

12615219_10205288510520201_8931998450209819498_o

Dimuat di majalah Gadis, Januari 2016

12605419_10205288509960187_4925920853030394027_o

DUA HATI SHABRINA

Oleh : Novia Erwida

Dua minggu lagi, di hari istimewanya, Shabrina mengajukan sebuah permintaan sederhana pada Ayah dan Bunda. Undangan makan malam di café favoritnya. Shabrina yakin, keinginannya tidak terlalu berat. Tak akan menguras kesibukan keduanya, mereka hanya perlu sedikit menggeser ego masing-masing. Mengingat Ayah Bunda super sibuk, dari jauh-jauh hari Shabrina sudah mengajukan jadwal makan malam itu.

“Kamu nggak beli gaun buat hari itu?” Tanya Bunda sambil mengoleskan selai strawberry ke roti gandumnya.

Pagi itu Bunda sudah rapi dengan stelan balzer tosca. Riasan Bunda natural, seperti biasanya. Cuma ada bros mutiara kecil di sebelah kiri blazer, tak tampak perhiasan gemerlap.

Shabrina menggeleng. “Tak perlu, Bun. Baju yang di lemari sudah terlalu banyak.” Jawab Shabrina.

“Oh…” hanya suara singkat dari bibir Bunda. Bunda menyeruput jus jeruknya. Meminum pelan-elan, dan tak berniat melanjutkan percakapan. Shabrina menatap Bunda, berusaha mengalihkan wajah Bunda dari gelas di hadapannya.

“Bunda bisa datang kan?”

Bunda menghela napas. “Bunda usahakan.” Jawabnya sambil memaksakan senyum. Shabrina melihat ada kilat ragu di mata Bunda. Shabrina sangat hapal gestur Bunda. Walau begitu, Shabrina menyunggingkan senyum cerianya, berterima kasih atas kesediaan Bunda.

Bunda mengambil tas, dan berjalan menuju halaman. Shabrina segera menghabiskan sarapannya, dan buru-buru mengikuti langkah kaki Bunda. Pagi ini Bunda ada meeting, Shabrina bisa nebeng sampai halte.

***

“Lucu kan?”Sherin memamerkan foto di gadgetnya. Sherin tak perlu mengulang kabar, kemarin Shabrina sudah melihat foto ini di sosial media. Hanya kue tart kecil, berserta sebuah lilin mungil yang menyala di sebuah ruang keluarga. Sangat sederhana. Tapi kehangatan keluarga dalam foto itu  membuat hati Shabrina terusik, antara iri dan sedih. Sherin meniup lilin bersama Mama Papanya. Sementara Shabrina, harus meniup lilin bersama Bunda saja, atau bersama Ayah saja  di tempat yang berbeda.

“Happy birthday ya.” Shabrina menyalami Sherin. Lalu memeluk sahabatnya.

“Makasih, Brin. Semoga dua minggu lagi impianmu terwujud.” Balas Sherin.

Shabrina mengangkat kedua tangannya, persis orang berdoa. “Amiiin…” serunya kencang.

Sherin tertawa, dan tawanya semakin riang melihat kado yang disodorkan Shabrina.

“Traktir aku di kantin.” paksa Shabrina.

***

Sudah berulang kali Shabrina melirik jam tangan. Hampir sejam dia menunggu, yang terlihat hanya orang tak dikenal lalu lalang. Matanya menatap nanar ke pintu masuk, berharap bayang-bayang Ayah dan Bunda datang berdua. Tak perlu kado mahal seperti tahun sebelumnya, cukup kehadiran di mereka café kecil ini.

Smartphonenya berdering, foto Ayah berkedip-kedip. “Maaf, Nak. Ayah sedikit terlambat.”

Shabrina meletakkan ponselnya dengan malas. Es krim favoritnya sudah mencair dari tadi. Brownies pesanannya belum tersentuh. Bunda pasti juga telat, atau tak jadi datang. Shabrina berdiri, berniat keluar saat ponselnya berdering lagi.

“Sayang, Bunda sudah di depan. Maaf ya, sedikit terlambat.”

Shabrina menduduki lagi kursinya. Dia memberi tenggang waktu untuk kedua orangtuanya sepuluh menit lagi.

Pintu café berbunyi, terlihat seorang wanita modis yang kerepotan membawa kado besar. Blazer mahalnya sedikit lecek, mungkin karena berjalan terburu-buru.

“Bunda…” Shabrina menyambut Bunda dengan pelukan.

“Selamat ulang tahun, sayang.” Kedua pipi Shabrina dikecup, lalu Bunda menyodorkan sebuah kado. Bukan kado raksasa itu yang membuat Shabrina terkejut.Tapi kehadiran seorang laki-laki muda di samping Bunda. Usianya mungkin sepantaran Om Heru, adik bungsu Bunda.

“Oh, kenalkan. Ini Om Sakti.” Kata Bunda sambil tersenyum manis.

Shabrina masih tercengang, tapi segera tersadar melihat tatapan memaksa di sudut mata Bunda. Dengan santun, Shabrina menyalami lelaki modis itu. Bau parfum mahal menguar dari tubuhnya.

“Shabrina, Om.” katanya sambil mengulurkan tangan.

“Sakti. Selamat ulang tahun, ya.” sambut Sakti sambil tersenyum. Shabrina belum mengerti arti senyuman itu. Dia berusaha mengabaikan perasaan tak nyaman di hatinya. Mata Bunda menyuruhnya tetap menjadi anak manis.

Bertiga mereka duduk melingkari meja kecil. Baru saja Shabrina ingin memesan makanan, matanya menangkap sosok wanita dengan blazer ungu membuka pintu café. Wajahnya tertutup kado. Shabrina yang masih belum bisa mengendalikan  rasa terkejutnya dengan kehadiran Om Sakti, tiba-tiba dikejutkan lagi dengan kehadiran Ayah di belakang wanita itu. Mereka berjalan beriringan ke meja Shabrina.

“Halo Shabrina. Happy birthday…” tante itu langsung menyalami dan mencium Shabrina.

Shabrina kaget luar biasa, matanya menatap Ayah, meminta penjelasan.

“Kenalkan, ini tante Siska.” Jawab Ayah tenang.

Tante dengan make up tebal itu langsung memamerkan senyum  paling manis. Dia melihat seolah Shabrina adalah kelinci putih yang lucu. Padahal Shabrina tak bisa menyembunyikan wajahnya yang  mulai cemberut. Bersandiwara jadi anak manis dari tadi sudah cukup menyiksa.

Shabrina menyalami tante  Siska, dan meminta meja yang lebih besar pada waiter. Ayah dan Bunda sudah menghadiri undangannya, tapi bukan ini yang Shabrina mau. Mejanya hanya penuh basa basi orang dewasa. Kalau tahu begini, Shabrina lebih memilih merayakan ulang tahun bersama teman-temannya saja.

Tanpa sadar Shabrina menitikkan air mata.

“Kamu kenapa, cantik?” tante Siska mendekatinya. Bunda terkejut, dan langsung mendekati Shabrina, menghalangi tante Siska.

“Shabrina mau ke toilet dulu, Bun. Maaf.” Kata Shabrina sambil setengah berlari. Bunda dan tante siska hanya melongo menatap punggung Shabrina. Gaunnya sudah mulai kusut, sedari tadi dia tak bisa duduk dengan tenang. Makanan favoritnya terasa hambar, bahkan pahit untuk ditelan. Kehadiran dua orang asing di tengah-tengah keluarga kecilnya, membuat Shabrina gerah.

Shabrina membuka pintu toilet. Dia tak tahu harus marah atau bersedih. Di depan cermin, dia tumpahkan semua sesak di hati. Biarlah airmatanya jatuh tanpa sebab yang jelas. Biarlah, asal hatinya lega. Shabrina tak peduli dandanannya yang mulai berlepotan. Shabrina hanya ingin sendiri.

Shabrina mencuci mukanya. Lalu keluar café lewat pintu belakang.

***

Shabrina tahu Ayah marah, Bunda juga marah. Tindakannya melarikan diri dari café membuat pasangan orang tuanya jadi serba salah. Dan itu berimbas pada hubungan mereka ke depan.

“Brin, tindakanmu seperti anak kecil.” tegur Ayah di ujung ponsel.

“Brin hanya ingin Ayah dan Bunda, bukan orang lain.” jawab Shabrina sambil terisak.

Terdengar helaan napas berat di seberang.

Shabrina mematikan ponsel. Dia sangat lelah, lalu menyandarkan punggungnya di dinding kelas.

“Coba kau ajak lagi mereka makan malam.” Kata Sherin.

Shabrina menggeleng. “Percuma. Ego mereka terlalu tinggi. Mereka hanya pamer pasangan dan melupakan bahwa hari itu adalah milikku, anak mereka.” Jawab Shabrina getir.

Sherin memeluk Shabrina. Dia mengerti perasaan Shabrina. Shabrina sudah seperti saudaranya, selalu curhat tentang keinginannya bersama orang tua yang lengkap.

Sherin menyodorkan kado kecil buat Shabrina, dan Shabrina menjerit senang saat membukanya. Boneka kelinci imut itu seketika menghapus mendung di wajah Shabrina.

“Sher, kamu tahu nggak, kadang aku ingin jadi boneka saja. Cukup diam tanpa punya banyak keinginan. Tapi ternyata jadi boneka  juga banyak saingan, ya. Boneka baru akan selalu berdatangan, dan porsi kasih sayang untuk boneka lama akan berkurang.” Kata Shabrina sambil menggigit bibir.

Sherin menepuk pundak Shabrina “Kita tak tahu apa yang ada di pikiran orang tuamu. Berbaik sangkalah.”

***

Dua kado besar itu masih terbungkus rapi dan tergeletak begitu saja di sudut kamar.Tak ada keinginan Shabrina untuk membukanya. Bunda tak pernah menyuruh membuka kado. Walau malam itu Bunda marah, tapi Bunda tetap membawa sebuah kue dan lilin ke kamar Shabrina. Mereka merayakan ulang tahun berdua seperti tiga tahun terakhir. Shabrina tak pernah mengupload foto itu.

“Brin..” Bunda mengetuk pintu kamarnya.

Shabrina melempar novel yang dibacanya, langsung menghadap dinding pura-pura tidur. Sejak kejadian di café, Shabrina lebih banyak diam, menghindari pertengkaran dengan Bunda.

Bunda masuk, dan melihat Shabrina menghadap dinding. Feelingnya sebagai seorang ibu, langsung tahu bahwa Shabrina tidak tidur. Sejak kecil, tak ada rahasia antara Shabrina dan Bunda. Shabrina tak pandai berpura-pura.

“Nanti Ayah makan malam di sini.” Kata Bunda datar.

Shabrina membuka mata, bibirnya melengkungkan senyum. Dia segera berbalik menghadap Bunda.

Hal luar biasa mendengar Ayah dan Bunda bisa berkomunikasi selepas perpisahan mereka. Menyatukan hati yang terbelah memang sulit.

Shabrina menghampiri Bunda yang sedang menata meja makan. Ada sayur sop bakso kesukaan Ayah, ikan bakar, puding jagung  dan hampir semuanya menu favorit Ayah.

“Bun, ini seperti pesta besar. Kita hanya bertiga, kan?”

Bunda mengangguk. Lalu kembali sibuk mengeluarkan piring-piring cantik dari lemari pajang. Shabrina ikut membantu Bunda menata meja. Bunda hanya mengeluarkan tiga piring makan. Shabrina lega.

Selepas Maghrib, Shabrina mendengar bunyi klakson yang sangat familiar di telinganya. Bunyi klakson yang dulu selalu disambutnya dengan menghambur ke pelukan Ayah.

“Ayah..” katanya sambil memeluk Ayah. Kejutan besar, Ayah bersedia menginjak rumah ini lagi. Sudah sangat lama, mereka hanya bertemu di cafe atau apartemen Ayah. Bunda tak pernah suka dengan kedatangan ayah. Tanpa sadar, airmata Sabrina menetes, mengenang masa kecilnya yang indah.

Ayah melepas pelukan, mengusap air mata Shabrina sambil menyunggingkan senyum. “Sudah besar, kok nangis?”

Shabrina tertawa, walau airmatanya tetap keluar, lalu memeluk Ayah sekali lagi.

Shabrina menggandeng tangan Ayah menuju meja makan. Sudah ada Bunda di sana, Bunda sedikit rikuh, mempersilakan Ayah duduk.

Ayah duduk di tempat duduknya dulu. Secangkir kopi pahit kesukaan Ayah sudah terhidang. Aroma yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya, membuat Shabrina nyaris menjerit saking senangnya. Momen ini membuatnya merasa sangat dicinta. Shabrina menatap Bunda yang duduk di sisi kiri Ayah.

“Mari makan.” kata Bunda tanpa menatap Ayah.

Dua mantan sejoli itu tak pernah beradu tatap, keduanya hanya fokus pada Shabrina. Shabrina urung mengambil makanannya, dia ingin tahu reaksi Ayah.

Mata Ayah terpejam saat sendok pertama masuk ke dalam mulutnya. Rasa masakan Bunda tak pernah berubah, Ayah pasti kangen mencicipi lagi. Shabrina tersenyum kecil melihat Ayah sangat menikmati makanannya. Matanya melirik Bunda, menggoda. Dan Bunda mendelik tak suka.

Suasana mulai mencair saat Shabrina menyalakan lilin di kue ulang tahunnya. Shabrina memaksa Ayah dan Bunda duduk mengapitnya, posisi yang sama setiap dia berulang tahun. Menyanyikan lagu ulang tahun bersama-sama, lalu Shabrina memejamkan mata, make a wish.

“Semoga Ayah dan Bunda bersatu lagi.” Seru Shabrina, lalu dia meniup lilin.

Mendengar doa itu, tubuh Bunda kaku, sedangkan Ayah tertawa. Shabrina tak peduli pada apa yang ada dalam hati mereka. Shabrina berusaha menghormati keputusan orang tuanya, tanpa harus merasa kehilangan cinta mereka.

Malam semakin larut, Ayah harus kembali ke apartemennya. Shabrina bermanja sebelum Ayah masuk ke dalam mobil. “Terima kasih, Yah. Ini ulang tahun yang sangat hangat.”

“Sama-sama, sayang. Sampaikan pada Bunda, masakannya tak berubah.” kata Ayah sambil berbisik.

Shabrina tertawa senang, ternyata di dalam hatinya, Ayah masih menyimpan Bunda. Saat Shabrina berbalik, dia melihat Bunda bergegas masuk ke dalam. Bunda pasti mengintip di balik pintu.

Shabrina masuk ke kamarnya, membongkar sebuah album  foto. Foto ulang tahunnya sejak kecil. Selalu diapit oleh Ayah dan Bunda, di depannya ada kue tart dengan lilin. Foto-foto itu berderet dan terhenti di angka lima belas.

Shabrina mencetak foto tadi, menyusunnya di halaman paling baru. Kalau dia berumur panjang, beberapa halaman kosong di album ini akan diisi foto dengan pose yang sama. Shabrina tersenyum puas.

***

Iklan

8 thoughts on “Cerpen : Dua Hati Shabrina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s