PERCIKAN : COWOK DEWASA

Dimuat di GADIS, kejutan besar buatku. Soalnya sudah berkali-kali kirim naskah ke sana selalu tak ada kabar. Alhamdulillah, untuk naskah yang ini, tanggal 6 Nov 2015 dikirim, tanggal 18 dapat kabar dimuat. Mbak Irra yang heboh kasih kabar sekalian foto. Padahal aku tak lagi berharap banyak. Malah sempat berniat cuti menulis dulu. Bosan menunggu sudah dua bulan, tak ada tulisanku nggak nongol di media manapun. Setelah dimuat di NUBI hari Minggu lalu, aku mulai semangat lagi menulis. Ditambah yang ini dong, berarti aku harus lebih semangat. 😀

Dimuat di GADIS no 29, Nov 2015

12247108_1103334999677017_4261304092889124421_n

12272716_1103749979635519_1188293108_n

COWOK DEWASA

Oleh : Novia Erwida

 

Nadya menangis di sudut kelas. Mita menemani walau lebih banyak bengongnya. Menurutnya, Nadya super lebay. Menangisi diputus Arul. Hanya karena dia mahasiswa saja, Nadya merasa Arul lebih hebat dari teman-temannya.

“Mungkin sebaiknya kamu punya cowok yang seumuran saja. Biar nggak dianggap anak kecil lagi. Masih banyak cowok dengan seragam putih abu-abu yang keren.”

Nadya menggeleng.

“Ke rumahku, yuk. Bete nih lihat orang nangis terus.”

Nadya ogah-ogahan. Dia masih setia dengan sapu tangannya yang sudah lembab oleh airmata dan ingus. Mita memandang jijik. Kalau begini caranya, pantas saja Arul minta putus.

“Cuci mukamu, sekalian sapu tanganmu.” Perintah Mita.

“Lho… Kenapa?”

Nah, kan. Nadya kurang peka? Masa harus dijelasin kalau Mita ilfil berat? Mita menemani Nadya ke toilet sekolah, takut sahabatnya minum pembersih kamar mandi yang sering ditinggal di sudut toilet. Atau meloncat dari lantai dua.

Nadya sudah selesai mencuci muka. Mita menarik tangannya dan memaksa duduk di boncengan.

“Pegangan yang erat. Masa sih, bisa kalah sama orang tua.” omel Mita.

“Dewasa!” Ralat Nadya.

Mita menstarter motor dengan sebal. Masih aja dibelain, gerutunya.

Sepanjang perjalanan, mata Nadya masih menerawang, mengingat kebersamaan dengan Arul. Yang paling Nadya suka, Arul setia mendengar curhatnya, dan menutup dengan solusi jitu. Laki-laki dewasa memang lebih keren.

Mereka sampai di pekarangan rumah Mita. Ada sebuah mobil terparkir di sana.

“Sepupuku datang.” Kata Mita dengan mata berbinar. Dia langsung memeluk Ratih, perempuan imut berwajah teduh. Nadya ikut menyalami Ratih, melupakan patah hatinya.

“Kakak kapan datang? Nginap kan?” tanya Mita.

Ratih mengangguk.

“Yeay… Silakan bersenang-senang dengan Mama. Sebentar ya, Kak. Kita ada misi rahasia.” kata Mita sambil mengedipkan mata. Mita menyeret Nadya ke kamarnya. Nadya masih harus disadarkan.

Saat melewati ruang tengah, Nadya melihat seorang cowok yang belum pernah dilihatnya. Seketika patah hatinya terhapus. Mita sempat bilang, kalau dia punya stok lelaki dewasa yang sedang jomblo. Inikah? Aih… Mita memang sahabat yang baik.

Nadya mengangguk santun pada cowok itu, dan dibalas senyuman manis. Cowok itu mengenakan kemeja biru kotak-kotak dan jeans hitam. Wajah dewasanya terlihat dari garis dagu yang tegas dan dipenuhi bulu-bulu halus. Badannya tinggi tegap.

“Geregetaaan..” jerit Nadya dalam hati.

Mita menghempaskan badannya di tempat tidur. Mengambil dua gelas air, menyodorkan salah satunya buat Mita. “Silakan lanjut curhat,” katanya sambil menguap.

“Sudah habis.” jawab Nadya santai.

“Lha? Cepet amat move on nya?” Mita bingung.

“Bisa, asal ada penggantinya.” sindir Nadya.

“Maksudmu?”

“Dulu kamu pernah bilang ada cowok dewasa yang lagi jomblo buat aku?”

Mita berusaha mengingat-ingat. Kapan dia pernah janji begitu. Tapi Mita menggeleng. “Maaf, aku lupa pernah ngomong gitu sama kamu.” katanya sambil menggaruk kepala.

“Tak usah jauh-jauh, kenalkan saja aku dengan sepupumu.” Nadya langsung tembak.

“Sama kak Ratih?” Mita semakin tak mengerti.

“Yang baju kotak-kotak tadi.” Sambung Nadya gemas.

“Nad, tapi itu… Suami kak Ratih.” jawab Mita terbata-bata.

Seketika muka Nadya seperti kepiting rebus.

“Ah aku ingat. Waktu itu aku cuma bercanda. ” Mita memilin-milin rambutnya.

“Emangnya siapa dia?” tanya Nadya lemah. Rasa malunya sudah tak tertahan.

“Kakekku. Kan kamu suka pria dewasa. Kakek sedang berkabung, dan….” Mita lari keluar kamar. Nadya memburunya dengan bantal guling.

***

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s