Cerita Anak : Saat Dani Diare

Foto Mbak Ruri Irawati Bobo, 17 Sept 2015

Foto Mbak Ruri Irawati
Bobo, 17 Sept 2015

SAAT DANI DIARE

Sejak pagi, Dani sudah terbirit-birit ke kamar mandi. Sampai sore ini, sudah berkali-kali ia masuk kamar mandi. Bunda jadi curiga.

“Dani sakit perut ya?” kata Bunda.

“Iya, Bun. Dani diare.”

“Lho, kenapa nggak bilang dari tadi? Ayo ke dokter.” Bunda cemas. Diare bukan penyakit ringan. Tubuh bisa kekurangan cairan dan membuat lemas tak bertenaga. Pantas saja Dani terlihat lesu dan pucat.

“Dani nggak mau ke dokter.” Dani menggeleng kuat-kuat. Lalu terbirit-birit lagi ke kamar mandi.

Dani sangat trauma dengan rumah sakit. Sebulan yang lalu Dani sakit tipes dan harus dirawat di rumah sakit. Sakit sekali rasanya diinfus. Kalau banyak bergerak, darah bisa naik ke slang infus. Perawat akan membuka slang itu untuk membersihkan darah. Lalu dirapatkan lagi dengan sedikit tekanan di tangan. Sakit sekali. Dani tak mau lagi diinfus.

Dani juga benci bau rumah sakit. Setiap hari ada petugas kebersihan datangke kamar. Ia akan membersihkan kamar dan mengepel dengan karbol yang berbau sangat kuat. Dani jadi tak nafsu makan kalau lantai kamar habis dipel.

Dani pernah bilang tak usah dipel, tapi petugas itu bilang kamar rumah sakit harus setiap hari di pel agar kuman-kuman mati. Kalau kamar bersih, pasien tidak akan tertular penyakit lan.

Dani selesai buang air. Ternyata Bunda sudah di depan pintu kamar mandi. Pakai baju rapi, bersiap pergi ke dokter. Dani meringis.

“Beli obat di apotik saja, Bunda.” Dani memelas.

“Tidak boleh, Dani. Obat bebas itu tidak aman. Harus dengan resep dokter. Kamu diperiksa dulu, supaya obatnya tepat”

“Dani nggak mau…” Dani mulai menangis. Perutnya melilit, sakit sekali. Tapi Dani takut diinfus, tak suka bau karbol.

“ Kalau Dani mencret terus, Dani bisa diinfus lagi.” Bunda menjelaskan.

“Enggak mau!”

“Makanya kita ke dokter supaya kamu dapat obat.” Bunda mengambil kunci mobil.

“Dani tak mau diinfus. Dani benci bau rumah sakit.” Dani menjerit-jerit. Perutnya melilit lagi. Buru-buru Dani ke kamar mandi.

Bunda menunggu di depan pintu. “Sekarang kita ke dokter.” Putus Bunda. Dani pasrah.

***

Dani menggerutu dalam hati. Bunda memaksa Dani ke tempat yang Dani benci. Sudah terbayang lobby rumah sakit yang berwarna hijau. Ruang tunggu yang penuh dengan bangku berjejer-jejer. Lalu terdengar suara bapak-bapak batuk, anak-anak demam, dan obrolan ibu-ibu hamil. Ramai sekali.

Harus antri mendaftar satu persatu. Setelah itu, baru menuju ruang periksa masing-masing. Dani akan di bawa ke ruang dokter spesialis anak. Di sana, lebih menjengkelkan. Banyak anak demam dan ingusan. Tempatnya sempit. Dani bosan. Rumah sakit bukan tempat yang menyenangkan.

“Dani kemarin makan apa, kok bisa diare?” tanya Bunda saat mereka sudah ada di mobil.

“Jajan di luar sekolah, Bun.” Dani mengaku.

“Kan sudah Bunda bilang jajan di kantin aja. Lebih bersih dan terjamin.” Sepertinya Bunda marah. Bunda diam sepanjang perjalanan.

Dani menunduk. Jajanan di kantin itu-itu saja. Kalau di luar sekolah banyak pilihan. Warnanya juga menarik. Teman-teman tak pernah dilarang Bundanya jajan di luar. Jadi Dani coba-coba, dan ternyata enak. Namun sekarang Dani menyesal. Enaknya cuma sebentar. Sakitnya lama dan menyiksa.

“Kita sampai.” Kata Bunda sambil mematikan mobil.

Di depan Dani ada sebuah rumah mewah. Bukan rumah sakit.

“Bukan ke rumah sakit, Bun?”

Bunda tersenyum. “Bukan, sayang. Kan Dani tak suka rumah sakit.”

Dani mengikuti Bunda sambil memegangi perutnya yang melilit lagi. Ada banyak anak-anak juga, seperti ruang tunggu rumah sakit. Namun ruang tunggu ini lebih luas. Dan ada taman bermain di halaman. Dindingnya dihiasi tokoh-tokoh kartun dengan warna ceria. Majalah anak-anak disediakan di rak. Ada beberapa anak yang sedang asyik membaca. Dani suka tempat ini.

“Bun…” Dani memegangi perutnya. Perutnya melilit lagi.

Bunda mengantar ke WC. Saat Dani masuk, Dani tercengang. WC ini bagus. Penuh hiasan kartun. Tempat sabunnya lucu. Dan yang pasti, tidak bau karbol.

Bunda menunggu di ruang tunggu. Dani memperhatikan dua anak yang sedang main jungkat jangkit. Kalau saja Dani sehat,pasti Dani juga ikut main bersama mereka. Akhirnya Dani hanya menatap layar TV yang menayangkan film anak-anak.

Nama Dani dipanggil. Dani masuk. Ruang dokter itu sama sekali tidak menyeramkan. Dokternya ramah, memeriksa Dani dengan lembut dan melarang jajan sembarangan lagi.

Saat ini Bunda sedang membayar obat di kasir. Dani menunggu sambil membaca majalah. Ada pembahasan diare di majalah itu. Diare ternyata berbahaya. Pantas saja Bunda cemas dan memaksa Dani ke dokter. Dani harus minum obat agar segera sembuh.

Dani bersyukur Bunda membawanya ke tempt itu, bukan ke rumah sakit. Ah, Bunda memang paling tahu yang Dani suka.

***

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s