Cerita Anak : Lomba di Desa Damai

Naskah cerpen ini kukirim menjelang 17 Agustus. Mungkin karena waktunya mepet, belum ada ilustrasi, jadi dimuat September 2015. Padahal sempat pesimis, karena ini cerpen tematik. Ternyata masih rejeki anak sholeh, yak. 😀 *Siapin kresek.

LOMBA DI DESA DAMAI

Oleh : Novia Erwida

Dimuat di Lampost, 9 Sept 2015

Dimuat di Lampost, 6 Sept 2015

Suatu pagi di Desa Damai…

“Kalau aku ikut lomba balap karung, aku bakal bolongin karungnya bisar bisa lari.” Kata Soni dengan yakin.

“Emang bisa?” Tanya Wawan, penasaran.

“Bisa laaah…” Jawab Soni. “Dan untuk lomba membawa kelereng dengan sendok, aku lem kelerengnya pakai lem super. Aku bisa berlari tanpa kelerengnya jatuh.” Sambung Soni.

“Waah… Aku juga mau jadi juara dan dapat hadiah keren. Kabarnya Pak Lurah sudah menyiapkan tabungan buat juara umum. Jumlahnya besar.” Kata Wawan.

“Oya? Kalau begitu, saat perayaan kita bawa gunting dan lem super.” Ujar Soni.

Mereka tertawa bersama. Rencana sudah disusun dengan sempurna. Mereka akan menang dan mendapatkan hadiah tabungan.

Tapi sore harinya…

“Gawat, Soni.” Wawan datang ke rumah Soni dengan napas terengah-engah.

“Kenapa?” Tanya Soni kaget.

“Soal lomba itu…”

“Stt…!” Soni memberi kode agar Wawan tak melanjutkan kalimatnya. Ada Ibu di teras, Soni khawatir Ibu mendengar rencana buruknya.

“Kita bicara di kamar saja,” bisik Soni.

Wawan mengikuti Soni dari belakang. Sampai di kamar, Wawan bicara pelan-pelan. “Lomba tahun ini, seluruh peralatan disediakan panitia. Kita tidak membawa alat sendiri seperti tahun lalu. Dan panitianya seram semua.” Wawan menunjukkan wajah ngeri.

Soni terkejut. Berarti untuk menang, butuh perjuangan berat. Tak bisa bermain curang. Mengingat hadiah yang sangat menggiurkan, Soni tergoda. Makanya Soni berusaha menjadi pemenang, bagaimanapun caranya. Tapi sekarang, peluang untuk berbuat curang sangat kecil. Mustahil bisa menang.

“Kalau begitu, kita latihan saja.” Kata Soni spontan.

“Iya. Kita juga latihan makan kerupuk dan panjat pinang. Tapi pakai pohon di sebelah rumahmu saja, ya?” kata Wawan.

Soni mengangguk.

Dua sahabat itu berlatih di halaman belakang rumah Soni.

“Fokus pada diri sendiri, jangan hiraukan peserta lain.” Kata Soni pada Wawan.

Wawan mengangguk. Tahun lalu Wawan mendapat urutan terakhir lomba balap karung, karena Wawan terlanjur minder melihat kecepatan peserta lain. Dia sibuk menoleh ke kiri dan ke kanan, sampai lupa untuk melompat.

Sekarang Wawan dan Soni sudah di dalam karung untuk berlatih. Soni memberi kode. “Tiga… Dua… Satu…”

Dua sahabat itu mulai melompat. Soni memimpin, matanya menatap pot bunga yang dijadikan garis finish. Wawan tak mau kalah, dia melompat lebih tinggi. Dan Wawan mulai menjajari lompatan Soni. Sedikit lagi Wawan maju dari Soni. Dia bergerak lebih agresif. Tiba-tiba… Bruk…! Wawan terungkur. Wajahnya menyentuh tanah.

“Aduuuh…” Wawan mengaduh saking sakitnya.

Soni berhenti. Dan terkejut melihat sahabatnya terluka. Bibir Wawan tergores batu. Ada darah di sana.

“Ibuuu…” Soni menjerit memanggil Ibu.

***

Soni datang menjenguk Wawan. Ada sedikit jahitan di bibirnya. Wawan tidak boleh bicara dulu, tersenyum juga tidak boleh. Aduuuh.. Kasihan sekali. Padahal sebenarnya Soni ingin menggoda Wawan. Mulutnya lucu, persis mulut bebek.

“Semoga kau menang.” Tulis Wawan dalam sebuah kertas.

Soni tersenyum. “Aku ingin mewakilkan kemenangan buatmu juga.” Jawab Soni mantap.

Wawan tersenyum. Lalu mengaduh. Bibirnya sakit lagi.

Akhirnya saat perlombaan tiba. Wawan belum diizinkan ikut, khawatir bibirnya tersenggol peserta lain. Wawan hanya boleh bermain di rumah sambill menonton TV. Ah… Membosankan. Wawan sudah tak sabar menunggu sore, saat pengumuman pemenang tiba.

Sore hari, Soni datang sambil membawa sebuah bungkusan besar.

“Aku pemenang kedua balap karung, dan pemenang ketiga lomba membawa kelereng dengan sendok.” Kata Soni sambil membuka bungkusan itu. Ada beberapa buku tulis, pensil dan penggaris, juga beberapa bungkus snack .

“Hadiahnya kita bagi dua.” Kata Soni.

“Eh.. Jangan. Itu milikmu.” Tolak Wawan.

“Kamu juga pemenang. Karena berlatih, kita tak jadi berbuat curang.” Bisik Soni, takut Ibu Wawan mendengar. Wawan tersenyum. Soni betul-betul sahabat yang baik.

“Terima kasih, ya. Walau tak ikut lomba, aku kecipratan hadiah juga.” Kata Wawan. “Ini buat adikku saja.” Wawan menyisihkan snack berplastik biru. Adiknya sangat suka snack.

“Oya, pemenang utama adalah Elang.” Kata Soni.

“Waah… Dia dapat tabungan, ya?” Wawan ikut senang.

Soni mengangguk. “Elang tangguh dan konsentrasi dalam setiap lomba. Jangan kecewa, tahun depan kamu juga bisa.” Kata Soni sambil menepuk bahu Wawan.

“Iya. Aku akan lebih berhati-hati supaya tidak cidera lagi. Mungkin ini teguran Tuhan karena kita berniat curang. Sekarang adikku sering meledekku bebek.” Kata Wawan dengan mimik lucu. Bibirnya sudah hampir sembuh. Dia sudah bisa tersenyum.

“Iya. Aku juga menyesal punya ide gila begitu. Padahal untuk meraih kemerdekaan, para pahlawan tak pernah berbuat curang.” Kata Soni.

Mereka terdiam sejenak. Sama-sama menyadari kesalahan.

“Merdeka…!” Kata Soni mengejutkan Wawan.

Wawan kaget, mengepalkan tangan dan berseru, “Merdeka…!”

***

Iklan

2 thoughts on “Cerita Anak : Lomba di Desa Damai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s