Cerita Anak : Budi Ingin Berbudi

Ini cerpen keduaku yang dimuat di Bobo. Masih dari hasil kelas menulis Merah Jambu. Aku masih ingat, saat itu mbak Nur memaksa kami menulis cerpen tentang dunia yang harus dihadapi anak-anak. Tak selamanya dunia anak berpelangi. Adakalanya anak-anak harus belajar paham dengan kekerasan, perceraian orang tua, bangkrutnya si ayah, dan banyak lagi.

Selamat menikmati 🙂

Dimuat di Bobo, 20 Agustus 2015

Dimuat di Bobo, 20 Agustus 2015

BUDI INGIN BERBUDI

Oleh : Novia Erwida

 

Namaku Budi. Kulitku sawo matang, rambutku keriting dan keningku sering berkerut. Temanku tak banyak, mereka enggan berteman denganku. Katanya aku usil. Kata mereka namaku Budi, harusnya aku berbudi.

Aku tak suka belajar. Aku bingung menautkan huruf demi huruf menjadi sebuah kata. Bu Guru sering kesal aku tak berhasil mengeja. Kadang aku disetrap, dan teman-teman menertawakanku.

Belajar itu membosankan buatku. Aku suka main jungkat jangkit dengan kursi sendirian. Hahaha… Ini sangat mengasyikkan. Seperti mainan waktu TK dulu. Sementara teman-teman sibuk menulis, dan aku semakin mempercepat gerakan jungkat jangkitku. Braaak…!! Aku terjatuh. Kursiku terbalik.

Di depanku ada Bu Guru. Matanya melotot. Aku pucat pasi. Kepalaku sakit terantuk sandaran kursi. Bu Guru seperti monster yang akan menelanku hidup-hidup. Aku mengusap-usap kepalaku yang benjol.

“Budi lagi…” katanya.

Aku diam. Menunduk.

“Anak ini… Hhh…!” Bu Guru mendengus kesal.

Marah Bu Guru belum sebanding dengan marah Ibuku. Kalau ibu marahnya pakai cubit, lalu suara Ibu meninggi. Dan aku tidak diperbolehkan bermain seharian, harus mengasuh adikku. Kesal dimarahi Ibu, kubalas mencubit adikku. Adikku menangis keras. Dan aku kena marah dua kali.

Tapi Bu Guru baik. Marahnya tak pakai tangan. Belum pernah aku dicubit . Paling-paling kalimat Bu Guru yang selalu di ulang-ulang. Kalau Bu Guru marah, tidak terasa sakit.

***

“Motornya bagus, Bu.” Kepegang stang motor Bu Guru. Motor Bu Guru bersih, pasti rajin dicuci. Motor Bu Guru jauh berbeda dengan sepatuku yang punya noda lumpur kecoklatan. Tadi hujan, aku terpaksa pergi sekolah dengan sepatu kotor.

“Budi mau pulang?” Bu Guru menawarkan naik motornya. Aku mengangguk.

“Ayo, Bu Guru mau sekalian ketemu Ibu kamu.”

Aku menggeleng kuat-kuat. Pasti Bu Guru mengadu kalau aku usil.

“Budi pulang sendiri saja, bu.” Aku langsung kabur. Bu guru memanggilku. Aku tak mau Bu Guru tahu rumahku. Aku tak siap dimarahi Ibu lagi.

Bu Guru sudah capek menyuruhku melajar membaca. Aku belum bisa juga. Ibu tak pernah membantuku belajar. Ibu selalu sibuk dengan adik dan pekerjaannya. Bapak juga sangat sibuk di sawah. Semuanya sibuk, aku jadi lebih senang bermain.

Sekarang Bu Guru ingin tahu rumahku. Fiuhhh… Untunglah rumahku jauh dan masuk ke pelosok kampung. Bu Guru akan kebingungan mencari rumahku sendirian. Lebih baik Bu Guru tidak datang ke rumahku. Aku malu, rumahku jelek dan berantakan. Ada dua adikku yang suka menjatuhkan barang dan mencoret tembok. Bu Guru pasti kaget melihat rumahku seperti kapal pecah.

Esoknya aku terkejut. Bu Guru sudah ada di rumahku. Bu Guru pintar. Dia bisa mencariku sampai sejauh ini. Mungkin Bu Guru bertanya pada tetangga, di mana rumah Budi? Semua tetangga kenal aku.

Bu Guru bicara banyak dengan Ibu. Aku disuruh Ibu menjaga adik selama Ibu menerima tamu. Dua adikku bertengkar. Aku marahi mereka, seperti Ibu memarahiku. Keduanya menangis, kupingnya merah karena kujewer.

Bu Guru terkejut melihatku memarahi adik. Lalu Bu Guru bicara ke Ibu. Terlihat Ibu mengangguk-angguk. Ibu menatapku dari jauh. Aku tak mengerti pembicaraan orang dewasa. Aku terus bermain bersama adikku.

***

Sejak Bu Guru datang ke rumah, Ibu tak pernah lagi memarahiku. Ibu semakin sayang padaku. Ibu mulai menemaniku belajar. Aku senang, ternyata Ibu sayang padaku, tidak hanya pada dua adikku. Aku jadi semangat belajar. Akhirnya aku bisa membaca.

Bu Guru sering mengajakku pulang pakai motornya. Agar aku tidak capek berjalan jauh, agar aku bisa pulang cepat dan membantu Ibu mengasuh adik. Kata bu guru, Ibu capek mengasuh adik-adik, Budi harus jadi anak baik. Bantu Ibu, supaya Ibu tidak capek lagi. Jadi Ibu tidak marah-marah lagi, dan Ibu punya waktu menemani Budi belajar.

Ternyata jadi orang dewasa itu susah ya. Kalau capek sedikit, sukanya marah-marah. Beruntung aku belum dewasa. Kata Bu Guru, jadi anak-anak itu menyenangkan. Tugasnya hanya belajar.

Baiklah, Bu. Aku berjanji akan jadi anak yang berbudi, seperti namaku. Aku akan rajin belajar. Kalau aku rajin belajar, aku akan jadi anak pintar. Dan Ibu akan semakin sayang padaku.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s