Cerita Anak : Sepatu Matahari

Cerpen ini dimuat di Kompas  Anak, setelah menunggu hampir setahun. Ini adalah ketikan pertama di Kelas Menulis Merah Jambu, endingnya dipercantik kalimat Mbak Nur. Selamat menikmati 😀

Cernak perdana di Kompas

Cernak perdana di Kompas

SEPATU MATAHARI

 

“Sepatu matahari?” mata Nurul berbinar indah.

“Iya,” sahut Qisthi. “Warnanya putih, ada sedikit pink di talinya dan sebuah matahari indah.”

“Aku mau sepatu matahari.” jerit Nurul kegirangan. Dia melonjak senang, tak sabar ingin segera memiliki.

“Kita panggil ibu.” Nurul menggamit tangan kakaknya.

“Ibuuu…!” keduanya memanggil ibu. Tak ada sahutan. Mereka berpandangan, lalu berjalan menuju dapur.

Bau harum menyeruak di pintu dapur. Nampak Ibu sedang sibuk di depan kompor. Ibu mengukus kue. Tangannya berlepotan adonan.

“Ibu…”

Ibu menoleh. Nurul dan Qisthi itu tak berani bicara.

“Kenapa, nak?” lalu ibu mengalihkan pandangan ke adonan. Kembali sibuk. Ibu selalu begitu. Mendengarkan sambil tetap mengerjakan tugasnya. Pasti pesanan kue sedang banyak.

“Ng….” Nurul menyikut lengan kakaknya.

“Hm…” Qisthi mendehem. Kehilangan kata-kata.

Seekor kupu-kupu kuning terbang di sudut dapur. Berputar-putar di dekat jendela kaca. Sepertinya dia terperangkap, sibuk mencari jalan keluar. Kasihan, dia terus terbang dan terbentur. Nurul membuka jendela, kupu-kupu itu terbang keluar. Seperti mengucapkan terima kasih atas kebebasannya. Nurul tersenyum.

“Enak ya jadi kupu-kupu.” kata Nurul.

“Enak gimana?” tanya ibu.

“Kupu-kupu tak butuh baju, tak butuh sepatu, jadi tidak merepotkan ibunya.” sahut Nurul.”

Ibu tersenyum. Mencuci tangan dari bekas adonan, dan menghampiri Nurul.

Nurul menunduk, omongannya keceplos. Qisthi hanya memandang dari pintu dapur. Takut ibu marah.

Nurul menggigit kelopak bajunya. Merasa bersalah sudah membebani ibu.

“Nurul mau kok jualin kue ibu di sekolah. Kakak juga kan?” Nurul minta persetujuan.

Qisthi mengangguk. “Seperti ibu waktu kecil, memetik bunga untuk dijual ke tetangga.” sambung Qisthi.

Ibu tersenyum.

“Nurul ingin jadi kupu-kupu?” tanya Ibu. Nurul menggeleng.

“Lalu Nurul ingin apa?”

“Ng… Se.. se.. pa.. tu matahari.” jawabnya sambil berbisik. Lalu tertunduk diam.

Ibu menghela nafas. Lalu memandang Qisthi.

“Sepatunya bagus, Qisthi?”

“Iya, bu.” jawab Qisthi.

Ibu terdiam sejenak.

“Sekarang pakai sepatu lama dulu ya nak.” ibu berkata pelan. Lalu melanjutkan pekerjaan.

Nurul dan Qisthi berpandangan. Lega. Ibu tidak marah.

***

3 hari berlalu. Ibu tak pernah menyuruh Nurul dan Qisthi berjualan di sekolah. Dan ibu juga tak menyinggung soal sepatu matahari. Ibu pasti tak punya uang, Nurul dan Qisthi mengerti. Mereka tak tega mengulang permintaan yang sama. Hanya ibu yang mencari nafkah.

Qisthi mengajak Nurul ke toko yang menjual sepatu matahari. Sepatu itu sangat bagus, Nurul mengelusnya. Membayangkan sepatu itu sudah jadi miliknya. Dipejamkan matanya, dihembuskan nafas lega. Setelah itu, Nurul meletakkan kembali sepatu itu di tempatnya. Dia sudah merasa puas bisa memegang sepatu matahari.

Mereka pulang bergandengan tangan.

“Kak, terima kasih sudah mengajakku ke toko itu. Melihatnya aku sudah senang.”

Qisthi tersenyum. Ia turut senang melihat adiknya bahagia.

“Kalau ibu ada uang, pasti dibelikan. Sabar ya dek.”

“Tak apa, kak. Sepatu lama masih bagus. Kita sudah punya matahari, kok. Lebih bagus dari sepatu matahari tadi.”

“Mana?”

“Kata guruku, ibu itu seperti matahari. Ibu menyinari kita dengan kasih sayang.” Nurul menjawab sambil tersenyum.

Qisthi memeluk adiknya.

“Ayo kita kasih hadiah buat ibu.” Qisthi memetik bunga matahari di kebun. Qisthi menarik tangan Nurul mengajaknya cepat pulang. Ia ingin memeluk ibu secepatnya.

***

DSCN5723

Dimuat Minggu, 16 Agustus 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s