Ibu Yang Berlebihan

Banyak yang bilang aku ibu yang berlebihan. Over protektif terhadap Nurul. Tak boleh makan ini dan itu. Tak boleh jatuh. Dijagain terus hingga Nurul sangat tergantung padaku. Salahkah itu?

Sebenarnya aku ingin membuat Nurul kuat dan bergerak seperti anak-anak lainnya. Tapi sejak kecil Nurul punya masalah dengan kesehatan. Sering alergi kalau salah makan. Hingga umur 3 tahun ini, Nurul belum mencicipi permen dan es krim. Syukurlah, dia tak tertarik melihat teman seumurannya memakan itu.

Aku sering panik saat Nurul sakit. Beberapa hari sebelum lebaran, Nurul panas tinggi dan dilarikan ke IGD. Ternyata penanganan di sana tidak memuaskan, Nurul dibawa ke DSA langganannya. (Suwer, sebenarnya aku ogah menyebut DSA sebagai langganan, tapi kami memang sering ke sana 😥 ) Panasnya diturunkan lewat obat yang dimasukkan ke dubur. Setelah itu, Nurul mencret. Rupanya mencret yang menyebabkannya demam.

Ah… Cuma mencret. Pasti itu tanggapan ibu-ibu.

Sungguh, aku tak ingin meratapi penderitaan. Tapi aku sangat kenal anakku, sakitnya, dan semua keluhannya. Wajarkah bila mencret mengeluarkan lendir dan bau menyengat? Nurul terinfeksi bakteri amoeba, dan harus menjalani terapi antibiotika selama 8 hari.

Terapinya belum selesai. Dan saat ini Nurul tidur siang tanpa mengeluarkan setetespun urin atau feses sejak tadi malam. Sekarang sudah jam 2 siang. Lebih dari 14 jam. Aku khawatir Nurul dehidrasi. Walau keringatnya membanjir sejak pagi tadi.

Apakah aku Ibu yang berlebihan? Tidak! Aku tahu saat mengkhawatirkan anak. Dan saat ini aku masih menunggu Nurul pipis atau BAB. Semoga hari ini tidak ke DSA lagi. 😥

Beberapa jam kemudian….

Nurul bangun tanpa basah sedikitpun. Aku langsung beri minum banyak. Aku tunggu. Popoknya masih kering. Malah dia minta makan. Saat makan, dia bilang “Pipis.”

Alhamdulillah… Lega. Langsung kucium-cium dia. Nggak jadi ke IGD. Nurul bukan dehidrasi. Nurul bengong waktu melihat aku tersenyum dengan laporan pipisnya. Seolah itu suatu prestasi baru. Aku langsung bereskan pipisnya dan mengganti celana baru. Tak lama, Nurul pup. Sesuai pesan dokter, kalau obatnya hampir habis, cek feses kembali.

Aku mengambil sampel feses dan menyimpan di plastik bening. Aku bersihkan Nurul, sementara ayahku ke labor memeriksa feses. Nurul tenang-tenang saja. Dia tak merasakan jantung emaknya yang hampir copot dari tadi. Aku berkali-kali tes cubit mengetahui Nurul dedihrasi atau bukan. Setiap kucubit, dia memandang heran dan balas mencubitku. Dia kira aku bercanda. Padahal aku gelisah bukan main. 😀

Hampir 2 jam ayahku baru kembali. Aku pasrah, kalau hasilnya positif aku harus lanjutkan pengobatan. Ternyata amoebanya negatif, saudara-saudara. Semakin lega aku hari ini.

Aku sampai izin mengajar menunggu Nurul pipis. Mana bisa aku mengajar sementara pikiranku tak tenang. Dulu Nurul sempat seperti ini waktu bayi. Tidak pipis dari pagi, dan tak lama kemudian, Nurul dilarikan ke RS dan diinfus 😥

Apakah aku masih ibu yang berlebihan? Apapun itu, aku akan melakukan yang terbaik buat anakku. Yang pasti, saat ini Nurul dalam masa pemulihan. Aku harus ekstra berlebihan. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s