Cerpen Anak : WARUNG PAK BURHAN

Dimuat di Lampost 22 Maret 2015

Dimuat di Lampost 22 Maret 2015

WARUNG PAK BURHAN

Oleh : Novia Erwida

Haikal kesal. Harusnya pagi ini dia bisa tidur-tiduran sambil menonton TV. Tapi karena kaki Ibu terkilir, terpaksa Haikal yang mengantarkan kue ibu ke warung. Bapak sudah berangkat dari tadi.

“Bu, antar kuenya besok saja ya, sama Bapak.” kata Haikal.

“Tidak bisa, Kal. Kuenya bisa basi.” jawab Ibu sambil memijat kakinya dengan minyak. “Semua kue sudah ibu susun di baki plastik. Jumlahnya sama. Kamu tinggal mengantar saja ke warung Bu Weni, Bu Nila dan Pak Burhan.” kata Ibu.

“Warung Pak Burhan?” Haikal terbelalak.

” Jauh? Kan bisa pakai sepeda.” Jawab Ibu.

Haikal bimbang. Kenapa harus ke warung Pak Burhan?

“Tolong Ibu, Kal. Sekali ini saja.” Ibu menatap Haikal dengan penuh harap. Ah, Haikal jadi tak tega. Dari Subuh Ibu sudah membuat kue-kue itu. Sehabis membuat kue kaki Ibu tersandung bangku dan kaki Ibu bengkak.

“Ibu istirahat saja. Nanti Haikal panggil Mak Ijah untuk mengurut kaki Ibu.” kata Haikal. Lalu Haikal mengambil sepedanya, mengantungkan kresek hitam berisi kue di stang dan mulai mengayuh.

Warung Bu Weni tak jauh dari rumah Haikal. Tak lama, Haikal sudah sampai. Haikal langsung menyerahkan sebaki kue ke tangan Bu Weni.

“Ini uang penjualan kue kemarin ya.” kata Bu Weni sambil menyerahkan beberapa lembar uang.

“Terima kasih, Bu.” Haikal mengambil uang itu dan memasukkan ke dalam kantong celananya.

Haikal mengayuh lagi. Kali ini menuju warung Bu Nila. Warungnya masih tutup. Mungkin karena hari Minggu. Haikal mengetuk pintu rumahnya.

Tak lama, pintu terbuka. Tampak Bu Nila sedang menggendong bayinya.

“Bu, ini kue titipan Ibu.” kata Haikal sambil menyerahkan baki.

“Uangnya besok saja ya, Kal. Sampaikan pada Ibumu.” kata Bu Nila.

Haikal mengangguk. Lalu mengambil sepedanya. Sekarang Haikal ragu, terus ke warung Pak Burhan atau pulang saja?

Tapi Haikal ingat, uang penjualan kue hanya dari Bu Weni. Pasti sedikit sekali. Haikal tak mau Ibu kecewa nanti. Haikal harus ke warung Pak Burhan.

Haikal mengayuh sepedanya. Warung Pak Burhan sudah kelihatan. Bapak dengan postur tegap itu sedang membersihkan debu yang menempel di toples permen. Haikal memperlambat laju sepedanya. Ingin singgah, tapi ragu.

Akhirnya Haikal terus mengayuh melewati warung Pak Burhan. Haikal berhenti di bawah sebatang pohon. Melongok isi baki di dalamnya. Kuenya masih banyak. Apa Haikal sanggup menjual kue sebanyak ini? Bagaimana cara menjualnya? Menjajakan keliling kampung? Ah, tidak. Haikal malu.

Sudahlah, titipkan saja pada Pak Burhan. Haikal membelokkan sepedanya ke warung Pak Burhan. Pak Burhan menoleh saat mendengar ada suara di luar warungnya.

Melihat kumis tebal Pak Burhan, nyali Haikal ciut juga. Haikal memperlambat mengayuh sepedanya.

“Pak, ini titipan Ibu. Beliau sakit.” kata Haikal sambil menyerahkan kantong kreseknya.

Pak Burhan mengambil kantong itu, melihat isinya dan diam. Haikal cemas. Apa susunan kuenya tidak rapi lagi, rusak atau Ibu salah hitung? Haikal menggigit bibir. Dia takut sekali pada lelaki berbadan besar ini.

“Oh, kamu anak Bu Ratmi ya?” tanya Pak Burhan ramah.

Haikal lega. Bapak ini bisa ramah juga.

Pak Burhan menyalin isi baki itu ke tempat kuenya satu-persatu. Haikal menunggu uang penjualan kue. Haikal tak ingin lama-lama di sini. Tapi Pak Burhan belum menyerahkan uangnya. Malah menyuruh Haikal duduk dulu. Banyak bertanya sambil menyusun kue Ibu.

Pak Burhan terus mengajak ngobrol. Bercerita tentang anak-anaknya, warungnya, dan pohon mangga di halaman rumahnya. Lama-lama Haikal sadar, kalau Pak Burhan tak seangker dugaannya.

Saat akan pulang, Pak Burhan memberi Haikal bonus sepuluh ribu rupiah sebagai hadiah. Pak Burhan senang dengan anak yang rajin membantu Ibunya.

Haikal mengayuh sepeda sambil bersiul-siul. Tugasnya sudah selesai, dan yang paling penting, ternyata Pak Burhan tidak galak seperti dugaannya.

Sampai di rumah, Haikal langsung menyerahkan uang pada ibu.

“Mak Ijah jadi ke sini, Bu?” tanya Haikal. Tadi sebelum mengantar kue, Haikal singgah dulu di rumah Mak Ijah.

“Sudah, Alhamdulillah habis diurut Mak Ijah, kaki Ibu terasa enakan.” Jawab Ibu.

“Bu, besok Haikal mau mengantar kue lagi.” kata Haikal.

“Beneran?” tanya Ibu tak percaya.

Haikal mengangguk. “Pak Burhan itu ternyata nggak galak ya, Bu. Dulu Haikal takut sama Pak Burhan.” Kata Haikal jujur.

Ibu tertawa. “Makanya, jangan berprasangka buruk dulu. Kalau kamu tak punya kesalahan, tak mungkin Pak Burhan galak, kan?”

Haikal mengangguk-angguk.

“Haikal mau mengantar kue setiap hari? Ibu juga mau memberi bonus.” kata Ibu sambil melambaikan selembar uang.

Haikal semakin bersemangat.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s