Cerpen Anak : AKIK ALDI

Dimuat di Lampung Post

Dimuat di Lampung Post 15 Maret 2015

AKIK ALDI

Oleh : Novia Erwida

 

Ayah Aldi sedang hobi mengumpulkan batu untuk dibuat batu cincin. Sekarang ada toko batu akik di halaman rumah. Banyak orang yang datang sekedar melihat atau langsung membelinya.

Aldi tak menyangka, batu yang awalnya tidak menarik itu ternyata mempunyai warna warni yang indah. Ada merah, hijau, biru bahkan dengan berbagai motif di dalamnya. Setelah batu diasah, kilaunya akan terlihat.

Sepertinya bisnis Ayah laris manis. Buktinya Ayah mampu membelikan sepeda yang sudah lama Aldi minta. Dan Ayah bilang, uang untuk membeli sepeda Aldi berasal dari penjualan batu akik. Wow, banyak juga uang Ayah.

Ayah membuatkan Aldi sebuah cincin kecil dengan batu berwarna kuning. Aldi tak tahu nama batunya. Tapi sepertinya keren kalau pakai cincin itu. Aldi merasa semakin gagah.

“Cincinnya jangan dipakai ke sekolah, ya.” kata Ayah.

Sebenarnya Aldi ingin memamerkan cincin ini pada teman-teman dan gurunya. Siapa tahu, dengan promosi dari Aldi toko ayah semakin laris. Tapi Ayah melarang.

Aldi sangat mengagumi batu cincinnya. Setiap saat Aldi menggosok batunya supaya tetap mengkilap. Tak boleh ada noda sedikitpun di cincinnya.

“Aldi, tolong bantu Ibu memindahkan kardus ini, Nak.” kata Ibu dari dapur.

Aldi berlari ke dapur. Ibu sedang membereskan dapur. Banyak barang tak terpakai harus dipindahkan ke gudang agar dapur semakin lega. Aldi mengangkat tangannya, tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu.

“Cincin Aldi bisa kotor kalau mengangkat kardus itu.” Kata Aldi. Aldi tak jadi menolong Ibu.

“Lepaskan dulu.” kata Ibu.

Aldi melepaskan cincinnya, dan menaruhnya di sudut meja dapur. Aldi buru-buru membantu Ibu, membasuh tangan dan mengenakan cincinnya lagi.

“Aldi, tolong kakak menanam batang mangga, ya.” tiba-tiba kak Heni datang dan membawa sebuah pohon kecil dalam polybag. Aldi langsung menggeleng. Takut cincinnya kotor.

“Ih Aldi. Bantuin dong. Kalau berbuah kan buat Aldi juga?” paksa kak Heni.

Aldi berpikir sejenak. Enak juga kalau pohonnya cepat berbuah. Aldi bisa makan mangga sepuasnya.

Aldi melepas cincinnya dan meletakkan kembali di sudut meja dapur. Dia mengambil sekop kecil menuju taman. Ibu geleng-geleng kepala melihat tingkah Aldi. Sejak Aldi punya cincin, dia mulai enggan menolong.

***

Pagi ini Aldi berniat memamerkan cincinnya ke teman-teman. Aldi tidak meninggalkan cincin di rumah seperti biasa. Ayah pasti bangga kalau Aldi adalah pahlawan keluarga, yang membawa banyak pelanggan ke toko batu akik Ayah.

Sampai di sekolah, Aldi memamerkan cincinnya pada Hendra. Ayah Hendra adalah seorang pejabat. Pasti dia suka koleksi batu cincin yang mahal.

“Keren, kan? Kau bisa ajak Ayahmu ke rumahku.” kata Aldi.

Hendra membolak-balik cincin Aldi.

“Aku juga mau yang seperti ini. Kau terlihat gagah.” kata Hendra.

Aldi tersenyum senang. Satu calon pelanggan sudah dapat.

Aldi memamerkan cincinnya pada Ikhlas, Romi dan hampir seluruh teman di kelas. Semuanya terkagum-kagum. Kecuali Feri.

“Ah, kalau cuma batu ini sih Ayahku juga punya.” kata Feri. Ayahnya adalah kolektor batu cincin.

Aldi pantang menyerah. Teman-teman boleh mengejek, tapi yang paling penting akan ada beberapa orang yang akan datang ke rumahnya nanti. Membeli batu akik Ayah. Pasti Ayah senang sekali.

Bel berbunyi. Semua siswa masuk kelas dan pelajaran akan dimulai. Bu Jeli menerangkan pelajaran dan menyuruh Adli mengerjakan latihan di papan tulis. Aldi mengambil spidol, dan mulai menulis angka-angka. Ini adalah pelajaran kesukaan Aldi, tak sulit baginya menyelesaikan soal.

Tiba-tiba Bu Jeli melihat sesuatu di tangan Aldi, dan menyentuhnya.

“Ini apa?” tanya Bu Jeli.

Aldi tergagap. Bu Jeli sangat teliti dan kali ini Aldi tak berani promosi batu cincin.

“Buka.” Perintah Bu Jeli.

Dengan berat hati Aldi membukanya. Lalu menyerahkan ke tangan Bu Jeli. Bu Jeli menyita cincin Aldi. Aldi tahu, tak lama lagi pasti pihak sekolah akan memanggil orang tua untuk mengambil barang yang disita. Oh, Aldi sangat malu. Niatnya mau menolong Ayah malah mempermalukan Ayah.

Terdengar tawa cekikikan teman-teman di belakang. Mungkin mereka tak jadi jadi pembeli batu di toko Ayah. Siapa yang mau barang kesukaannya disita? Promosi Aldi gagal total.

Ayah datang ke sekolah sambil menjemput Aldi. Bu Jeli mengajak Ayah ke kantor guru, melaporkan perbuatan Aldi. Bu Jeli menyerahkan cincin itu pada Ayah dan menjelaskan peraturan sekolah tentang perhiasan. Ayah memandang Aldi, lalu berkata, “Kan sudah Ayah bilang jangan pakai ke sekolah?”

Aldi tertunduk. Tak ada sekolah yang mengizinkan siswanya memakai perhiasan. Batu akik hanya cocok untuk orang dewasa. Biarlah batu itu untuk Ayah saja. Aldi kapok memakai batu cincin.

***

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s