Cerita Anak : Sepatu Baru

Dimuat di Padang Ekspres 21 Desember 2014

11695_924189727591546_807028725138814057_n

SEPATU BARU

“Pokoknya Rini mau sepatu baru, seperti punya Vina…” Rini menghentakkan kakinya di lantai. Mulutnya cemberut, tangannya mengepal. Lalu tangisnya pecah. Rini menangis keras, tak terima jawaban Ibu. Ibu selalu tak punya uang.

Seperti biasa, ibu hanya diam. Mata ibu berkaca-kaca. Ibu membiarkan Rini menumpahkan tangisnya sampai puas. Ibu tak sanggup belikan Rini sepatu baru. Ibu masih punya hutang beras di warung Koh Ali. Dan malam ini Ibu belum punya bahan pangan untuk diolah. Ibu sedih, tambah sedih dengan Rini yang tak mau mengerti kondisi ibu.

Ibu keluar dari rumah tanpa sepatah katapun. Meninggalkan Rini yang masih menangis. Ibu menyusuri sungai, berharap dapat mengumpulkan beberapa batang sayur kangkung yang tumbuh liar. Lumayan buat mengisi perut nanti malam. Ibu memetik daun-daun kangkung itu sambil menitikkan air mata. Sungguh, ibu sayang sama Rini. Tapi ibu tak sanggup belikan Rini sepatu baru.

Keesokan harinya, Rini berangkat sekolah dengan malas. Dia malu dengan sepatu bututnya. Sepatu satu-satunya yang sudah sobek ujungnya. Rini pamit pada Ibu dan Ayah buru-buru, cium tangan sekilas saja. Tidak seperti biasa. Rini kecewa menjadi anak yang terlahir dari keluarga miskin. Rini ingin seperti Vina. Apa-apa dikasih, bahkan tidak minta pun dikasih. Papa Mamanya Vina orang berduit. Beda dengan Ibu dan Ayah. Ibu hanya buruh cuci, Ayah tukang bangunan. Duitnya sedikit.

Rini menendang batu di depannya. Kakinya melangkah pelan menuju sekolah. Rini malu dekat-dekat Vina. Sepatu Rini sangat terlihat kusam bila berdekatan dengan sepatu Vina. Rasanya ingin menyembunyikan sepatu itu di kolong bangku daripada harus berdekatan dengan sepatu Vina.

Sampai di gerbang sekolah. Vina sudah menunggu. Vina sahabat baik Rini. Vina tak pernah memandang kaya miskin dalam berteman. Berdua mereka berjalan menuju kelas. Rini melangkahkan kaki dengan segan. Matanya melirik sepatu bagus Vina. Rini malu dengan sepatu jeleknya.

Pulang sekolah, Vina mengajak Rini mampir ke rumahnya. Rumah Vina dekat dengan sekolah, searah dengan jalan Rini pulang. Rini sering mampir di rumah Vina. Rumahnya besar, megah dan lantainya mengkilap. Rini mau mampir sebentar, tak terlalu lama. Rini tak mau Ibu cemas menunggu di rumah.

Di rumah Vina tak ada Papa Mama. Mereka berdua di kantor. Yang ada hanya si Mbak. Si Mbak menghidangkan makan siang buat mereka berdua. Menunya enak, kesukaan Rini. Ayam goreng, sayur dan kerupuk udang. Itu semua jarang bisa dicicipi di rumah Rini. Rini mengucapkan terima kasih karena sudah diajak makan.

Vina masih ingin bermain bersama. Vina mengeluarkan koleksi bonekanya. Rini tak punya mainan seperti itu. Sebenarnya Rini ingin bermain boneka dan menyusunnya di rumah boneka yang besar. Tapi Rini ingat Ibu. Akhirnya Rini mohon pamit.

“Aku ingin main sama kamu, tapi kasihan nanti Ibu cemas menungguku.” kata Rini.

Vina terlihat kecewa. Dia kesepian. Mainannya yang banyak tak bisa menggantikan seorang teman. Tapi cepat dia sunggingkan senyum manis.

“Tak apa-apa. Lain kali kita bisa main lagi.” jawab Vina.

Sebenarnya Rini ingin mengajak Vina main ke rumah. Tapi di rumah tak ada mainan yang pantas buat Vina. Rumah Rini juga sempit, Vina pasti tak betah di sana.

Sebelum pulang, Vina menitipkan sesuatu dalam kantong kresek hitam.

“Apa ini?” tanya Rini.

“Buka di rumah, ya..” kata Vina sambil tersenyum penuh rahasia.

Rini mengucapkan terima kasih dan menutup pintu pagar rumah Vina.

Di jalan, Rini penasaran apa isi kantong kresek yang diberikan Vina tadi. Tapi Rini sudah janji akan membukanya di rumah. Tak sabar rasanya segera sampai di rumah.

Di pintu depan, Rini langsung membuka kantong itu. Isinya dua pasang sepatu Vina yang sudah tidak terpakai, tapi masih bagus. Mata Rini berbinar melihatnya. Vina tahu sepatu Rini sudah jelek. Sedangkan sepatu Vina terus berganti. Sepatu lamanya jadi milik Rini. Sepatu bekas, tapi bagus. Rini senang, Vina sahabat yang mengerti kekurangan Rini.

Rini langsung berteriak memanggil ibu. Ibu datang tergopoh-gopoh. Rini memamerkan dua pasang sepatunya. Ibu bingung.

“Sepatu dari mana, Rin?” tanya Ibu.

“Vina yang kasih, Bu. Sepatu bekas, tapi masih bagus.”

“Alhamdulillah…” Ibu bersyukur sekali. Hilang sudah beban ibu dengan rengekan Rini kemarin. Ibu tak harus membelikan sepatu baru.

“Ayo masuk, ganti baju, terus makan.” kata Ibu.

“Rini sudah makan, Bu. Di rumah Vina. Ayam gorengnya enak.” kata Rini sambil menuju kamarnya. Rini mengganti baju, lalu kembali memegang dua pasang sepatu itu dengan senyum.

“Vina baik, ya bu.”

“Alhamdulillah… Bersyukurlah pada Allah, Rini diberi rezeki sepatu baru.”

“Alhamdulillah, ya Bu. Maafkan kemarin Rini ngamuk-ngamuk. Sepatu Rini sudah jelek.”

 “Tak apa-apa. Ibu mengerti kok. Ibu belum sanggup belikan kamu sepatu. Ternyata Allah memberikan rezeki buat kamu.” Ibu memeluk Rini. Lalu mereka tersenyum bahagia.

***

Iklan

2 thoughts on “Cerita Anak : Sepatu Baru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s