Cerita Anak : Air Minum Bu Guru

Cernak Pertama

Cernak Pertama

Hasil pertama dari proses belajar sama Mbak Nur. Rasanya puas setelah melihat namaku terpampang manis di koran, meski baru koran lokal. Tapi itu sudah membuktikan kalau aku bisa menulis, kan? Baiklah, tak perlu berlama-lama, inilah cernak pertamaku dimuat di koran Padang Ekspres 23 November 2014.

***

Ada namaku *Norak ih :)

Ada namaku *Norak ih 🙂

Bu Guru punya botol minum berwarna pink. Setiap habis mengajar, Bu Guru selalu menyedot minumannya dengan pipet. Husna suka memperhatikan Bu Guru minum. Bu Guru minum sedikit-sedikit. Dan setelah itu botolnya ditutup.

Warna airnya selalu berbeda. Kadang berwarna kuning, kadang merah, kadang air putih biasa. Pasti Bu Guru suka sirup, seperti Husna. Padahal Mama sering melarang Husna kebanyakan minum sirup. Takut sakit tenggorokan.

Hari ini Bu Guru mengisi botolnya dengan susu. Ternyata Bu Guru tak selalu minum sirup. Husna tidak suka susu. Rasanya enek dan bikin mual.

Husna lebih suka puding susu buatan Mama, daripada minum segelas susu.
Bu Guru menerangkan pelajaran penuh semangat. Suaranya lantang. Pantas saja Bu Guru sering haus. Botol minum Bu Guru yang semula penuh, selalu habis saat kelas berakhir. Jadi guru ternyata melelahkan.

Hari ini Husna mengisi botol minumnya dengan sirup stroberi. Husna ingin Bu Guru juga mencicipi bekalnya. Saat istirahat, Husna menghampiri Bu Guru. Botol Bu Guru berwarna merah. Mirip sirup Husna.
”Bu, cobain sirup Husna, ya. Sama kaya sirup Ibu,” kata Husna sambil menyodorkan botol minumnya.

Bu Guru menoleh. Lalu tersenyum.
”Terima kasih, Husna. Tapi Ibu tidak suka sirup.”
”Lho? Yang di botol itu apa?” tanya Husna.
”Ini teh, Husna.”

”Kok merah?”
”Teh dari bunga rosella. Baik untuk kesehatan,” jawab Bu Guru sambil tersenyum.

”Kalau yang kuning apa, bu?”
”Wah, kamu suka memperhatikan Ibu ya?” tebak Bu Guru. Husna tersipu.
”Yang kuning itu madu. Ibu suka minuman kesehatan. Sesekali ibu bawa air putih saja.”

”Ibu hebat,” puji Husna.
”Kamu juga bisa,” balas Bu Guru.

Husna mengisi botol minumnya dengan madu, lalu mengocok agar madu itu larut. Mama heran, tumben Husna mau minum madu.
”Husna nggak minum sirup?” tanya Mama.

Husna menggeleng. ”Sirup ada pewarna, pemanis dan pengawet. Tidak baik untuk kesehatan, Ma,” jawab Husna.

”Anak Mama pintar. Mama senang mendengarnya. Siapa yang ajari?”
”Bu Guru, Ma. Botol minum Bu Guru tak pernah berisi sirup. Husna mau meniru Bu Guru.”

”Berarti sirup itu buat siapa?” tanya Mama.
”Bukan buat Husna, Ma. Husna mau berhenti minum sirup.”
Mama tersenyum. Mama bangga Husna mulai mengerti tentang kesehatan. Dulu susah payah Mama melarang minum sirup. Tapi Husna bandel.

Akibatnya demam, batuk, pilek dan harus izin sekolah. Setelah sembuh, Husna minum sirup lagi. Mama sampai bosan menasehati.

Hari ini botol Bu Guru berwarna kekuningan. Husna mendekati Bu Guru saat istirahat.

”Botolku isinya madu, Bu,” kata Husna.
”Sama dong. Mari minum sama-sama,” ajak Bu Guru.

Selesai minum, Husna menutup botol dan membawanya ke kantin. Husna ingin jajan nasi goreng. Tadi pagi sarapan sedikit sekali. Husna jadi lapar.

Hendri memperhatikan botol minum Husna yang transparan. Lalu meledek. ”Husna minum pipis kucing. Air botolnya kekuningan, hiy…” Hendri tertawa meledek sambil menunjuk botol Husna.

Teman-teman yang lain memperhatikan, Husna jadi salah tingkah, lalu menangis dan berlari. Terdengar tawa teman-temannya.
Husna menabrak Bu Guru.

”Ada apa Husna?” tanya Bu Guru.

”Hendri bilang botol ini isinya pipis kucing,” Husna menangis.
”Ayo kita panggil Hendri,” bujuk Bu Guru.
Sekarang Husna dan Hendri sudah ada di ruang guru. Bu Guru menyodorkan botol Husna.

”Ini apa, Hendri?” Hendri tak berani menjawab.
”Hendri bilang ini pipis kucing, ya?” tanya Bu Guru kemudian.
Hendri tertunduk. ”Maaf, bu.”
”Minta maafnya sama Husna.”

Hendri menyalami Husna. ”Maaf tadi aku mengejekmu,” Husna mengangguk.
”Sebagai hukumannya, Hendri harus minum pipis kucingnya,” kata Bu Guru.
Hendri terbelalak. Husna terkikik geli. Wajah Hendri terlihat aneh saat akan meneguk isi botol. Tiba-tiba Hendri tersenyum. ”Manis, Bu,” katanya.

”Itu madu, Hendri. Makanya, jangan asal ejek, ya?”
Hendri mengangguk.

Keesokan harinya, Husna melihat botol minum Hendri berwarna kekuningan. Husna tersenyum. Ternyata Hendri juga suka madu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s