Antologi Pertamaku

10387610_1566426256907887_7834534482700347538_n

Dulu, rasanya ingin mempunyai sebuah buku dan ada namaku di dalamnya. Pasti keren, karena namaku ada di buku, bukan koran atau majalah. Tapi ternyata tidak semudah itu.

Beruntung aku mengenal sosok Nurhayati Pujiastuti. Selain belajar menulis cernak, beliau juga menjelaskan persaingan bisnis dalam hal tulis menulis. Menulis buku itu melelahkan, dan mesti promosi sana sini. Hasil yang didapat belum tentu sebanding dengan kerja keras penulis. Beda dengan menulis ke media. Media besar akan menyambut tulisan yang layak muat, dibayar dan selesai. Kita bisa menulis lagi dan lagi tanpa beban, pastinya bebas menentukan tema.

Yang sudah terjadi adalah pelajaran berharga. Aku tidak bisa dagang, dan tidak pintar promosi. Malu rasanya promosi buku dengan harga yang lumayan mahal untuk ukuran orang-orang sekitarku. Mereka lebih memilih beli beras ketimbang beli bukuku.

Honorku dalam buku ini didapat dari hasil penjualan buku. Ini adalah spekulasi. Aku bisa rugi atau meraih sedikit untung. Kutelusuri riwayat menulisku. Dulu aku dibayar majalah, sekarang cernakku dimuat di koran. Honornya lumayan, dan aku tak perlu dagang sana-sini menjual bukuku sendiri.

Bukan aku tak bangga dengan hasil karyaku. Tapi aku tak siap menjadi penulis sekaligus pedagang. Ini bukuku, diterbitkan indie dan dibeli berdasarkan pesanan. Sepertinya cukup sampai di sini.

Okelah, hidup adalah pilihan. Dan aku memilih aktif di media. Semoga impianku terwujud, aku menulis tanpa tekanan, dan rezeki imengalir deras lewat rangkaian kata. Aamiin…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s