Pendidikan Gratis Setara SDIT

Ada barang, ada harga. Hal itu sudah lazim dalam masyarakat kita. Sehingga hanya golongan tertentu saja yang bisa menikmati fasilitas seperti pendidikan, kesehatan dan sosial dengan baik. Sementara golongan menengah ke bawah sering ngos-ngosan untuk mendapatkan pelayanan standar. Untuk itulah #DompetDhuafa hadir, mencoba merangkul si miskin agar menikmati kehidupan yang lebih baik lagi. Dompet dhuafa berusaha melayani masyarakat dengan menyalurkan zakat, infak dan sedekah kepada yang membutuhkan, agar kemiskinan di sekitar kita berkurang dan semua rakyat Indonesia bisa menikmati hidup layak. Pendidikan itu penting, dan amat disayangkan masih banyak ketimpangan untuk mendapatkan fasilitas yang satu ini.
Banyak orang tua memasukkan anaknya ke Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT). Di dalamnya sudah mencakup kurikulum pelajaran umum plus agama. Belajarnya dari pagi sampai sore, tidak perlu lagi mencari guru les mengaji. Semua sudah lengkap di sekolah. Tapi tak semua orang tua mampu dengan biaya bulanan SDIT. Sebagai sekolah swasta yang mengutamakan mutu, tentu SDIT mematok harga yang harus dibayar sesuai pelayanan mereka.
Di lingkungan saya, rata-rata hanya golongan menengah ke atas yang menyekolahkan anaknya di SDIT. Alasannya bermacam-macam. Agar lebih banyak hafalan Al-Qurannya, lebih terkontrol tingkah lakunya, lebih aman orangtuanya bekerja karena orang tua dan anak sama-sama pulang sore. Sementara golongan menengah ke bawah (meski tidak semuanya) memasukkan anaknya ke sekolah negeri. Pulang sekolah mereka belajar mengaji di surau atau MDA (Madrasah Diniyah Awaliyah).
MDA adalah tempat belajar agama untuk anak-anak setingkat SD. Jadwal masuk jam 14.30 sampai 17.00 WIB dan sudah termasuk shalat berjamaah. MDA ini dikelola oleh guru yang rata-rata adalah mahasiswa. MDA bukan sekolah formal di bawah pemerintah, otomatis butuh iuran bulanan yang tidak terlalu memberatkan. Rata-rata Rp. 15.000,- s/d rp. 20.000,- perbulan. Dengan jumlah uang yang minim, guru MDA juga bergaji kecil. Ini salah satu kendala yang menyebabkan guru sering resign dari tempatnya mengajar.
Di samping itu, keberadaan MDA sering dipandang sebelah mata, karena tidak dikelola secara professional. Uang masuk dari iuran anak-anak tidak mencukupi, dan guru harus mencari donator untuk menambah gaji guru. Sangat tidak mengenakkan, kala niat yang tulus untuk mengajar agama, dicurigai sebagai modus memperkaya diri. Padahal rata-rata gaji guru MDA hanya Rp. 300.000,- per bulan.
Pemerintah Kabupaten Agam Sumatera Barat sudah melaksanakan program satu atap SD/MDA sejak Juni 2006 lalu. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan agama di SD negeri, dengan mendatangkan guru-guru professional. Sekolah ini dinamakan SDPlus, karena di dalamnya plus MDA tanpa iuran sama sekali.

Ini Sekolahnya

Ini Sekolahnya

Ini sekolahnya, di lereng Gunung Singgalang

Terlihat puncak Gunung Singgalang

Karena ini baru pilot project, dalam satu kecamatan, hanya 1 atau 2 sekolah yang mendapatkan fasilitas ini. Saya adalah salah satu pengajar di SD tersebut. Sekolah tempat saya mengajar terletak di lereng gunung Singgalang. Namanya SDN Plus MDA 24 Pakan Sinayan, Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam. Butuh sedikit perjuangan untuk mendaki dengan membawa motor ke sana. Jalan berkelok, banyak yang berlubang dan tanpa aspal. Sudah hampir 7 tahun saya mengabdi di sekolah ini. Karena digaji oleh pemerintah, otomatis saya lebih beruntung dibanding teman-teman yang mengajar di MDA swasta.
Pelajaran agama di sini adalah Ibadah Syariah, Bahasa Arab, Sejarah Kebudayaan Islam, Akidah Akhlak, dan Al-Quran Hadits. Ditambah praktek ibadah, hafalan ayat dan doa, kalighrafi dan muhadharah. Buku pelajaran siswa disediakan oleh pemerintah kabupaten Agam.

Sekali dalam dua tahun, diadakan perayaan Khatam Al-Quran. Ini adalah perhelatan masyarakat, kebanggaan orang tua saat anaknya sudah menamatkan membaca Al-Quran. Rata-rata yang Khatam adalah anak kelas 6 SD. Mereka meninggalkan sekolah dengan 2 ijazah sekaligus.

Rombongan Khatam Al-Qur'an SDN 24 Pakan Sinayan

Rombongan Khatam Al-Qur’an SDN 24 Pakan Sinayan

Peserta Khatam Al-Qur'an

Peserta Khatam Al-Qur’an

Anak-anak yang ikut Khatam Al-Quran akan diarak keliling kampung dengan karnaval mobil hias, pakaian adat, dan iringan marching band. Suasana meriah, setelah arak-arakan makan bersama di sekolah sambil menikmati penampilan bakat adik kelas mereka. Ada yang menari, bernyanyi, pidato, puisi dan melantunkan hafalan Al-Quran. Acara ditutup oleh mengumuman juara peserta khatam terbaik. Pemenang akan mendapatkan hadiah besar seperti bintang emas, karpet, piala, sarung, Al-Quran dan lain-lain yang berasal dari para sponsor di kampung dan perantauan.
Seru, bukan? Anak-anak dibuat sibuk dari pagi sampai sore dengan bekal ilmu untuk dunia akhirat. Sehingga mereka tak punya banyak waktu untuk bermain atau terjerumus ke hal-hal negatif. Merekalah generasi harapan. Anak-anak yang menyiapkan diri menghadapi tantangan zaman. Sayangnya, di kecamatan Banuhampu baru satu sekolah seperti ini. 23 SD lain belajar mengaji di MDA pilihan mereka, bahkan ada yang tidak mengaji. Padahal kalau seluruh sekolah punya fasilitas seperti ini, kita bisa tenang meninggalkan anak-anak saat ajal menjemput. Kita sudah bekali mereka ilmu dunia akhirat, niscaya mereka aman.
Semoga tulisan saya di blog ini menjadi inspirasi kita semua. Mari kita wariskan kebaikan bagi anak-anak kita, berikan mereka kemudahan dalam pendidikan, agar #IndonesiaMoveOn dan melahirkan putra putri tangguh. Aamiin..

Iklan

2 thoughts on “Pendidikan Gratis Setara SDIT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s