Patriot Itu Ayahku

Bicara soal sosok patriot, secara otomatis otakku menjawab “Ayahku.” Aku mengidolakan ayahku, karena dari kecil aku sangat dekat dengan ayahku. Ayahku selalu ada untukku. Sejak TK sampai kuliah aku sering diantar oleh ayahku. Bahkan waktu aku kecil, ayah membawaku shalat Jum’at. Padahal aku perempuan.

Aku dan Ayah

Ayah sering mengajakku jalan-jalan pakai motor. Hampir setiap hari aku duduk di depan, badanku diikat pakai kain agar aku tidak jatuh. Aku sering pergi berdua dengan ayah, adikku di rumah dengan ibu. Karena terlalu sering naik motor, aku batuk-batuk dan setelah diperiksa ada flek di paru-paruku. Akhirnya aku harus minum obat rutin selama setahun. 😦

Ayah juga suka membeli makanan dalam jumlah banyak, dan membiarkanku dan adikku memakan sepuasnya. 2 kg rambutan atau buah-buahan apapun, selalu diletakkan begitu saja dan kami bebas makan sampai kenyang. Ayah senang melihat kami puas. Akibatnya, besok mencret karena kebanyakan makan buah.
*Pelajaran buat orang tua baru, kalau anak suka sesuatu, tak selalu harus dipenuhi.
Ayah sering mengajak aku dan adikku jalan-jalan di hari Minggu. Hari itu kami boleh makan es. Kalau hari biasa dilarang, karena aku dan adik-adik gampang flu. Senangnya sesekali bisa menikmati yang diidamkan 🙂 . Setiap jalan-jalan, kami selalu pulang membawa majalah. Di Bukittinggi ada kios yang menjual majalah bekas, majalah yang diretur karena tidak habis terjual. Masih bagus, yang penting aku bisa baca. Ayah selalu mendukung kami untuk giat membaca.
Ayah sangat memperhatikan soal pendidikan anak-anaknya. Ada kesempatan les, aku ikut les. Baju dan peralatan sekolah selalu dibelikan. Tak pernah ayah mengatakan tak punya uang setiap aku meminta uang untuk membeli buku. Aku cukup beruntung, karena ayahku bukan orang kaya. Tapi dia selalu berusaha memenuhi kebutuhan sekolahku. Bahkan ayah membelikan komputer sebelum aku kuliah. Padahal aku tidak pernah minta.
Saat aku kuliah, ayah sering mengantarku. Sampai banyak teman meledekku. Tapi aku cuek, apa salahnya seorang ayah mengantar anak kuliah? Bukankah itu lebih aman?
Ayah adalah tempat curhatku. Termasuk soal calon pendamping. Aku bisa bebas menyampaikan perasaanku dan merasa lega mendengar nasehat-nasehatnya. Saat akhirnya aku memilih suamiku, ayah mendukung dan mendoakan kebaikan buat kami berdua. Satu kata yang paling kuingat “ayah selau berdoa kebaikan buat keturunan ayah semua.” Aamiiin…
Walaupun sudah bersuami dan memiliki anak, ayah tetap menganggapku anak kecil. Yang namanya anak tetap anak kan, walaupun sudah dewasa. Aku senang dengan perhatian ayah. Rasa sayangnya pada cucu memebihi rasa sayangnya pada anak-anaknya. Saat ini ayah menikmati hari tua dengan dua cucu yang lucu. Aku dan adikku sudah memiliki bayi dan jadi hiburan buat ayah ibuku.

 

Ayah dan 2 cucunya

Dulu aku dimanja, sekarang cucu dimanja. Seorang anak tak akan bisa membalas jasa orang tuanya, dengan apapun itu. Hanya doa kebaikan yang kupanjatkan buat orang tuaku. Semoga mereka selalu dilindungi Allah.

Syukuran di Bulan Maret : Sang Patriot di Kehidupan Kami

 

Iklan

4 thoughts on “Patriot Itu Ayahku

  1. Terima kasih atas partisipasinya.

    Banyak orang yang memiliki kenangan di masa kecil saat diajak Ayahnya jalan-jalan naik motor. Saya juga. Sampai hari ini saya senang mengenangnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s