Tips Irit Ibu Erte

Ibu rumah tangga harus pintar-pintar membelanjakan uang pemberian  suami. Jangan sampai menjelang akhir bulan persediaan sudah menipis bahkan tekor. Awal menikah aku masih suka boros. Tak pernah menabung. Tapi setelah mulai ada janin di rahimku, aku mulai memikirkan masa depan keluarga kami. Dan inilah beberapa tips yang kulakukan di rumah.

1. Menabung bukan dari uang sisa belanja.

Setiap diberi uang bulanan oleh suami, aku selalu menyisihkan untuk ditabung ke dalam amplop yang kutulis besar-besar MASA DEPAN. Uang dalam amplop itu tidak boleh diambil, kecuali ada kepentingan mendadak. Hal ini baru beberapa bulan kulakukan. Sebelumnya aku sering merasa masih memiliki uang cukup untuk membeli barang yang sebetulnya tidak BUTUH, hanya sekedar INGIN. Dengan membatasi jumlah uang belanja sesuai budget, otomatis aku berpikir untuk membeli yang penting-penting saja.

2. Popok Kain

Pemakaian popok sekali pakai, selain bikin kantong bolong, juga bikin kulit bayi merah-merah. Kebanyakan pospak bisa bertahan beberapa jam tanpa bocor, sehingga bayi tetap tenang dan tidak merasa basah. Tapi kasihan bayinya, kemana-mana bawa kotoran yang berat. Beda kalau memakai popok kain. Sekali pipis atau pup, bayiku langsung merasa basah dan bikin laporan sambil menepuk-nepuk pantatnya. Aku langsung paham dan mengganti popoknya.

Pemakaian pospak juga bikin semakin banyak limbah. Dalam sehari bayi bisa menghabiskan 3 atau 4 pospak. Sekitar 7 ribuan sehari hanya untuk popok. Kali sebulan, kali setahun, huhuhu… sayang uangnya. Sesekali anakku juga pakai pospak kalau dibawa keluar rumah agak lama. Tapi aku menyiasati agar pospak bisa dipakai kembali. Isi popok bekas (yang belum kena pup) dengan air sampai penuh, buang gelnya, cuci dan jemur. Dalamnya bisa diisi kain sebagai alas ompol. Lebih gampang pakai pospak celana, kalau diapers yang pakai lem sering lepas kalau sudah sudah dicuci.

3. Beli lusinan / ukuran jumbo

Pakaian bayi tak cukup satu. Dalam sehari bisa ganti beberapa kali karena kotor atau basah. Aku suka membeli perlengkapan bayi lusinan. Dari baju sampai kaus kaki. Kadang aku belinya join dengan adikku yang juga punya bayi seumuran dengan bayiku. Kita dapat harga murah, dan bayipun bisa bergaya tanpa bikin emaknya sakit kepala mikirin duit hehe.

Baju buat di rumah, belinya join ma adik :)

Beberapa pakaian harian anak.

Untuk kebutuhan lain, aku suka membeli dalam kemasan besar, seperti sabun, pembalut, pospak (lama habisnya karena sering pakai popok kain), dll. Untuk sabun mandi dan cuci piring, beli kemasan refiil karena lebih murah dan bisa dipindahkan ke botolnya yang sudah kosong. Tapi aku menghindari diskon barang yang tidak kubutuhkan. Kalau harga miring dan aku butuh, pasti kubeli.

4. Habiskan dulu

Dulu aku sering tergiur membeli kosmetik baru dan membuang kosmetik lama yang tinggal sedikit. Sekarang tidak lagi. Sayang, apalagi kalau kosmetiknya mahal. Sekarang aku membalikkan kemasan body lotion, shampoo atau apapun yang tidak ada refiilnya setiap mau habis. Jadi lebih gampang dipakainya.

Begini posisinya kalau hampir habis.

Begini posisinya kalau hampir habis.

Aku tidak akan membeli barang yang jarang kupakai dan tidak terlalu butuh. Karena tidak butuh, tak adapun tak apa-apa.

5. Semua dari rumah

Asal rajin, kita bisa hemat kok. Kalau malas masak, resikonya harus beli makanan di luar. Selain tidak sehat, harganyapun selangit. Mending bikin sendiri. Hemat, sehat, dapatnya banyak 😀

Rendang

Rendang

Ikan patin balado

Ikan patin balado

Kalau malas nyuci, ada laundry kiloan. Tinggal siapin duit aja. Tapi kalau dihitung-hitung, ongkos beberapa kilo cucian  sudah bisa beli deterjen yang bisa dipakai sebulan buat nyuci sendiri di rumah. So, jadilah ibu yang rajin.

6. Kretif

Mainan anak tak harus mahal. Ajarkan anak kreatif dengan bahan-bahan dapur atau apapun yang tersedia di rumah. Belajar dari ibu-ibu senior, anakku bisa main dengan sendok, gelas plastik, botol bekas, mengaduk-aduk bekas perasan wortel, menyusun sayuran buncis, memindahkan isi toples kue, atau memetik bunga dan buah.

Semu jadi mainan. Botol bekas, hp rusak, jepitan kain, lipstik yang sudah habis dll.

Semu jadi mainan. Botol bekas, hp rusak, jepitan kain, lipstik yang sudah habis dll.

Selain itu, aku tidak membuang kertas bekas hasil ujian siswaku. Bagian belakangnya bisa dipakai anakku untuk menggambar benang kusut (satu-satunya gambar andalannya saat ini) atau melipat-lipat kertas. Apapun, bisa jadi mainan.

7. Jangan mubazir

Sisa makanan bisa dioper ke ayam. Baju usang bisa jadi lap dapur. Kantong kresek bisa dipakai lagi. Hemat air, listrik dan semua kebutuhan. Selain menyelamatkan isi dompet, kita juga menyelamatkan alam. Sebisa mungkin mendaur ulang apa yang masih bisa dimanfaatkan.

8. Pada porsinya

Ada saat kita harus hemat, dan ada saat yang mengharuskan kita untuk membelanjakan uang. Bukankah uang itu memang untuk dibelanjakan?Manfaatkan semua pada porsinya. Jangan mentang-mentang harus irit bensin, rela jalan kaki padahal boros waktu. Gara-gara irit jatah makan, rela  menahan lapar. Ingin irit bayar tiket, rela jadi penumpang gelap (lho??). Irit dan pelit itu beda jauh. Kalau irit, memaksimalkan pemakaian yang ada. Kalau pelit, meminimalkan pemakaian yang ada. Padahal sama-sama “ada”, kenapa tidak dimanfaatkan?

Intinya, belajar menjadi pribadi bijak dengan tidak lapar mata. Masa depan keluarga ada di tangan kita. Nikmati hidup, jangan tersiksa dengan tradisi irit dalam keluarga. Ambil posisi di pertengahan, tidak pelit dan tidak boros. Ada yang mau menambahkan?

“Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway Irit tapi Bukan Pelit yang diadakan oleh Kakaakin”

http://try2bcoolnsmart.files.wordpress.com/2014/01/giveaway-irit-tapi-bukan-pelit.jpg?w=360&h=128

Iklan

19 thoughts on “Tips Irit Ibu Erte

  1. Setuju banget tuh sama yang beli lusinan. Karena memang lebih murah ya. Kalo saya sih masih belanja buat diri sendiri. Biasanya underwear (CD) dan jilbab yang saya beli dengan harga grosiran. Kadang juga join sama teman 😀

    Terima kasih sudah ikutan GA Irit tapi Bukan Pelit. Sudah tercatat sebagai peserta 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s