Akhir Pencarian

Pencarian jodohku mirip kisah Setiana dalam novel Mitzaqan Ghalizaa (Perjanjian yang Kuat) karya mbak Leyla Hana. Penuh liku dan air mata (halaaah….)  Sebelum bertemu jodoh, aku diuji dengan beberapa calon yang aneh-aneh. Ini kisah nyata, bukan rekayasa. Kadang aku merasa hidup di dunia sinetron yang penuh ratusan kejutan. Sebagai anak sulung, aku takut dilangkahi adikku yang jarak umurnya cuma 16 bulan dariku. Aku merasa tertekan karena belum bertemu pujaan hati. Aku lelah dan sering sensitif setiap ditanya “kapan menikah?”

Umurku saat itu sudah 29 tahun. Disaat teman sebayaku sibuk dengan anak-anaknya, aku cuma sibuk dengan buku-buku untuk mengajar. Dan beberapa muridku adalah anak dari teman sekolahku dulu. huhuhu… rasanya ingin nyungsep ke bumi, waktu temanku menitipkan anaknya ke kelasku dan bertanya lugu “anakmu sudah berapa orang?”

Malam-malamku penuh doa dan harapan agar segera bertemu jodohku. Gugling mencari cara cepat bertemu jodoh. Sedekah, shalat hajat, menitip doa pada orang shaleh, menyantuni anak yatim kulakukan sambil terus berdoa. Tapi rasanya jodoh itu semakin jauh.

Akhirnya aku pasrah. Aku menyerahkan semua pada keputusan Allah. Mungkin doaku terlalu memaksa. Jodoh itu masalah orang dan waktu yang tepat. Mungkin belum ketemu orangnya, mungkin memang belum waktunya. Aku tenggelamkan diri dalam kesibukan mengajar lagi. Berusaha melupakan soal jodoh. Menikmati masa-masa jomblo dengan teman sesama jomblo.

Tapi apa yang terjadi? Allah Maha Besar. Di saat aku pasrah, berdatangan beberapa calon berentetan. Aku bingung memilih yang mana. Tapi hati kecilku berkata, salah diantara calon itu adalah jodohku. Ada keyakinan yang aku tak tahu datangnya dari mana.

Ternyata, memilih itu capek. Satu demi satu calon dieliminasi. Namun masih belum berbuah. Datang lagi dan datang lagi calon yang baru. Akupun merubah doaku. “Ya Allah, jika dia bukan jodohku, tolong jangan pertemukan kami.” (istilah halusnya takut ngarep). Allah selalu mengikuti persangkaan hambaNya. Yang bukan jodohku minggir.

Ada beberapa kisah menggelikan dalam pencarian jodohku. Beberapa calon konyol dan kita sebut saja mereka dengan nama samaran.

1. Lelaki Hujan

Judulnya serem amat. Lelaki ini dijodohkan oleh temanku. Masih saudaranya. Ada sedikit rasa enggan untuk bertemu. Tapi saudaranya maksa. “Kalau nggak jadi nggak papa kok.” katanya. Akhirnya dengan berat hati aku berusaha menemui di tempat yang sudah ditentukan. Sebelum berangkat,  yang terjadi adalah : hujan turun mendadak. Aku langsung bilang ke temanku kalau dia bukan jodohku. Karena dihalangi hujan. Hari itu hujan turun sampai sore. Janjian diundur pada waktu lain. Dan lagi-lagi hujan. Aku yakin, Allah menjawab doaku. Dia bukan jodohku.

2. Kita Tanggung Bersama

Rasanya ingin menimpuk lelaki yang ini. Seorang ikhwan yang ngebet nikah dini. Beda 4 tahun di bawahku. Kuliahnya belum tamat. Dan dia mau meminangku saat pertama kali dipertemukan. Alasannya, aku sudah bekerja. Dan kebutuhan rumah tangga kita tanggung bersama. Aiiih… aku langsung pamit dengan manis. Dadah babay deh laki-laki tak bertanggung jawab.

3. Perhitungan

Perempuan mengharapkan suami yang royal, dan laki-laki mengharapkan istri yang hemat. Tapi apa jadinya kalau si lelaki kantongnya dijahit? Aku pernah bertemu calon si super pelit. Tak malu-malu bilang lagi bokek. Minta dibayarin makan. Dan tanpa malu bilang ke ortuku kalau nanti kami menikah, aku dititip di rumah ortu, dan dia merantau sendirian mencari uang. “Soalnya kalau merantau bawa istri dan pulang kampung bareng anak-anak, ongkosnya gede, pak.” Gubrak….!! Syukurlah aku tak berjodoh dengannya.

Aku sudah hampir menyerah. Dari sekian calon, kebanyakan nyeleneh semua. Masih ada harapan. Korek-korek lagi informasi dari yang belum dieliminasi. Dapat satu yang terbaik diantara yang baik. Dari informasi teman, orangnya baik dan punya penghasilan mapan untuk berkeluarga. Mudah-mudahan ini yang terakhir. Aku tak ingin ada calon baru lagi yang meragukanku.

Ada rasa yang sedikit berbeda, aku tak terlalu ngotot untuk bertemu dengannya. Itulah jodoh. Tak ada paksaan sedikitpun. Dia menunjukkan keseriusan untuk menikahiku. Dia menemui orangtuaku, dan meminta izin untuk mempertemukanku dengan orang tuanya. Dia terlahir dari keluarga sederhana. Tidak neko-neko. Aku sempat ditinggalkan hanya berdua dengan ibunya. Saat itulah aku ingin lebih mengenal calon suamiku. Perkataan seorang ibu, menjadi andalan buatku. Aku percaya dengan informasi langsung dari ibunya.

Hanya dalam bilangan bulan, kamipun menikah. Kami masih di pelaminan, tiba-tiba dia turun menemui ibunya, memeluk ibunya dan meneteskan air mata. Aku bingung sekaligus takjub. Dia sangat sayang ibu dan mengekspresikan dalam pelukan. Beberapa saat berpelukan, lalu dia keluar mencuci muka. Ibunya menghampiriku dan bilang, “kalau dia pulang, sering peluk ibu sambil meneteskan air mata.” Waaa… anak emak. Lelaki baik. Aku merasa sangat beruntung menjadi istrinya.

Suamiku bukan seperti lelaki hujan, dia tidak pelit dan penuh tanggung jawab. Alhamdulillah… Inilah rahasia Allah. Kita dipertemukan dengan orang yang salah, sebelum bertemu dengan orang yang benar. Bersyukur dengan keadaan saat ini, karena jodoh itu rahasia Allah. Memang Allah selalu tahu yang terbaik. Dia yang terbaik buatku, aku yang terbaik buatnya. Semoga jodoh kami langgeng, sakinah mawaddah wa rahmah, hanya maut yang memisahkan, dan bertemu lagi di sorga-Nya. Aaamiiiin….

“Tulisan ini disertakan dalam Giveaway Novel Perjanjian yang Kuat.”

Iklan

28 thoughts on “Akhir Pencarian

  1. uwaa… kisahnya >.<
    ada yang bilang harus bertemu dengan orang yang salah dulu sebelum bertemu yang tepat.
    alhamdulillah berjodoh dengan lelaki yang terbaik ya mbak~

  2. Subhanallah, saya juga sedang dalam pencarian yg panjang, mbak…sampe skrg juga belum ketemu, terkadang timbul perasaan putus asa, namun saya masih ingin trus mencoba dan mencoba…..,, inspiratif mbak…salam kenal ya…:)

    • Hahaha… yang komen belum siap nikah. Ayub punya orangtua kan? Naaah… mereka aman-aman aja tuh menjalani rumah tangga. Kelak Ayub juga begitu. Siapkan diri dari sekarang ya 🙂

      • heheh mungkin mba, tapi saya tidak bisa membayangkan menanggung hidup orang lain,
        hidup sendiri aja masih luntang pukang kukang kayang gini 😀

  3. Ingat kisahku jg… Hihi…banyak kisah sedih kayak film india sblm ktemu jdoh sebenarnya…alhamdulillah ya wit, ternyata ALLAH maha penyayang pd hamba Nya yang sabar..:)

  4. Ardi Setiawan berkata:

    Subhanallah sunguh mengharukan sekali kisah ini kak 🙂 memang benar kalau sudah jodoh ya ndak akan kemana, walaupun kita ketahui bahwa saingan di mana-mana, namun jika dia sudah di takdirkan menjadi milik kita inshaa allah pasti akan bertemu di waktu dan tempat yang tepat 🙂 dan saya sendiri ini juga masih galau dan ikhtiar menjemput jodoh saya, saya mahasiswa unnes semester 1, kebetulan Allah pertemukan secara tak sengaja dengan sosok wanita yang cantik dan akhlaknya baik, tak lama kemudian kami cepat akrab, namun ya begitulah di saat saya mengungkapkan cintaku padanya,tepatnya di rumahku saat kami berdua ngerjain tugas tiba-tiba dia menjawab bahwa dia di larang pacaran sama ortu, namun begitu saya tak putus asa, saya pun berkata bahwa akan segera mensukseskan diri dan segera meminangnya, dan Alhamdulillah dia menjawab kalau dia mau menungguku, ya mudah-mudahan dia adalah jodoh yang telah Allah siapkan untukku..aamiin 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s