Sehari Tanpa Gadget : Pasti Bisa

Gadget sudah jadi kebutuhan sehari-hari di zaman sekarang. Sudah tak aneh lagi anak muda jalan sendiri sambil senyum-senyum, kuping pake headset, lupa waktu, tak sadar waktu disapa (maklum, budek sementara), dan kurang memperhatikan sekitar. Bahkan dalam keramaianpun matanya masih fokus ke gadgetnya, kadang joget sendiri.

Positifnya, gadget membuat komunikasi gampang dan murah. Negatifnya, “semut di seberang lautan nampak, gajah di depan mata tak tampak.” Kadang bikin kesal kalau kita sedang bicara dengan seseorang, dia cuma iya-iya sambil senyam senyum dan matanya melirik gadget. Beuh, gadget penting banget ya? Bagaimana rasanya kalau sehari tanpa gadget?

Mungkin kalau terpaksa baru bisa kali ya? Aku sendiri, kalau kerjaanku sudah beres, otomatis aku pegang gadget lagi. Sibuk di dunia maya. Satu jam rasanya sebentar. Aku baru bisa berhenti kalau anakku bangun atau ada pekerjaan penting banget. Setelah itu, pegang gadget lagi. Sambil masak, sambil makan, pokoknya kalau tak bisa fokus, pasti nyambi. Komunikasi di dunia maya itu bikin ketagihan. Selalu ada info baru. Takut ketinggalan. Walau seringnya kebablasan Cuma bahas hal lucu-lucuan di sosmed.

Aku tinggal di dekat pesantren. Santrinya dilarang bawa gadget.Di asrama hanya menyediakan HP untuk menerima panggilan dari keluarga. Waktunya dibatasi, tak bisa curhat atau sekedar melepas rindu. Yang penting-penting saja. Setelah itu, kembali ke aktifitas pesantren. Belajar, menambah hafalan, menambah kosakata Bahasa Arab. Sepertinya menjemukan ya?

Pernah aku heran melihat seorang santri berjalan sambil komat kamit. Ternyata dia sedang mengulang hafalan Al-Qur’an. Saluuuut… Anak muda yang disibukkan dengan ayat suci dan tidak kenal sosmed yang sering menghabiskan waktu. Aku ingin menyekolahkan anakku kelak di pesanten itu. Padahal dulu aku juga sekolah disana, cuma waktu itu kualitasnya belum sebagus ini.

Bagi anak muda, gadget adalah kebutuhan primer. Padahal kalau kita bijak menggunakannya, gadget tak akan menguras waktu dan menghabiskan biaya. Seperti santri yang kuceritakan tadi, kalau dia lengket dengan gadget, mungkin hafalannya tak maju-maju. Pastilah dia punya gadget, santri di pesantren ini kebanyakan anak elit. Kebijakan pesantren membuat siswanya harus memanfaatkan waktu untuk hal positif.

Sekarang coba jadikan kita seolah-olah anak pesantren. Batasi  penggunaan gadget. Timbang berapa banyak positif negatifnya. Santri bisa berhari-hari tanpa gadget, masa kita kalah? Manfaatkanwaktu tanpa gadget untuk hal positif. Asal ada niat, pasti bisa tanpa terpaksa.

Tulisan ini ikutan GA keren Sehari Tanpa Gadget di Blog Keajaiban Senyuman Lhooooo 🙂 😀

Iklan

12 thoughts on “Sehari Tanpa Gadget : Pasti Bisa

    • Klo aku ga suka game mbak. Soalnya klo ngerti satu game, bawaannya pengen tuntas sampai akhir. JAdinya butuh waktu berhari2 buang2 waktu. Mending ikut kontes #eh?? 🙂

  1. iya tuh… kalo di pesantren,yang pegang HP wali asrama doang…., tapi salut banget buat mereka.. tanpa gadget bisa ngelakuan banyak hal yang positif…, menghafal ayat..atau kegiatan eskul lainnya.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s