My First Salary, Belajar Menjadi Malaikat

Aku mulai bekerja tahun 2006, mengajar di SD terpencil. Bukan PNS, hanya guru honor daerah. Perjalanan dari rumah ke lereng gunung memakan waktu kira-kira ½ jam, karena harus naik angkot disambung ojek ke tempat mengajar.Sudah pasti lelah. Tapi karena ini pekerjaan pertama, aku melakukannya dengan semangat.

Pegawai honor gajinya tidak selalu tiap bulan. Dirapel. Harus berhemat buat bayar ongkos ojek yang lumayan mahal. Untunglah waktu itu  aku masih single, masih sama ortu. Tak perlu memikirkan biaya makan dan tempat tinggal.

Ini sekolahnya, di lereng Gunung Singgalang

Ini sekolahnya, di lereng Gunung Singgalang

Akhirnya saat yang ditunggu tiba. Gajian. Aku menerima Rp. 1.380.000,-. Jumlah itu untuk 3 bulan mengajar. Karena gajiku dirapel. Aku sangat mensyukuri menerima uang dalam jumlah sebanyak itu. Pertama kali menerima di atas satu juta. Ibuku bilang bagikan uang itu sebagian kecil. Aku mulai mencari orang yang pantas mendapatkan gaji pertamaku.

Aku ingat waktu itu bulan puasa, seorang ibu curhat tidak sanggup membelikan 3 anaknya baju lebaran. Penghasilan suaminya yang hanya seorang tukang bangunan selalu habis untuk kebutuhan sehari-hari.

Aku membeli 3 baju untuk anak ibu itu. Tiba-tiba aku ingat orang yang mengerjakan sawah ayahku juga butuh dibantu. Dia punya 2 gadis kecil. Kubeli lagi 2 baju anak-anak. Aku tak hitung berapa uang kuhabiskan untuk itu, aku hanya merasakan lega luar biasa, aku sudah menjadi orang baik. Tak sedikitpun niat untuk pamer. Aku hanya berbagi kisah, memberi itu membahagiakan.

Setelah itu aku membeli jilbab buat ibuku dan tanteku, kurma untuk berbuka, memberi  adikku uang buat jajan, sisanya aku lupa. Pokoknya gajiku tidak ludes semua. Masih ada sisa buat ditabung, masih ada buat ongkos ojek 3 bulan ke depan.

Aku menyukai pekerjaanku. Sampai sekarang aku masih mengajar di tempat itu. Aku sudah biasa dengan pakaian kucel dan penampilan tak rapi anak-anak di sana. Perjalanan jauh dari rumah menuju sekolah membuat sepatu mereka selalu berlumur lumpur. Apalagi kalau hujan. Perjuangan menjadi guru di daerah terpencil harus ikhlas. Mereka tak sama dengan anak kota. Ada beberapa kesulitan untuk mengajar di sana. Tapi semua harus kulalui.

Sampai sekarang, aku membiasakan diri bersedekah setiap kali menerima gaji. Sedekah itu membuka pintu rezeki dan menentramkan. Insya Allah.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Berbagi Inspirasi bersama First Salary yang diadakan oleh www.wamubutabi.blogspot.com

Iklan

16 thoughts on “My First Salary, Belajar Menjadi Malaikat

  1. sipp.. aku suka dengan guru yang orientasinya bukan uang, melainkan ketulusan mereka dalam mengajar, membagi ilmunya..
    tetap semangat ya Mba..

    Makasih udah ikutan GA ini ^^

  2. Mirna Puji Rahayu berkata:

    Sungguh suatu pekerjaan yang hebat sekali, menjadi guru honorer di daerah gunung singgalang…
    terus semangat berbagi ilmu ya mba….. Salam Kenal….. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s