DEAR NURUL, PERI KECIL BUNDA

Nurul..

Kamu ada setelah 6 bulan penantian bunda. 6 bulan terasa sepi, hanya ada ayah dan bunda. Kami sudah sering membayangkan kamu segera hadir. Rasanya sangat bahagia, begitu bunda tahu kamu ada di rahim bunda. Bunda sangat hati-hati menjagamu. Meskipun bunda banyak merasakan hal yang tidak enak. Bunda sering muntah, tak nafsu makan, dan badan bunda lemas. Tapi bunda kuatkan diri. Bunda ingin punya bayi.

Bunda rela harus istirahat dari pekerjaan. Bunda harus sering tiduran, karena dokter yang menyarankan. Kondisi bunda lemah. Sempat keluar sedikit darah. Waktu itu bunda takut sekali, nak. Bunda merasa ini adalah akhir dari segalanya. Bunda teringat sahabat bunda yang tidak jadi hamil karena keluar darah. Tapi kamu kuat, nak. Kamu bertahan di rahim bunda, meskipun bunda harus istirahat total.

Bunda sering dimanja oleh ayahmu. Kamu adalah anak pertama yang sangat dinanti-nanti. Kamu juga cucu pertama dari kakek nenek. Semua mengkhawatirkan keadaan bunda. Bunda tidak boleh bekerja berat. Semua itu karena semua sangat menantikanmu, nak.

Foto-foto USG

Foto-foto USG

Bunda selalu rutin cek ke dokter. Memantau perkembanganmu. Mendengarkan detak jantungmu. “Semua normal” kata dokternya. Dan ayah bunda tersenyum lega. Kami suka melihatmu di layar waktu USG. Kamu melambaikan tangan pada ayah dan bunda. Tak sabar rasanya segera berjumpa. Sampai di rumah, ayah bicara di perut bunda. Kamu merespon dengan tendangan lembutmu. Ayah selalu bersemangat setiap kali dia mengajakmu bicara, dan dan kamu menendangnya. Setelah itu ayah akan memaksa bunda makan yang bergizi. Agar kamu kuat.

Setelah 9 bulan penantian, saatnya kamu dilahirkan. Perkiraan lahirmu, tanggal 17 Agustus 2012. Hm.. Tanggal cantik. Tapi bunda tak mematok tanggal itu. Yang penting kamu selamat. Kapanpun kamu lahir, semua itu sudah ditentukan Allah.

Ternyata tanggal 16 Agustus 2012, bunda merasakan mulas. Tanda lahir sudah keluar. Artinya, beberapa saat lagi kamu akan lahir. Rasanya gembira sekaligus gemetar. Bunda segera mengajak ayah ke rumah sakit. Tapi kata nenek belum boleh. Karena bunda belum merasakan kontraksi, tanda bayi akan dilahirkan.

Semalaman menunggu kontraksi, kamu hanya sesekali menendang. Sampai keesokan hari, belum terasa sakit berulang-ulang seperti wanita akan melahirkan pada umumnya. Tapi kontraksi yang sesekali itu terasa sakit. Bunda tak tahan. Akhirnya bunda dibawa ke rumah sakit Ibnu Sina Bukittinggi.

Kontraksi semakin banyak, tapi ketuban belum juga pecah. Bunda menjerit-jerit kesakitan. Ayah bingung tak tahu apa yang harus dilakukan. Sampai pagi harinya, bunda sudah tak tahan. Rasanya sangat sakit. Dan bunda dibawa ke kamar bersalin. Bunda tak sanggup berjalan, terpaksa pakai kursi roda.

Kerena ketuban belum juga pecah, dokter memecahkan ketuban bunda. Ternyata ketubannya berwarna hijau. Kamu bisa keracunan, nak. Bunda belum mengerti apa-apa waktu itu. Yang bunda tahu, dokter hanya menanyakan apa selama hamil, bunda sering demam? Bunda memang sering demam. Dokter memantau detak jantungmu. Tak beraturan. Bunda melihat wajah cemas dokter dan perawat. Lalu Dokter mengajak ayah bicara. Kata dokter, bunda harus segera dioperasi, karena khawatir akan keselamatan kamu. Takut kalau kamu kelamaan di jalan lahir.

Ruangan bersalin sibuk dengan perawat yang memasang infus dan memeriksa bunda. Operasi darurat. Dokternya sampai marah ada perawat yang bertindak lamban. Situasi gawat. Bunda semakin merasakan sakit. Setelah itu bunda didorong ke kamar operasi. Ayah mengikuti sampai pintu. Ayah tak diizinkan masuk. Ayah sangat cemas, tapi bunda bisa tenang. Karena bunda dibawa ke ruangan yang sama waktu bunda operasi usus buntu dulu. Bunda sudah kenal ruangan ini. Bunda tidak takut operasi. Bunda sudah menyiapkan diri.

Di dalam ruangan, bunda mendengar musik yang membuat bunda rileks. Bunda dibius lokal. Artinya, bunda tidak merasakan apa-apa dari perut ke bawah. Bunda dalam keadaan sadar. Dokternya mengajak bunda bicara. Hanya beberapa menit, sampai terdengar bunyi tangisanmu.

“Itu dia dokter?” tanya bunda

“Iya bu. Kita bersihkan dulu bayinya ya. Selamat bu. Bayi ibu perempuan..” kata dokternya.

Bunda tak sabar ingin segera melihatmu. Dan setelah perawat membawa kamu ke hadapan bunda, bunda terharu. Bunda menciummu. Airmata menitik di sudut mata bunda. “Cantik…” puji bunda.  Setelah itu kita berpisah. Kamu segera dibawa ke inkubator.  Setelah itu bunda tertidur.

Nurul di Inkubator

Nurul di Inkubator

Beberapa jam setelah itu, baru kamu dibawa ke hadapan bunda. Bayi cantik bunda, peri kecil bunda sudah di hadapan bunda. Rasanya tangisanmu adalah suara terindah bagi bunda. Dan saat pertama menyusuimu, bunda sangat bahagia. Bunda sudah sempurna menjadi seorang wanita. Menjadi ibu dan menyusui bayi. Alhamdulillah..

Nurul baru lahir.

Nurul baru lahir.

Kamu lahir sehari sebelum lebaran. 18 Agustus 2012. Ayah dan bunda menamaimu NURUL SYALIA FITRI. Artinya cahaya penghibur hati yang suci. Walaupun Nurul lahir bukan di  hari yang Fitri, tapi ayah tetap memakaikan nama fitri untukmu. Semoga nurul selalu fitri.

Anak adalah ujian. Termasuk Nurul. Ayah bunda diuji oleh Allah ketika kamu sakit dan harus dirawat. Efek ketuban hijau mungkin ada. Mungkin juga udara Bukittinggi yang dingin kurang cocok bagi tubuh mungilmu. Kamu sesak nafas dan harus dirawat beberapa hari di rumah sakit. (Bunda tak tega memasang fotomu waktu dirawat di sini. Tak ingin terulang lagi, tubuh mungil dipasangi selang infus dan oksigen.) Biarlah semua yang sudah terjadi. Yang penting sekarang bayi bunda sehat kembali.

Ulang tahun pertama

Ulang tahun pertama

Sekarang sudah 13 bulan usiamu. Gigimu sudah 8 buah. Suka menyuapkan makanan ke bunda. Suka ganti-ganti sepatu dan jilbab. Anak bunda pintar. Sehat terus ya nak.. Kehadiranmu membuat bunda bersyukur tak terhingga kepada yang kuasa. Kamu adalah keajaiban, kamu adalah bukti kebesaran Allah. Beribu kalimat tak cukup mewakili cinta bunda kepadamu. Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah..

Peluk dan cinta kami buat Nurul. Ayah dan Bunda.

DSCN2548

***

Meneruskan tongkat estafet dari Mak Novi Mudhakir, yang ternyata sesama orang Minang 🙂 . Dear Daughter adalah ungkapan cinta ibu kepada anak perempuannya, digagas oleh Mak Indah Julianty Sibarani, Mak Sepuh Komunitas Emak-Emak Blogger.

Tongkat estafet selanjutka aku berikan kepada Winda Krisnadefa. Semangat cerita anaknya, mak.. 🙂

Iklan

22 thoughts on “DEAR NURUL, PERI KECIL BUNDA

  1. waa.. terharu baca proses kelahiran Nurul. Sama persis kayak anakku, Mak. Udah kontraksi, tapi bukaan ga kunjung nambah, diperiksa denyut jantung bayi lemah, akhirnya diputuskan operasi. tapi anakku lahir pas tanggal 17 agustus, Mak. hehe. 2011 tapi, beda setahun sama Nurul ya. Sehat selalu yaaa Nurul cantikk. 😉

  2. Jadi berkaca-kaca mak membaca ceritanya. Bunda adalah seorang wanita yang hebat, dengan penuh perjuangan mengandung selama 9 bulan dan setelahnya melahirkan. Tak jarang nyawa jadi taruhannya. Yah…itulah sebuah proses yang harus dijalani oleh seorang wanita yang ingin dipanggil bunda. Sun sayang buat Nurul ya maak…..semoga sehat dan tambah pintar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s