Bersyukurlah

 Manusia seringkali berkeluh kesah. Karena nafsu tak pernah puas. Selalu ingin ini dan itu. Seperti juga aku. Saat tercapai satu keinginan, ada lagi keinginan yang baru. Begitu seterusnya. Sampai merasa bosan, apalah arti hidup kalau cuma mengejar keinginan yang tak pernah puas?

Kita bisa belajar dengan beberapa hal kecil di sekeliling kita. Memandang orang yang “kurang” dari kita, menimbulkan rasa syukur. Bersyukurlah. Karena kamu diciptakan sempurna. Bersyukurlah, karena kamu masih bisa makan. Bersyukurlah, karena kamu masih punya keluarga. Bersyukurlah..!

Dulu aku sering mendengarkan CD Brainwave Katahati Institute. Memasuki zona Alpha, memasang keinginan-keinginan, dan keajaiban pun terjadi. Apapun yang kita pikirkan (positif), Insya Allah terwujud. Catat, bukan karena CD nya. Karena kita mengerti cara menata hati yang baik. Dan kita bisa bersyukur, baru meminta, berdoa. Doa di saat hati tenang dan tanpa keluhan, Insya Allah didengar. Kita belajar pasrah. Untuk lebih lengkapnya, silahkan teman-teman cari sendiri soal ini ya.

CD itu kupakai hanya untuk belajar menata hati. Sekarang tak pernah lagi. Sesekali aku masih sering bolak balik bukunya saat merasa kurang bersyukur, mumet dengan berbagai permasalahan. Cukup intip sedikit, terasa disentil. Dan aku pun kembali. 🙂

Teman, ada yang merasa kurang puas dengan tempat tinggal sekarang? Aku tinggal di rumah yang sempit, tapi aku bahagia. Kenapa? Karena bahagia itu adanya di hati, bukan di rumah. Dan aku lebih bersyukur lagi setelah melihat langsung rumah muridku yang sangaaaaaat sederhana. Jauh berbeda dengan rumah sempitku. Dan syukurku bertambah. Alhamdulillah, aku masih punya rumah yang lebih bagus dari dia. Dan salut, dia sanggup tinggal di rumah sederhana ini. Tanpa listrik. Tanpa kamar mandi. Mengambil air harus berjalan jauh ke mata air. Mudah-mudahan kehidupannya membaik.

Ruang Tamu

Ruang Tamu plus kamar tidur

Meja makan

Meja makan

Dapur, dengan tungku

Dapur, dengan tungku

Bagian luar rumah

Bagian luar rumah

Seandainya aku di posisi dia, mungkin aku tak sanggup tinggal di rumah seperti itu. Tapi dia kuat. Baginya dan beberapa temannya yang senasib, tinggal di rumah kecil adalah hal biasa. Mereka bergembira, bermain, tanpa beban. Karena itu adalah kehidupan mereka. Dan mereka bersyukur dengan kehidupannya.

Teman, sudah bersyukurkah engkau hari ini?

Iklan

8 thoughts on “Bersyukurlah

  1. Subhanallah….
    Saya merasa terpukul sekali, karena selama ini saya selalu complaint dan bertanya kapan kita tinggal di rumah sendiri, meski pun orang tua suami bilang ini bukan rumah Mama tapi rumah kalian, Mama yang nebeng kalian…namun saya kurang bersyukur bisa mendapatkan semua yang saya inginkan.

    Terima kasih sudah memposting ini, Mbak 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s