Dua Puluh Tiga Tahun

Di usia 23 tahun, aku mati-matian berusaha menamatkan kuliah. Jarak umurku dan adik cuma 1 tahun, membuatku takut dilangkahi adik. Aku semester 8, dia semester 6. Bayang-bayang adik terus mengikuti langkah pendidikanku, dari SD sampai kuliah. Ada baiknya juga, bisa memotivasi. Membuatku selalu berusaha meraih rangking. Tapi jeleknya, kalau aku sedang malas, sering menghayal cobaaaa dia lebih kecil 1 atau 2 tahun lagi, aku bisa santai hehe.

Ditakdirkan punya dosen bimbingan super sibuk, membuatku pesimis bisa menamatkan kuliah tepat waktu. Apalagi sang Prof. sering ke luar kota. Aku cuma bisa janji lewat telfon, itupun kadang beliau bisa hadir, kadang tidak. Waktu pengumpulan judul skripsi sudah dekat. Aku nekad meminta supaya Yth. Bpk. Prof digantikan oleh Ketua Jurusan. Apa mau dikata, sang Prof menolak tegas. Dia suruh tunggu, tunggu dan tunggu. Alhasil, belum sempat meletakkan gagang telepon, aku pingsan

Ibu kaget melihatku “tidur” di lantai. Sayup-sayup aku mendengar ibu memanggil-manggil. Aku buka mata. Aku sudah di lantai. Tanganku masih memegang gagang telepon. Langsung aku nangis. Tumpah ruah seluruh perasaan tertekan. Aku bela-belain tamat. Tapi sang dosen tak mau mempermudah.

Keesokan harinya ibuku menemaniku ke luar kota, tempat sang Dosen bekerja. Dengan bantuan Asistennya yang juga kakak kelasku, aku berhasil mendapatkan tanda tangannya. Proposalku disetujui. Bapak yang tadinya bersikeras tak mau disusul, mendadak lunak. Mungkin karena doa ibuku. Allaahu Akbar. Terasa ringan beban semalam. Map berisi tanda tangan dosen kupeluk erat-erat. Ini masa depanku.

Setelah semua beres, baru aku merasakan ada yang aneh di kepalaku. Aku benjol, hiks… Gara-gara terantuk ujung meja. Antingku lepas. Tak tahu lepas dimana. Mungkin nyangkut waktu aku jatuh. Semua penderitaan pingsan semalam, baru terasa setelah masalahku selesai. Nyeri di kepala, perih di kuping, badan sakit-sakit karena terhempas… Duh..

Ah biarlah badan sakit. Nanti juga bisa sembuh. Sekarang ke kampus. Bolak balik sampai kaki pegal. Maklumlah, waktu itu aku belum punya motor. Jalan 200 meter dari rumah menuju jalan utama untuk mendapatkan angkot. Tubuhku semakin kurus. Yang ada di kepalaku cuma tamat. aku tak pedulu keringat, capek, bau.

Alhamdulillah… September 2004 aku sudah meraih gelar sarjana. Novia Erwida, S.HI. Ijazah kebanggaanku. Jadi jalan menuju karirku sebagai guru agama. Aku bangga. Hilang semua rasa capek. Bangga dengan targetku tamat tepat waktu. Dan tak lagi ada beban dibayangi adik. Anak pertama Ibu dan Ayah, sudah jadi sarjana. Alhamdulilah. πŸ˜€

Di Hari Bersejarah

Di Hari Bersejarah

Buat Ayu CitraningtiasΒ  selamat ulang tahun yang ke 23 tahun. Lakukan yang terbaik dalam hidupmu. Semua rintangan adalah hal biasa. Membuat semua hasill tersa lebih manis. πŸ™‚

Tulisan ini diikut sertakan dalam 23 tahun Give Away

23 Tahun giveaway

Iklan

10 thoughts on “Dua Puluh Tiga Tahun

  1. Setiap perjuangan untuk skripsi memang luar biasa. Mbak super sekali sampe nyusul keluar kota. andai mahasiswa jaman sekarang punya semangat seperti mbak πŸ™‚

    Makasih mbak sudah ikutan 23 tahun giveaway πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s